ADVERTISEMENT

Menteng Jakarta Pusat, Saksi Bisu Perantau Miskin “Diinjak-injak” Orang Kaya: Meninggalkan Kota Kecil demi Mengubah Nasib, Malah Diupah Tak Wajar

Menteng Jakarta Pusat, Saksi Bisu Perantau “Diinjak-injak” Orang Kaya.MOJOK.CO

Selama tujuh hari nonstop, Fiko tinggal di sana dan melaksanakan jobdesk-nya. Namun, tetap ada aturan yang harus dipatuhi. Seperti dilarang masuk kamar-kamar tertentu, dilarang membawa orang masuk ke rumah, hingga tak boleh mencuri. Selama tujuh hari itu pula, ia memperlakukan rumah itu laiknya rumah sendiri. 

“Persis kayak yang dikatakan bos-bos, ‘kita keluarga, anggap saja rumah sendiri,” kata dia.

Sialnya, ketika pekerjaannya selesai, Fiko kaget karena cuma dibayar Rp600 ribu untuk pekerjaan 7/24. Artinya, per harinya ia mendapatkan upah tak sampai Rp100 ribu.

“Alasannya, kata mereka kan aku dah diizinin tinggal di sana. Makan juga di sana. Makanya wajar upah segitu.”

Jujur Fiko merasa kecewa. Namun, ia tak berani membantah atau melawan karena memang cuma orang kecil, sementara di hadapannya adalah orang kaya penuh kuasa.

Banyak orang kaya di Menteng Jakarta Pusat yang suka menginjak orang miskin

Fiko pernah bertanya ke temannya, apakah upah yang ia terima wajar? Kata temannya: beda rumah, beda pemilik, berbeda juga upah yang diberi. Alias suka-suka mereka.

Masalahnya, selama beberapa bulan melakukan pekerjaan tersebut di rumah yang berbeda, upahnya tak beda jauh. Bahkan ada yang lebih sedikit.

“Masalahnya, kalau sebulan cuma kerja dua kali, berarti penghasilanku palingan cuma sejuta. Sementara di luar itu, aku tetap kudu makan, ngasih duit orang tua, dan bayar kos,” kata dia.

Di Menteng, Jakarta Pusat, kelakuan orang kaya yang suka “menginjak” orang miskin tak cuma dialami Fiko. Fikri (24), perantau lain asal Jawa Barat, bahkan mengalami hal yang lebih parah. Kisahnya itu pernah ia tulis dalam grup Facebook Komunitas Orang Susah (KOS).

Kepada Mojok, Fikri bercerita bekerja sebagai asisten “artis nanggung”. Ia sebut nanggung karena si artis belum begitu populer, tapi punya ratusan ribu follower di TikTok.

Setiap hari, Fikri bekerja dengan mode palugada: jadi driver antarjemput, menyiapkan kebutuhan si artis, bahkan terkadang menjadi juru bicara ke klien yang ingin endorse.

“Aku kerja mode nonstop. 24 jam wajib bisa dihubungi. Kalau nggak balas chat sebentar saja, bisa kena marah,” ungkapnya, Senin (19/5/2025).

Meskipun sudah bekerja keras bagai kuda, gaji yang ia terima tak sepadan. Tiap bulan, ia hanya diupah Rp2 juta. Alasannya, itu adalah upah standard buat asisten artis.

Tak sampai di situ, ada kalanya ia cuma dibayar dengan janji dan ucapan “terima kasih”. Saat si artis sedang sepi job, Fikri sama sekali tak digaji. Kata si artis, gajinya bakal dirapel bulan berikutnya.

“Tapi di bulan berikutnya gajiku ya segitu aja, alias yang bulan lalu dah dilupain begitu aja,” ujarnya. “Tapi aku nggak bisa protes, soalnya paham betul sekarang lagi susah cari kerja. Takut dipecat.”

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Kebayoran Baru Jadi Saksi Para Sarjana “di-Prank” Kemewahan Jaksel: Nekat Merantau Bermodal Ijazah S1, Berakhir Jadi Tukang Parkir Liar atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan.

Terakhir diperbarui pada 20 Mei 2025 oleh .

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Exit mobile version