ADVERTISEMENT

Orang-orang yang Ngasih “Jatah Mantan” Sebelum Nikah, Demi Kepuasan dan Tuntaskan Rasa yang Tertinggal

Orang-orang yang Ngasih ‘Jatah’ Mantan Sebelum Nikah, Ingin Tuntaskan Rasa yang Tertinggal MOJOK.CO

Ingin tuntaskan rasa yang tertinggal

Teman saya sendiri, panggil namanya Aben (26), juga pernah nyaris mendapat jatah dari sang mantan.

Lelaki asal Lumajang, Jawa Timur itu mengaku pernah menjalin hubungan dengan soerang perempuan asal Lamongan, Jawa Timur. Keduanya bertemu di sebuah organisasi ekstra kampus di salah satu kampus negeri di Surabaya.

“Hubungan kami nggak lama, tiga bulan mungkin. Tapi memang banyak kenangan karena kami sering travelling berdua ke tempat-tempat indah di Jawa Timur,” kata Aben saat Mojok hubungi baru-baru ini.

Namun, Aben memilih putus karena waktu itu—ia mengaku sendiri—tengah terpikat dengan perempuan lain. Ya meskipun perempuan lain itu pada akhirnya tak bisa ia dapatkan juga.

“Kami masih saling save WA. Mantanku itu sering komen kalau aku update story,” ujarnya.

“Sebulan sebelum nikah, dia ngasih undangan sambil bilang ingin ketemu dan ngajak jalan. Sebagai salam perpisahan. Katanya ada rasa yang tertinggal dan belum tuntas,” akunya.

Akan tetapi, Aben menolak. Karena Aben menilai, kalau tahapnya sudah sampai mau menikah, maka pantang baginya untuk melakukan hal-hal yang berpotensi merusak hubungan orang lain.

“Aku juga nggak datang ke pernikahannya, walapun dapat undangan,” tandasnya.

Menurut Aben, si mantannya itu sudah punya satu anak. Hanya saja, kabar terbaru, per akhir 2023 si mantan tengah mengurus perceraian dengan sang suami.

Reporter: Muchamad Aly Reza
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA: Ketika Muda-mudi Pilih ‘Pacaran Halal’ di Makam Sunan Ampel Surabaya daripada Check-In Hotel!

Cek berita dan artikel Mojok lainnya di Google News

Terakhir diperbarui pada 19 Februari 2024 oleh .

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.