Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) meluruskan pemahaman masyarakat yang salah kaprah tentang dampak Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). BMKG menegaskan OMC bukan pemicu cuaca akhir-akhir ini tidak stabil, justru sebagai upaya mitigasi bencana yang terukur dan berbasis sains.
***
Belakangan, media sosial ramai membicarakan soal OMC yang memiliki risiko menimbulkan bencana lain jika dilakukan terus-menerus. Mereka menduga OMC menyebabkan kondisi cuaca yang tidak stabil hingga membentuk cold pool atau kolam dingin.
Narasi itu pun terus berkembang, ada yang mengira bahwa OMC dapat memindahkan atau menumpuk air di wilayah tertentu, sehingga mengakibatkan banjir besar dan memberikan rasa aman yang palsu. Menanggapi tudingan tersebut, BMKG menegaskan bahwa kolam dingin merupakan fenomena meteorologi yang sepenuhnya alami.
“Fenomena ini terjadi saat air hujan menguap di bawah awan badai, mendinginkan udara, dan menciptakan massa udara padat yang jatuh ke permukaan,” ujar BMKG dikutip dari keterangan resmi, Rabu (28/1/2026).
Seyogianya, setiap kali terjadi hujan secara alami–tanpa campur tangan manusia, cold pool pasti terbentuk secara alami. Dengan kata lain, Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) adalah respons paralel terhadap penurunan daya dukung lingkungan dan meningkatnya ancaman perubahan iklim.
OMC tidak memicu cuaca jadi kurang stabil
BMKG berujar mengaitkan fenomena ini sebagai efek samping yang berbahaya dari Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) adalah kekeliruan sains. Musababnya, OMC dengan teknik penyemaian awan (cold seeding) tidak menumbuhkan awan baru dan hanya bekerja pada awan yang sudah ada di alam.
BMKG menegaskan bahwa implementasi OMC bertujuan murni untuk mitigasi bencana dan perlindungan masyarakat dengan menambah atau mengurangi curah hujan–bukan pemicu cuaca tidak stabil. Jika OMC berhasil mempercepat turunnya hujan secara logis, jelas BMKG, OMC akan membentuk cold pool yang identik secara fisik maupun kimiawi dengan cold pool dari hujan alami.
“Dari skala energi pun, tidak bisa dibenarkan. Ditinjau dari skala energi, teknologi manusia saat ini belum mampu menciptakan massa udara dingin dalam skala besar,” kata BMKG.
Menurutnya, manusia hanya memicu proses alami pada awan yang sudah jenuh (seperti yang dilakukan melalui modifikasi cuaca di Indonesia), alih-alih membangun sistem pendingin atmosfer raksasa.
Pemindahan hujan ke wilayah tetangga sudah dipikirkan matang
BMKG pun menjelaskan dugaan masyarakat tentang “memindahkan hujan ke wilayah tetangga dan berpotensi membuat banjir”. Menurutnya, ada dua metode utama yang digunakan untuk melindungi wilayah strategis.
Pertama, Jumping Process Method, di mana tim Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) mendeteksi suplai awan dari laut (Laut Jawa/Samudra Hindia) menggunakan radar dan menyemainya sebelum mencapai daratan agar hujan jatuh di perairan.
Kedua, Competition Method, ialah awan yang tumbuh langsung di atas daratan (in-situ). Di mana penyemaian dilakukan sejak dini untuk mengganggu pertumbuhan awan–tidak menghilangkan agar tidak menjadi awan Cumulonimbus yang masif. Hal ini dilakukan untuk meluruhkan intensitas hujan, bukan memindahkannya ke pemukiman lain.
Meskipun demikian, BMKG menyepakati bahwa kemampuan lingkungan dalam merespons air hujan yang jatuh menjadi faktor penting terjadi atau tidak terjadinya banjir. Pun, fakta hilangnya sekitar 800 situ di Jabodetabek sejak 1930-an menjadi faktor utama kurangnya daerah resapan dan berpotensi menjadi pemicu banjir.
Upaya mitigasi bencana yang terukur
Pada akhirnya, BMKG sepakat bahwa penataan lingkungan sebagai respons terhadap penanganan banjir menjadi hal paling utama yang harus dilakukan baik oleh pemerintah maupun masyarakat secara keseluruhan.
Namun demikian, pada saat bersamaan secara paralel juga diperlukan upaya mengurangi curah hujan seperti Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) agar bisa diterima oleh kondisi lingkungan saat ini.
Ke depan, kata BMKG, penataan lingkungan harus terus dilakukan dan penguatan kapasitas modifikasi cuaca juga harus ditingkatkan. Karena tantangan perubahan iklim bukanlah isapan jempol, terlebih potensi terjadinya hujan ekstrem juga akan terus meningkat.
“Pun, tidak ada kepentingan logis bagi pemerintah untuk menciptakan cuaca buruk yang merugikan ekonomi atau membahayakan warga. OMC adalah alat bantu untuk mengelola risiko cuaca di tengah keterbatasan daya tampung lingkungan,” ucap BMKG.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Rekayasa Cuaca: Agar Curah Hujan Tinggi Tak Kenai Semarang Terus hingga Banjir atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
