Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Modal Ijazah SMA Merantau ke Jakarta demi Hidup Lebih Baik Malah Bernasib Sial, Pindah ke Jogja Makin Ngoyo Hidupnya

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
27 Maret 2025
A A
Modal ijazah SMA merantau ke Jakarta karena iming-iming hidup yang lebih baik, malah tertipu hingga kerja apa saja buat hidup di Jogja MOJOK.CO

Ilustrasi - Modal ijazah SMA merantau ke Jakarta karena iming-iming hidup yang lebih baik, malah tertipu hingga kerja apa saja buat hidup di Jogja. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Jakarta menjanjikan nasib yang lebih baik. Begitu yang ada di benak orang daerah seperti Jhon (25), sebelum akhirnya “terlempar” ke Jogja untuk berjibaku bertahan hidup di sana.

***

Jhon adalah pemuda asal Lampung. Kami pertama kali kenal pada Juli 2024 silam. Saat itu saya menemuinya di Lapangan Pemda Sleman, saat Jhon tengah ngelapak jualan kopi pakai motor Honda CB100-nya (street bar).

Itu adalah bulan-bulan pertama Jhon menjajal jualan kopi keliling berkonsep street bar. Menunya masih terbatas. Pasarnya pun belum luas.

Sejak merantau ke Jogja pada 2020, Jhon memang memeras energinya untuk mengerjakan apa saja. Yang penting bisa menghasilkan uang untuk bertahan hidup.

Namun, sebelum akhirnya “terlempar” ke Jogja, Jhon pernah hampir beradu nasib di Jakarta lantaran iming-iming sebuah pekerjaan. Hingga akhirnya dia sadar kalau ada yang tidak beres dari iming-iming pekerjaan tersebut.

Modal ijazah SMA merantau ke Jakarta

Jhon lulus SMA pada 2019. Tidak ada bayangan kuliah. Pikirnya, lulus sudah harus bisa mencari uang sendiri untuk meringankan beban orangtua. Di Lampung orangtua Jhon sehari-hari bekerja sebagai buruh di kebun kopi.

“Nemu lowongan menjadi satpam di sebuah mall di Jakarta. Singkat cerita aku ada peluang kerja di situ. Lalu berangkatlah ke Jakarta,” ujar Jhon.

Dengan motor Honda CB100-nya, dia menempuh perjalanan dari Lampung, menyongsong bayangan bakal kerja di Ibu Kota. Bagaimanapun, bayangan orang atas kerja di Jakarta adalah harapan hidup yang lebih baik.

“Setiba di Jakarta, ternyata nggak bisa langsung kerja. Kalau mau kerja di mall itu, aku harus bayar dulu beberapa juta. Aku nggak punya uang modal. Ya sudah aku urungkan kerja di situ,” kata Jhon.

Usai terlunta-lunta di Jakarta lalu merantau ke Joga

Tidak ada sanak saudara atau kenalan di Jakarta. Jhon sempat tinggal beberapa hari di Jakarta, sendiri, sembari mencari lowongan kerja lain.

Sayangnya, lowongan tersebut tak kunjung dia dapat. Sementara uang saku menipis. Maka, mau tidak mau di harus kembali ke Lampung.

“Di Lampung ikut kerja di kebun kopi. Ngumpulin uang saku. Setelah ngumpul, akhirnya mantap pergi ke Jogja,” tuturnya.

Sama seperti di Jakarta, di Jogja, Jhon tidak mengenal siapapun. Dia bertaruh nasib seorang diri. Apalagi saat keberangkatannya pada 2020 itu, dia masih belum terbayang bakal kerja apa setiba di Kota Pelajar.

Iklan

Kerja apa saja untuk bertahan hidup di Jogja

“Awal ke Jogja itu saya kerja di nasi pecel pincuk di daerah Nologaten,” kenang Jhon.

Setelahnya, beragam jenis pekerjaan informal Jhon lakukan, merentang tahun 2020-2022.  Pada 2022, Jhon melihat peluang untuk bisnis sewa helem.

Kala itu, Jhon masih bekerja di sebuah tempat billiard. Suatu hari, seorang pengunjung yang sebelumnya menyewa Vespa meresahkan ukuran helm dari sewa sepaket dengan Vespa tersebut yang kekecilan. Dari situlah Jhon berpikir, sepertinya patut dicoba: bisnis sewa helm.

“Awalnya nggak langsung beli helm dulu, Mas. Saya bikin Instagram-nya dulu. Ternyata ada yang minat. Waktu itu beli dua helm dulu,” ungkap Jhon.  Dari dua helm, lalu kini menjadi 23 helm yang dia sewakan.

Awalnya Jhon memasang tarif sewa sebesar Rp10 ribu. Lalu, menimbang biaya perawatan, dia mematok tarif sewa Rp25 ribu per 24 jam. Jika ingin helmnya diantar, akan dikenakan ongkir tergantung jarak tempuh pengiriman.

