Perjalanan saya ke taman-taman Kota Semarang terasa bermakna. Terutama saat saya berteduh dan berbincang bersama warganya di Taman Pandanaran dan Taman Indonesia Kaya. Banyak “percakapan daging”.
***
Saat pertama kali ke Kota Semarang, saya langsung jatuh cinta pada kota ini sebab suasananya tak jauh berbeda dengan Surabaya, tempat lahir saya. Bahkan hawa panasnya pun serupa, sama-sama bikin keringatan. Beruntungnya, Kota Semarang memiliki banyak taman kota.
Cocok untuk berteduh, bermain, rekreasi, cari ide, atau sekadar istirahat dari hiruk-pikuk pekerjaan. Tak sulit bagi saya mencari taman kota di Semarang, sebab taman tersebut tersebar di beberapa titik, bahkan ada yang jaraknya berdekatan.
Salah satunya, Taman Pandanaran yang dulu adalah tempat SPBU. Meski tak terlalu luas, tapi suasananya cukup rindang, sejuk, dan ramai. Saya pun pergi ke taman tersebut pada Jumat siang (26/9/2025) bersama salah satu kru Mojok lainnya, sekadar untuk bersantai.
Di sana, saya melihat beberapa orang mengenakan seragam karyawan yang sedang bercengkrama sambil makan siang. Duduknya setengah melingkar. Saya pun memilih duduk di sebelah bapak-bapak yang asyik ngobrol dengan dua orang rekan kerjanya.
Sesekali ia menyeruput es teh di tangan. Suaranya tak terlalu keras, tapi mampu untuk membuat telinga saya tak sengaja menguping.
“Watduh, aku mau mek entek selawe (watduh, aku tadi hanya menghabiskan 25)” kata Bapak itu sambil membawa selembaran brosur bertuliskan “Pengiriman Express Lumpia Khas Semarang”.
“Mbak e mau ndak Mbak? (Mbaknya mau nggak Mbak?” kata dia tiba-tiba, menyodorkan brosur itu kepada saya. Saya pun agak terkejut dibuatnya, tapi saya terima saja untuk basa-basi.
“Mbak e orang mana to (Kamu asalnya di mana?).”
“Oh, saya dari Jogja, Pak,” jawab saya.
“Oh, ke sini jalan-jalan?”
“Betul. Bapaknya lagi santai sajakah di taman?”
“Iya Mbak, istirahat jam kerja. Saya habis bagi brosur ini tadi di lampu merah sana (Jalan MH Thamrin),” kata bapak itu yang baru saya tahu namanya adalah Boni atau akrab dipanggil ‘Pak Bo’ (57).
Berteduh dari panasnya Kota Semarang

Boni baru setahun ini bekerja sebagai pembagi brosur. Boni yang hanya lulusan SMP berujar akhir-akhir ini semakin sulit mencari pekerjaan yang mapan. Dulu, ia bekerja di sebuah toko pigura yang ada di Jalan Mataram, Semarang. Namun kian hari, omsetnya terus menurun.
Setelah 14 tahun menjalani profesi tersebut, Boni akhirnya berhenti dan bekerja sebagai pembagi brosur. Meski gajinya tak seberapa, setidaknya ia bisa mendapat upah yang pasti setiap harinya.
Sehari-hari, Boni berangkat sejak pukul 07.00 WIB dari rumahnya yang berjarak 20 menit dari Taman Pandanaran. Lalu mulai membagikan brosur sampai 12.00 WIB, istirahat 30 menit di taman Kota Semarang, dan lanjut sampai 14.00 WIB.
“Nggak kuat Mbak, panase (panasnya) Semarang ra (nggak) umum,” kelakar Boni sambil menyeka keringatnya di pelipis, “nggak banyak juga loh, orang yang kuat kerja kayak gini. Panas-panas, pusing,” lanjutnya.
Oleh karena itu, Boni merasa beruntung bisa ditempatkan di Jalan MH Thamrin yang tak jauh dengan Taman Pandanaran, sehingga ia bisa mencari tempat teduh. Kadang-kadang, teman kerja Boni juga mengunjungi dia setelah bekerja.
“Ini titiknya sudah ditetapkan di sini sama bos, ada pembagiannya. Teman saya ini kebagian di Simpang Lima, terus dia ke sini karena brosurnya sudah habis. Maklum, di sana lebih ramai tapi ya saya bersyukur karena di sini dapat tempat enak,” tutur Boni sambil menunjuk teman di sebelahnya.
Menepi dari hiruk pikuk pekerjaan
Semangat Boni dalam bekerja tak terlepas dari motivasinya membahagiakan keluarga. Setidaknya, uang yang ia hasilkan saat ini mampu memenuhi kebutuhan hidupnya bersama sang istri. Sementara, anak-anaknya sudah bekerja.
