Menjadi Guru BK Capek Mental dan “Tak Menghasilkan”, Memilih Resign dan Kerja Kantoran Meski Harus Mengubur Cita-Cita

guru BK.MOJOK.CO

Ilustrasi - Guru BK (Mojok.co/Ega Fansuri)

Menjadi guru adalah cita-cita Margawati (26). Oleh karena itu, ia dengan sadar mengambil jurusan Bimbingan Konseling (BK) saat masuk kuliah 2019 lalu. Proyeksi dia jelas, ketika lulus bakal langsung terjun sebagai guru BK.

Sayangnya, tahun lalu, Marga harus menutup perjalanannya sebagai pengajar di sebuah sekolah menengah di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Namun, tak ada perasaan sedih karena harus “membunuh” mimpi. Yang keluar malah perasaan lega karena keputusan ini diambil demi menjaga kewarasan dan menyambung hidup.

Selama satu tahun pengabdiannya, Marga merasakan betul betapa profesi guru BK sering kali disalahpahami. Di sekolah, ia tidak sekadar duduk ongkang-ongkang menanti siswa yang melanggar aturan. Ia justru menjadi “garda terdepan” bagi kesehatan mental siswa. 

Namun, di balik peran mentereng sebagai “pembentuk karakter”, ada beban psikis dan finansial yang nyaris tidak pernah dibicarakan secara terbuka.

Selalu siap jadi tempat curhat, sekaligus menyerap “energi negatif” siswa

Bagi banyak siswa, sosok guru muda seperti Marga adalah teman curhat yang ideal. Selisih usia yang tidak terlalu jauh membuat siswa merasa nyaman menumpahkan segala masalah. Mulai dari patah hati ala remaja, perundungan di media sosial, hingga konflik yang dialami dengan orang tua.

“Kadang, mendengar masalah-masalah siswa itu sangat melelahkan,” ujar Marga, dikutip Kamis (29/12/2026).

Pekerjaan ini menuntut empati penuh. Namun, empati yang terus-menerus dikuras tanpa adanya sistem pendukung (support system) bagi si guru sendiri, berujung pada kelelahan mental yang hebat/

Di dunia psikologi, kondisi ini dikenal sebagai compassion fatigue. Marga harus menyerap trauma siswa, mengolahnya, dan tetap tampil tegar sebagai pendamping, sementara ia sendiri tidak memiliki tempat untuk mengadu.

Kondisi ini diperparah dengan rasio guru BK dan siswa yang timpang. Berdasarkan aturan nasional, satu guru BK idealnya menangani 150 siswa. Namun, di lapangan, seorang guru honorer sering kali harus mengawasi ratusan siswa sendirian.

Pendekatan personal yang seharusnya mendalam menjadi sekadar “pemadam kebakaran” yang hanya turun tangan saat kasus besar pecah.

Guru BK sekarang kerap kena stigma “lembek” dari boomer

Tantangan Marga tidak hanya datang dari siswa, tetapi juga dari lingkungan kerja. Ada stigma yang melekat bahwa guru BK adalah pekerjaan yang santai karena tidak memiliki jadwal mengajar di kelas sesering guru mata pelajaran.

Marga kerap menghadapi komentar sinis dari rekan sejawat senior, yang kebanyakan kalangan boomers. Pola pikir kolot sering kali membandingkan ketangguhan mental generasi masa kini dengan masa lalu. 

“Ada anggapan kalau kami ini terlalu lembek. Para senior sering membandingkan zaman mereka dulu yang lebih keras, padahal konteks masalah yang dihadapi anak muda zaman sekarang sudah jauh berbeda. Isu kesehatan mental bukan sesuatu yang bisa diselesaikan hanya dengan teguran keras,” tambahnya.

Gesekan antargenerasi ini menciptakan lingkungan kerja yang toksik. Alih-alih mendapatkan dukungan profesional, guru BK muda seperti Marga justru sering merasa terisolasi di ruang guru sendiri.

Upah yang tak bisa buat memenuhi kebutuhan hidup

Namun, dari semua beban yang ada, faktor finansial menjadi pukulan telak yang meruntuhkan idealisme Marga. Sebagai guru honorer, pendapatan bulanannya jauh dari kata layak. Di tengah tuntutan biaya hidup di Sleman yang terus meningkat, honor yang diterimanya bahkan tidak menyentuh angka Upah Minimum Kabupaten (UMK).

Untuk bertahan hidup, Marga harus memutar otak mencari sampingan. Idealisme untuk mencerdaskan kehidupan bangsa perlahan terkikis oleh kebutuhan dasar yang tidak terpenuhi. 

“Cinta pada pekerjaan tidak bisa dipakai untuk membayar tagihan listrik atau membeli makan,” tegasnya.

Mojok sendiri pernah memotret cerita pilu guru honorer yang memang diupah tak layak. Laporan tersebut bisa dibaca dalam liputan berjudul “Curhatan Guru BK Hari Ini: Profesi Dipandang “Sepele”, Padahal Harus Hadapi Gen Z yang Masalahnya Makin Kompleks”.

Data menunjukkan bahwa upah guru honorer di banyak daerah di Indonesia masih berkisar antara Rp500.000 hingga Rp1.000.000 per bulan, bahkan bisa kurang. 

Angka ini sangat kontras dengan beban kerja dan tanggung jawab moral yang dipikul. Kondisi ini membuat profesi guru, khususnya guru BK, menjadi pilihan yang tidak berkelanjutan secara ekonomi bagi anak muda yang ingin mandiri secara finansial.

Memilih meninggalkan dunia pendidikan demi hidup yang lebih tenang

Satu tahun sudah cukup bagi Marga. Ia memutuskan untuk melepaskan cita-citanya dan beralih ke dunia korporat di Semarang. Keputusannya bukan karena ia tidak lagi mencintai dunia pendidikan, tetapi karena ia memilih untuk menyelamatkan dirinya sendiri.

Kini, Marga bekerja di sebuah kantor dengan jam kerja yang jelas dan gaji yang jauh lebih manusiawi. Beban emosional yang dulu menghimpitnya setiap hari kini berganti dengan rutinitas administratif yang, meski kadang membosankan, tidak merusak kesehatan mentalnya.

“Banyak teman saya yang juga akhirnya menyerah. Kami ingin mengabdi, tapi sistem tidak memberikan ruang bagi kami untuk hidup layak dan tetap sehat secara mental,” pungkas Marga.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Tak Melihat Masa Depan Cerah sebagai Guru Honorer di Ponorogo, Pilih Kuliah S2 dengan LPDP hingga Kerja di Perusahaan Internasional atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version