Bagi Anda yang sedang di Jogja dan hendak sewa helm, bisa hubungi saja kontak ini: 089651495030. Selain helm, Jhon juga menyewakan beberapa jenis kacamata untuk bergaya yang ia sewakan di harga Rp7 ribuan per 24 jam.

Tak ada waktu untuk menikmati masa muda

Bagi Jhon, tidak ada waktu untuk menikmati masa muda. Sebab, dalam persoalan bertahan hidup, Jogja sama kerasnya dengan Jakarta: kalau tidak kerja keras, kelimpungan untuk hidup.

Jhon keluar dari tempat billiard. Tapi sewa helmnya pun sebenarnya tidak bisa menutup sepenuhnya kehidupannya di Jogja. Hanya cukup sebagai ganjelan saja.

Maka, mulailah Jhon merintis usaha street bar. Berpindah-pindah lokasi di Sleman. Hanya saja pasarnya masih sulit. Selain itu, Jhon juga mengambil pekerjaan sebagai asisten seorang presenter lokal Jogja.

“Apapun dikerjakan, Mas,” ungkap Jhon.

Di Jogja, bagaimanapun Jhon banyak bersinggungan dengan mahasiswa. Di titik tertentu, hal itu membuatnya sempat berangan-angan: mungkinkah suatu hari bisa kuliah dengan biaya sendiri?

Angan-angan itu timbul-tenggelam di dalam kepalanya. Berebut prioritas dengan nasibnya sebagai lulusan SMA yang harus kerja keras menghidupi dirinya sendiri di perantauan.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Tertipu Tawaran Kerja di Jakarta, Gaji Pertama Dirapel 2 Bulan, Setelahnya Kerja Ekstra tapi Tak Digaji hingga 4 Tahun Kemudian atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

Terakhir diperbarui pada 26 Maret 2025 oleh

Tags: jakartaJogjaloker jakartaloker jogja
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Reporter Mojok.co

Artikel Terkait

sate taichan.MOJOK.CO
Catatan

Menurut Keyakinan Saya, Sate Taichan di Senayan adalah Makanan Paling Nanggung: Tidak Begitu Buruk, tapi Juga Jauh dari Kesan Enak

20 Januari 2026
Mohammad Zaki Ubaidillah, dari Sampang, Madura dan langkah wujudkan mimpi bulu tangkis di Daihatsu Indonesia Masters 2026 di Istora Senayan Jakarta MOJOK.CO
Ragam

Istora Senayan Jadi Titik Sakral Menaruh Mimpi, Cerita Bocah Madura Rela Jauh dari Rumah Sejak SD untuk Kebanggaan dan Kebahagiaan

19 Januari 2026
Ilustrasi Mie Ayam di Jogja, Penawar Kesepian dan Siksaan Kemiskinan (Unsplash)
Pojokan

Mahasiswa di Jogja Melawan Kesepian dan Siksaan Kemiskinan dengan Ratusan Mangkuk Mie Ayam

19 Januari 2026
Derita perempuan saat naik transportasi umum di Jakarta, baik KRL maupun TransJakarta MOJOK.CO
Ragam

Kengerian Perempuan saat Naik Transportasi Umum di Jakarta, Bikin Trauma tapi Tak Ada Pilihan dan Tak Dipedulikan

17 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ilustrasi Mie Ayam di Jogja, Penawar Kesepian dan Siksaan Kemiskinan (Unsplash)

Mahasiswa di Jogja Melawan Kesepian dan Siksaan Kemiskinan dengan Ratusan Mangkuk Mie Ayam

19 Januari 2026
2016, Tahun Terakhir Gen Z dan Milenial Merasa Berjaya. MOJOK.CO

2016 bagi Milenial dan Gen Z adalah Tahun Kejayaan Terakhir sebelum Dihajar Realitas Hidup

17 Januari 2026
Olin, wisudawan terbaik Universitas Muhammadiyah Madiun (UMMAD) pada 2025. MOJOK.CO

Pengalaman Saya sebagai Katolik Kuliah di UMMAD, Canggung Saat Belajar Kemuhammadiyahan tapi Berhasil Jadi Wisudawan Terbaik

14 Januari 2026
Film Suka Duka Tawa mengangkat panggung stand-up comedy. MOJOK.CO

“Suka Duka Tawa”: Getirnya Kehidupan Orang Lucu Mengeksploitasi Cerita Personal di Panggung Komedi demi Mendulang Tawa

13 Januari 2026
Cara wujudkan resolusi 2026 dengan finansial yang baik. MOJOK.CO

Nasib Tinggal di Jogja dan Jakarta Ternyata Sama Saja, Baru Sadar Cara Ini Jadi Kunci Finansial di Tahun 2026

19 Januari 2026
Motor Honda Vario 150 2026, motor tahan banting MOJOK.CO

Honda Vario 150 2016 Motor Tahan Banting: Beli Ngasal tapi Tak Menyesal, Tetap Gahar usai 10 Tahun Lebih Saya Hajar di Jalanan sampai Tak Tega Menjual

15 Januari 2026

Video Terbaru

Air dari Perut Bumi: Goa Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

Air dari Perut Bumi: Gua Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

18 Januari 2026
Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.