“Wong saya ini pejantan tangguh anak dua kok Mbak, jadi harus selalu semangat. Keluarga adalah segalanya bagi saya,” kata Boni.
Baca Halaman Selanjutnya
Taman kota jadi pilihan orang tua rekreasi selain ke mal
Boni adalah satu dari pejuang pundi-pundi rupiah yang saya temui di Taman Pandanaran. Taman yang punya patung ikonik bernama “Warak Ngendog” itu menjadi saksi keringat warga Kota Semarang menjalani hidup dengan rukun.
Sebagai informasi Patung Warak Ngendog adalah makhluk rekaan yang menggambarkan naga, unta, dan kambing. Hewan-hewan itu juga menjadi simbol keragaman etnis dan budaya di Semarang, di mana ada tiga etnis di Semarang yang hidup guyub hingga sekarang yakni Tionghoa, Jawa, dan Arab.
Selain patungnya yang ikonik, Taman Pandanaran juga memiliki air mancur yang cocok untuk menghibur Boni dan masyarakat Semarang yang ingin menepi sejenak dari hiruk pikuk pekerjaan.
Menghabiskan waktu bersama orang terdekat
Tak jauh dari Taman Pandanaran, sebelumnya saya juga mampir ke Taman Indonesia Kaya. Jaraknya sekitar 700 meter dan bisa ditempuh dengan jalan kaki. Suasana Taman Indonesia Kaya lebih rindang dan luas dari Taman Pandanaran.
Selain bisa menikmati angin sepoi-sepoi dan mencuci mata dengan warna yang hijau-hijau, saya juga bisa melihat aktivitas warga Semarang yang dipenuhi dengan keceriaan.
Misalnya, seorang ibu yang sedang asyik memotret anak laki-lakinya dengan latar belakang tumbuhan hias, sekelompok remaja yang asyik mengikuti tren TikTok sambil memakai jas almamater kampus mereka, atau anak-anak yang sedang berlarian di atas panggung outdoor.
Tak jauh dari anak-anak yang berlarian tersebut, dua perempuan orang dewasa menatapnya dengan gembira sekaligus khawatir jika mereka jatuh lalu menangis.
“Hati-hati ya, Dek,” ujar salah satu dari mereka yang rambutnya sudah beruban.
Namanya Santi (59). Ia sedang menunggu dua orang cucunya yang masih balita. Ia ingin membiarkan cucu-cucunya itu bermain dengan leluasa.
“Senang aja lihat mereka bisa lari-lari sambil ketawa, kalau di rumah, kan tempatnya sempit. Takut ganggu tetangga juga,” kata Santi.
“Saya sama anak saya juga lebih suka di tempat alam seperti ini daripada nungguin mereka di mall, lebih hijau. Di sini juga gratis nggak perlu bayar,” lanjutnya.
Tak lama usai saya berbincang singkat dengan Santi, tibalah sekelompok remaja yang mengenakan selendang tari di pinggang. Mereka pun tampak sedang berlatih diiringi dengan musik jawa. Selain dipakai untuk tari, Taman Indonesia Kaya juga sering digunakan untuk pertunjukkan panggung teater atau pementasan seni lainnya.
Taman-taman ciamik di Kota Semarang
Selain Taman Pandanaran dan Taman Indonesia Kaya, masih ada lagi tempat “healing” yang bisa dikunjungi di Kota Semarang. Misalnya, Taman Srigunting yang berada di tengah Kota Lama Semarang. Lalu, Taman Beringin dan Taman Kasmaran.
Sedikit berbeda dengan tiga taman lainnya yang berada di tengah atau pinggir jalan umum, Taman Beringin terletak di tengah permukiman. Tepatnya di Jalan Taman Beringin, pusat Kota Semarang.
Taman tersebut dilengkapi fasilitas bermain anak, kursi taman, track reflection, free wifi, dan pohon yang teduh. Pohon-pohonnya begitu rindang sehingga nikmat sebagai tempat berteduh di siang hari.
Sementara itu, Taman Kasmaran memiliki bangunan dua lantai, di mana bangunan lantai bawah sebagai tempat wisata kuliner. Sementara, lantai atas biasa digunakan untuk spot foto dengan latar belakang Kampung Pelangi.
Kamu juga bisa berkeliling ke beberapa taman selainnya, yakni Taman Tugu Muda yang tak jauh dari Jalan Pandanaran, Lapangan Pancasila yang berada di Jalan Simpang Lima, Taman Singosari, Taman Siranda, hingga Taman Diponegoro.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Taman Prestasi, Pilihan Main Warga Surabaya yang “Berjarak” dari Kemewahan Mal atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan.