ADVERTISEMENT

Maspion Square Surabaya, Mal Sekarat Tempat Pelarian Orang-orang yang Tak Bisa Bergaya di Royal Plaza

Maspion Square Surabaya Adalah Mal Melarat Sesungguhnya MOJOK.CO

Tak cocok untuk kencan

Saya sendiri seingat saya sudah tiga kali masuk ke Maspion Square Surabaya. Pertama, pada 2017 lalu saat menemui mbak sepupu saya, Wulan (29) yang sedang ada kerjaan di sana. Kedua, pada akhir 2022, ikut teman-teman untuk nonton. Ketiga, menjelang akhir 2023, juga untuk menemui Wulan.

“Tapi kalau punya pacar ya jangan ajak nonton sini, Rek. Nemen kalau sampai pacarannya di mal kayak gini,” ujar Wulan waktu itu saat tahu kalau aku sudah pernah nonton di bioskop Maspion Square yang sebenarnya tak ramai-ramai amat.

Di mata Wulan, memang sekureng itulah Maspion Square Surabaya, sehingga sangat tidak cocok untuk kencan bersama pacar.

Sejauh pengamatan saya di Maspion Square Surabaya pun memang jarang ada sepasang kekasih yang lalu-lalang. Kebanyakan dari kalangan ibu-ibu yang mengajak anak-anaknya. Lebih-lebih di Maspion Square memang tersedia kids zone.

Sebab, kalau kata Wulan, mau cari apa gitu loh kencan di mal tersebut. Kuliner dan jajanan ya gitu-gitu aja, tempatnya juga sangat gitu-gitu aja.

Eh, tapi saya pernah sih nemu sepasang kekasih yang nonton di bioskop mal tersebut, bebarangen dengan saya dan beberapa kawan yang nonton di akhir 2022 silam itu.

Bedanya, saya, teman-teman, dan beberapa penonton lain—yang terhitung jari—duduk di deretan bangku tengah. Sementara sepasang kekasih itu duduk di urutan bangku paling belakang.

Reporter: Muchamad Aly Reza
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA: Terhina Saat Masuk Tunjungan Plaza Surabaya, Pegang Barang Mahal Langsung Disindir SPG Nggak Bakal Mampu Beli Gara-gara Tampang Ndeso

Cek berita dan artikel lainnya di Google News

Terakhir diperbarui pada 20 Maret 2024 oleh .

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Exit mobile version