Muhammadiyah ingatkan penggunaan AI atau kecerdasan buatan secara berlebihan dapat membuat orang malas berpikir. Tak sesuai dengan tradisi umat Islam dalam prosesnya mencari ilmu.
***
Patut saya akui, kemunculan kecerdasan buatan atau AI memudahkan saya sebagai pekerja di media. Bahkan tak jarang sebuah media memberikan pelatihan khusus bagi jurnalisnya untuk mempelajari alat-alat AI di Google.
Dengan AI, kami bisa mentranskrip audio menjadi teks secara cepat, melihat trend berita, sampai membuat tulisan investigasi, seperti yang dilakukan media Rolling Stone dalam artikel berjudul “The DJ and The War Crimes”.
AI tak hanya bermanfaat bagi pekerja media seperti saya, beberapa mahasiswa bahkan menggunakannya untuk mengerjakan tugas kuliah. Global Student 2025 dari Chegg mengungkap sebanyak 95 persen mahasiswa Indonesia menggunakan GenAI untuk membantu tugas akademik mereka.
Masalahnya, AI adalah pedang bermata dua. Sama seperti kemunculan gawai pertama kali, ia bisa menjadi candu jika digunakan secara berlebihan.
Sekretaris Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Muhamad Rofiq Muzakkir berujar AI dapat melahirkan kemalasan kognitif di tengah masyarakat, termasuk di kalangan akademisi dan pelajar.
Pencarian ilmu mestinya tidak didapat dari cara yang instan
Sekretaris Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Muhamad Rofiq Muzakkir menjelaskan fenomena kemalasan berpikir (kasal) kini semakin menguat seiring dengan kemudahan yang ditawarkan AI.
Menurutnya, banyak orang cenderung menyerahkan seluruh proses berpikir kepada AI, mulai dari meminta ringkasan bacaan hingga menulis karya ilmiah, bahkan sekadar untuk curhat.
“Apa-apa cukup tanya AI, apa-apa minta dirangkumkan. Dampaknya ini serius,” ujar Rofiq Muzakkir dikutip dari laman resmi Muhammadiyah, Jumat (23/01/2026).
Ia menyoroti praktik pelatihan penulisan karya ilmiah berbasis AI yang kini marak, bahkan telah difasilitasi oleh pemerintah. Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi menyalahi prinsip dasar pencarian ilmu dalam Islam yang menekankan proses panjang, kesungguhan, dan kesabaran.
Mengutip pesan Imam Syafi’i, “lan tanālul ‘ilma illā bisittah”, Rofiq menekankan bahwa ilmu tidak dapat diraih secara instan. Salah satu syarat utama dalam menuntut ilmu adalah tūluz zamān, yakni proses waktu yang panjang. Karena itu, penggunaan AI tidak boleh mengabaikan tahapan akuisisi ilmu secara bertahap, manual, dan tradisional.
“Ilmu itu dipelajari melalui proses belajar, bukan sekadar di-generate,” katanya, mengutip hadis Nabi yang menegaskan bahwa ilmu diperoleh melalui proses ta’allum atau pembelajaran.
Maraknya penyalahgunaan AI membuat Rofiq teringat dengan imbauan dari seorang ulama klasik bernama Ibnul Qayyim. Ia menyatakan siapa pun yang melewatkan fondasi dasar ilmu (ushul), maka ia tidak akan sampai pada kebenaran dan mudah terombang-ambing.
Tak lepas dari pernyataan tersebut, Rofiq berujar ketergantungan pada AI tanpa fondasi keilmuan juga berpotensi membingungkan, karena alat itu cenderung memberikan jawaban afirmatif tanpa kemampuan menilai benar atau salah secara substantif.
“Supaya tidak bingung, seseorang harus punya ushul, punya fondasi ilmu. Fondasi itu didapat dari iktisab dan ta’allum, bukan dari jalan pintas,” tegasnya.
Boleh pakai AI tanpa menghilangkan tradisi keilmuan
Dalam konteks pendidikan keislaman, Rofiq menegaskan pentingnya menjaga tradisi membaca buku, menghafal Al-Qur’an dan hadis, serta belajar langsung dengan guru. Ia mengingatkan pesantren dan lembaga pendidikan Islam agar tidak mengorbankan tradisi keilmuan tersebut hanya karena tergiur kemudahan teknologi AI.
Ia juga menekankan pentingnya prinsip tatsabbud atau verifikasi. AI, kata dia, tetap menyimpan bias pengembang dan keterbatasan data. Bahkan, ia menyinggung kasus di Amerika Serikat ketika seseorang disarankan bunuh diri setelah berkonsultasi dengan AI, yang kemudian menjadi kasus besar dan kontroversial.
“Self-diagnosis tanpa verifikasi itu berbahaya. Apa pun yang diberikan AI tetap harus ditabayyunkan,” ujarnya, seraya mengutip perintah Al-Qur’an dalam Surah Al-Hujurat ayat 6 tentang kewajiban memverifikasi informasi.
Oleh karena itu, Rofiq mengingatkan agar manusia memiliki prinsip tawazun atau keseimbangan dalam menghadapi AI. Menurutnya, perkembangan teknologi tidak boleh menggerus spiritualitas, rasionalitas, dan hubungan sosial manusia.
“Teknologi harus berjalan seimbang dengan daya kritis, kehidupan sosial, dan kedalaman spiritual. Jangan sampai AI justru membuat kita kehilangan kemampuan berpikir dan bersosialisasi,” ucapnya.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Pengalaman Saya sebagai Katolik Kuliah di UMMAD, Canggung Saat Belajar Kemuhammadiyahan tapi Berhasil Jadi Wisudawan Terbaik atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan













