Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Mata Air Patiayam, Warisan Purba dan Sumber Hidup yang Tak Boleh Hilang

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
5 November 2025
A A
Mata air Patiayam, warisan purba yang menjadi sumber hidup warga Desa Gondoharum, Kudus MOJOK.CO

Ilustrasi - Mata air Patiayam, warisan purba yang menjadi sumber hidup warga Desa Gondoharum, Kudus. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook
  • Bukit Patiayam di Desa Gondoharum, Kudus, dulu menjadi habibat satwa-satwa purba. Ada gajah hingga kerbau “raksasa”.
  • Tragedi pembalakan hutan pada 1998 mengubah lanskap bukit Patiayam yang semula hijau, teduh, dan berlimpah mata air menjadi benar-benar tandus.
  • Saat ini ada sekelompok warga yang berupaya keras menjaga sebuah “warisan purba” di belantara Patiayam. Sebab, warisan purba itu menjadi sumber hidup dan ketenteraman.

***

Debitnya memang kecil. Namun, mata air di kawasan bukit Patiayam nyatanya menjadi sumber hidup bagi masyarakat Desa Gondoharum, Kudus. Maka, tak terbayang jika mata air itu mengering. Meskipun hanya sekejap saja, pasti jadi “krisis ekologi” mengerikan.

Mati air Patiayam: sebuah warisan purba

Mata air di bukit Patiayam sejatinya adalah warisan purba. Menjadi salah satu variabel yang menjaga keberlangsungan ekosistem purba di masa silam.

Diperkirakan pada zaman Pleistosen, gajah-gajah dan kerbau berukuran besar berumah di antara pohon-pohon dan tetumbuhan di bukit Patiayam. Mereka tak kekurangan makan dan minum.

Vegetasi masih padat. Bisa kapan saja mereka santap. Aliran air pun mengucur deras untuk membasuh dahaga.

Begitu lah kira-kira gambaran kehidupan purba di bukit Patiayam. Buktinya bisa dilihat di Situs Purbakala Patiayam. Ada fosil-fosil gajah purba (Stegodon) hingga kerbau raksasa (Bubalus palaeokarabau) dirawat di sana.

Ilustrasi gajah purba MOJOK.CO
Ilustrasi gajah purba. (The New York Public Library/Unsplash)

Bukit Patiayam, Kudus, memang menjadi habitat satwa liar hingga ribuan tahun. Kata Mashuri (47)—Ketua Kelompok Tani (POKTAN) Wonorejo, Desa Gondoharum—hingga 1970-an pun masih ada satwa-satwa seperti macan hingga kijang.

“Di masa kecil saya dulu masih sering lihat ada kijang berkeliaran di sini (bukit Patiayam),” ujarnya saat saya temui di sela-sela memanen mangga di bukit Patiayam, Selasa, (7/10/2025) pagi.

keberadaan satwa-satwa itu cukup menjadi bukti, kalau ekosistem bukit Patiayam sempat berada dalam masa sangat ideal sebagai habitat flora-fauna. Termasuk karena ketersediaan mata air yang melimpah. Karena tanpa air, satwa-satwa itu tak mungkin bertahan di sana.

Lanskap bukit Patiayam di Desa Gondoharum, Kudus MOJOK.CO
Lanskap bukit Patiayam di Desa Gondoharum, Kudus. (Eko Susanto/Mojok.co)

Rindu masa kecil, rindu mata air melimpah dari bukit Patiayam

Keberadaan sumber mata air itu masih melimpah ketika Mashuri masih anak-anak. Mashuri ingat, dulu air dari bukit Patiayam bisa mengaliri sungai dan belik-belik di Desa Gondoharum, Kudus. Tak ada kata “sulit air” bagi masyarakat setempat, kendati musim kemarau melanda.

“Dulu warga sini masih tanam padi. Itu irigasinya ya dari sumber air yang melimpah,” kata Mashuri.

Pengakuan serupa dituturkan oleh Dardi (48), masyarakat sekaligus petani Desa Gondoharum. Kalau mengingat masa kecilnya, ia merasa ada rindu-rindunya.

“Dulu itu saya suka mandi di sungai. Suka ikut orang tua ngangsu di belik juga buat kebutuhan rumah,” kata Dardi. “Ikan di sungai juga banyak. Jadi selain ciblon di sungai juga mancing sekalian.”

Dardi (48), petani Desa Gondoharum, Kudus MOJOK.CO
Dardi (48), petani Desa Gondoharum, Kudus. (Eko Susanto/Mojok.co)

Kondisi bukit yang hijau dan mata air yang melimpah itu berubah ketika terjadi penggundulan hutan di tahun 1998. Hutan berubah tandus. Debit air pun kian mengecil. Alhasil, satwa-satwa penghuni hutan bermigrasi, kalau tidak turut  “dibabat” para pembalak hutan.

Iklan

“Sejak 1998, itu kalau kekeringan atau kurang air ya sering. Terutama saat musim kemarau. Itu ngangsu di sisa-sisa sumber air sampai antre. Kalau nggak ya beli air dari luar,” ungkap Dardi.

Konservasi: upaya menjaga mata air agar tak mati

Seiring waktu, ada banyak keresahan yang mengusik batin Mashuri. Termasuk persoalan mata air. “Kalau alamnya tandus terus, ini lama-lama warga nggak bisa hidup karena nggak ada sumber air,” katanya.

Pada 2019, Mashuri—dengan penuh tekad—lantas menggagas penghijauan kembali bukit Patiayam. Ia mengajak masyarakat setempat untuk menanam tanaman/pohon berakar besar. Tujuannya, tentu agar pohon-pohon itu bisa menjaga keberadaan mata air di bukit Patiayam. Misalnya yang ditanam di sana, ada mangga, beringin, bambu, dan gayam.

Bukit Patiayam perlahan mulai dihijaukan usai pembalakan 1998 MOJOK.CO
Bukit Patiayam perlahan mulai dihijaukan usai pembalakan 1998. (Eko Susanto/Mojok.co)

Muhtarom (46), Community Development Staff Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF)—yang turut mendampingi penghijauan di bukit Patiayam—mengaku, awalnya tidak mudah memberi pemahaman masyarakat perihal betapa pentingnya pohon-pohon berakar besar itu.

Saat itu masyarakat menilai pohon atau tumbuhan yang bermanfaat ya yang berbuah cepat untuk lekas dijual. Alhasil, pohon keras seperti beringin atau gayam dianggap tidak produktif bahkan mengganggu. Ujung-ujungnya malah ditebang.

“Memang perlu pendekatan. Pelan-pelan saat itu yang kami sampaikan adalah bahwa pohon ini bermanfaat untuk menjaga mata air. Kalau mata air terjaga, kan masyarakat sendiri yang menikmati,” kata Muhtarom.

Muhtarom (46), Community Development Staff Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF) MOJOK.CO
Muhtarom (46), Community Development Staff Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF). (Aly Reza/Mojok.co)

Sejak 2019, BLDF memang berkomitmen turut membantu Mashuri dan masyarakat Desa Gondoharum, Kudus, untuk melakukan konservasi terhadap bukit Patiayam yang teramat tandus. Bantuan berupa bibit-bibit pohon mangga dan pupuk diberikan.

Hingga saat ini, ada sekitar 28.000 bibit pohon ditanam di luasan 250 hekatre bukit Patiayam. 15.000 pohon di antaranya sudah berbuah dan dipanen oleh para petani.

Hidup tenteram karena peduli dengan alam

Kata Mashuri, Dardi, dan Muhtarom, konservasi bukit Patiayam itu pada akhirnya memiliki dampak berlapis. Pertama, menjaga Desa Gondoharum, Kudus, dari ancaman longsor. Kedua, meningkatkan taraf ekonomi masyarakat setempat: Karena pendapatan naik di masa panen mangga. Ketiga, debit mata air kembali stabil.

“Memang belum sederas dulu. Tapi paling tidak sudah stabil, nggak akan kehabisan,” ujar Dardi.

Salah satu sumber mata air di bukit Patiayam, Desa Gondoharum, Kudus MOJOK.CO
Salah satu sumber mata air di bukit Patiayam, Desa Gondoharum, Kudus. (Aly Reza/Mojok.co)

“Sumber air itu dialirkan ke bak penampungan, lalu diselang untuk disalurkan ke rumah-rumah warga. Ada 5 RT yang menggantungkan hidup dari sumber air itu, untuk minum, masak, mandi, dan lain-lain,” sambung Mashuri. “Hawa desa juga kan jadi adem karena alamnya hijau,”

Sepanjang perbincangan hari itu, hanya kesan “tenteram” yang saya tangkap dari wajah Mashuri. “Apa rahasianya, Pak, biar bisa hidup ayem?” Tanya saya.

Mashuri (47) penggagas penghijuan bukit Patiayam MOJOK.CO
Mashuri (47) penggagas penghijuan bukit Patiayam. (Eko Susanto/Mojok.co)

Dengan senyum teduh, Mashuri menjelaskan, ia berpegang pada prinsip hidup kira-kira begini:

Jika orang peduli dengan alam, maka hidupnya akan tenteram. Karena alam itu menghidupi.

“Mangkanya saya sering kalau sama pohon mangga, saya ajak bicara, ‘Semoga tumbuh baik’. Saya rawat dengan baik pula. Kalau tumbuh baik, ia pasti akan ngasih hasil terbaik buat kita,” tutup Mashuri.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Tapa Ngeli hingga Akidah Muttahidah Sang Wali Lingkungan, Menjaga Alam Muria dari Pengrusakan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 5 November 2025 oleh

Tags: desa gondoharum kuduskudusmangga patiayammashuri patiayammashuri wonorejomata air kudusmata air patiayampatiayampatiayam kuduspilihan redaksi
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Reporter Mojok.co

Artikel Terkait

Jombang itu kota serba nanggung MOJOK.CO
Catatan

Jombang Kota Serba Nanggung yang Bikin Perantau Bingung: Menggoda karena Tenteram, Tapi Terlalu Seret buat Hidup

12 Januari 2026
Andai Ibu tidak menikah dengan ayah.co
Seni

“Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah”: KDRT Tidak Selalu Datang dari Kekerasan, tapi Juga Lewat Ketidakpedulian 

11 Januari 2026
Ketulusan Guru BK di SMP Pelosok Ponorogo MOJOK.CO
Ragam

Curhatan Guru BK Hari Ini: Profesi Dipandang “Sepele”, Padahal Harus Hadapi Gen Z yang Masalahnya Makin Kompleks

8 Januari 2026
Santri penjual kalender keliling dan peminta-minta sumbangan pembangunan masjid meresahkan warga desa MOJOK.CO
Catatan

Santri Penjual Kalender dan Peminta Sumbangan Masjid Jadi Pengganggu Desa: Datang Suka-suka, Ada yang Berbohong Atas Nama Agama

8 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Curhat petugas front line KRL Solo-Jogja kerja di KAI. MOJOK.CO

Sisi Gelap Kerja di KAI dengan Upah Layak: Risiko Difitnah Penumpang hingga Terkuras Fisik dan Mental

5 Januari 2026
Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

8 Januari 2026
daftar isi dan daftar pustaka skripsi.MOJOK.CO

Daftar Isi dan Daftar Pustaka: “Sepele” tapi Bikin Saya Nyaris Tak Lulus Kuliah, Menyesal Tak Pernah Mempelajari Cara Membuatnya

5 Januari 2026
Ilustrasi Honda Beat Motor Sial: Simbol Kemiskinan dan Kaum Tertindas (Shutterstock)

Pengalaman Saya Menyiksa Honda Beat di Perjalanan dari Jogja Menuju Solo lalu Balik Lagi Berakhir kena Instant Karma

7 Januari 2026
Kota Semarang coba tak sekadar melawan air untuk atasi banjir MOJOK.CO

Kota Semarang Coba Tak Sekadar Melawan Air untuk Atasi Banjir, Tapi Pakai Cara Fisika dan Wanti-wanti Kelalaian Sosial

5 Januari 2026
Busuknya Romantisasi ala Jogja Ancam Damainya Salatiga (Unsplash)

Sisi Gelap Salatiga, Kota Terbaik untuk Dihuni yang Katanya Siap Menggantikan Jogja sebagai Kota Slow Living dan Frugal Living

5 Januari 2026

Video Terbaru

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

8 Januari 2026
Mukti Entut dan Keputusan-keputusan Kecil yang Bikin Hidup Masuk Akal

Mukti Entut dan Keputusan-keputusan Kecil yang Bikin Hidup Masuk Akal

6 Januari 2026
PB Champion Klaten: Tempat Badminton dan Mental Juara Dibentuk

PB Champion Klaten: Tempat Badminton dan Mental Juara Dibentuk

3 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.