Sewa Kos Rp350 Ribu Berdinding Triplek di Tamsis Kota Jogja, Bonus Suara “Ceplak-ceplok” Tengah Malam hingga Terusir Gara-gara Sengketa Warisan

Tinggal di kos murah Taman Siswa (Tamsis) Jogja: Malam-malam ada suara ceplak-ceplok, saling pukul di kamar, hingga terusir gara-gara sengketa warisan MOJOK.CO

Ilustrasi - Tinggal di kos murah Taman Siswa (Tamsis) Jogja: Malam-malam ada suara ceplak-ceplok, saling pukul di kamar, hingga terusir gara-gara sengketa warisan. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Saat banyak informasi menyebut betapa mahal harga-harga kos di Jogja, menemukan kos di harga Rp350 ribu bagi seorang perantau menjadi “berkah” tersendiri. Hanya saja, tinggal di sebuah kos murah di salah satu sudut Taman Siswa (Tamsis) itu memberi drama-drama tak terduga. Dari suara “ceplak-ceplok” tiap malam hingga terusir gara-gara sengketa warisan.

***

Saat mencari-cari kos di daerah Kota Jogja melalui Facebook dan internet, rata-rata memberi harga di angka Rp600 ribu ke atas. Itu membuat Rami (24) menelan ludah. Maklum, itu kali pertama ia merantau. Sebelumnya ia tinggal bersama orang tuanya di Sidoarjo, Jawa Timur.

Pada awal 2024 Rami memenuhi panggilan kerja di daerah Kota Jogja. Sembari mencari kos, ia numpang dulu di kos seorang temannya selama seminggu.

Setelah hampir setiap saat menyisir info kos di Facebook, pemuda Sidoarjo itu kemudian menemukan akun yang menawarkan kos dengan harga lebih murah: Rp350 ribu. Tak pikir panjang, nomor kontak yang tertera langsung ia hubungi, hari itu juga langsung survei ke lokasi di sekitar Taman Siswa, dan tak ragu sama sekali untuk mengambilnya. Ya masa mau numpang terus kalau tidak menemukan kos murah.

Kos murah di Taman Siswa (Tamsis) Jogja: buluk dan berdinding triplek

Namanya juga kos dengan harga Rp350 ribu, di Kota Jogja lagi, jadi jangan berharap muluk-muluk. Apalagi sebenarnya sudah dapat isian: lemari (walaupun pintunya somplak) dan kasur (walaupun buluk dan tipis). Kamar mandi luar, tidak masalah. Berdinding triplek juga tak jadi soal.

“Aku yang penting bisa untuk tidur dan naruh barang. Buat neduh pas hujan. Walaupun gentengnya bocor dikit-dikit, nggak apa-apa lah,” ucap Rami, Senin (5/1/2025) malam.

Pekerjaan pertamanya di Kota Jogja itu baru bergaji di bawah UMR. Jadi persetan ngekos dengan harga mahal. Wong makan aja, waktu itu, ia lebih sering di angkringan atau di Warmindo. Pokoknya jangan sampai di atas Rp15 ribu lah sekali makan. Itu untuk dua kali makan.

Beberapa hari pertama mendiami kos murah tersebut, sebenarnya tidak ada masalah berarti bagi Rami. Nyamuk-nyamuk besar atau kecoa melintas bukan jadi perkara menganggu. Sebab, sekali masuk kos dan tertidur pulas, mau diserbu kawanan nyamuk dan kecoa kayak bagaimana pun Rami pasti bergeming. Tetep pulas dengan ngorok kerasnya.

Malam di kos murah Taman Siswa (Tamsis) Jogja: penasaran dengan suara “ceplak-ceplok” di balik triplek

Situasi agak janggal dan mengganggu justru berasal dari dinding triplek yang menjadi pembatas antar-kamar.

Meski bertuliskan “kos putra”, tak jarang Rami mendapati satu-dua anak kos membawa perempuan. Sering kali mereka akan masuk di jam-jam 10 malam ke atas.

“Agak kaget iya. Karena kan aku anak rumahan. Jadi kayak aneh saja pas tahu ada fenomena begitu,” kata Rami. Lebih-lebih, sejak SD hingga sekarang bekerja, ia hanya pernah merasakan cinta-cinta tak terbalas. Suka perempuan, tapi tak disukai balik. Jadi belum pernah punya pengalaman menjalin hubungan dengan lawan jenis.

Rami awalnya mencoba abai saja dengan pemandangan di kosnya di Tamsis, Kota Jogja, tersebut. Namun, satu malam membuat situasi berubah.

“Sebenarnya nggak sengaja. Tengah malam aku kebangun karena kebelet kencing. Keluar ke kamar mandi sambil ngantuk-ngantuk, belum nyadar apa yang terjadi. Tapi pas balik ke kamar, kok dengar ada suara “ceplak-ceplok” di kamar sebelah. Ya terdengar keras, kan cuma kehalang triplek,” beber Rami. Itu membuat Rami penasaran.

Baca halaman selanjutnya…

Saling pukul di kamar, mencoba bertahan malah terusir gara-gara sengketa warisan

Desisan menggelikan di telinga

Karena penasaran, di kos murahnya di Taman Siswa, Kota Jogja, itu Rami malah sering sengaja menunggu lewat tengah malam.

Memang tidak hampir setiap malam. Tapi amat sering ia mendengar suara-suara semacam itu. Kadang hanya bunyi “ceplak-ceplok”, sesekali bercampur suara laki-laki dan perempuan mendesis bersahut-sahutan.

“Geli di telinga. Tapi penasaran hahaha,” ucap Rami. Tapi ya lama-lama ia terbiasa juga. Walaupun ada nelangsa-nelangsanya sedikit karena masih jomblo sejak SD hingga di umur 24 tahun.

Saling pukul di kamar, tak ada yang peduli

Jika bunyi dan suara tengah malam itu membuat Rami penasaran, beda dengan suara lainnya yang ia dengar di kos murah Taman Siswa, Kota Jogja tersebut.

Pernah suatu kali ia mendengar suara ribut dari kamar lain. Terdengar keras sekali suara laki-laki dan perempuan saling membentak.

Rami juga menduga terjadi kekerasan di sana. Walaupun ia tak bisa memastikan, siapa yang memukul dan siapa yang sebenarnya dipukul. Yang jelas, ia mendengar ada suara tamparan, jeritan, bahkan sampai membentur triplek yang jadi pembatas. Untung tak sampai roboh.

“Aku intip ke luar kamar, penghuni lain nggak peduli. Aku ya nggak berani kalau mau ikut campur. Kecuali kalau ada suara minta tolong, pasti aku panggil pemilik kos,” akunya. Karena rumah si pemilik kos memang tidak berdekatan dengan lokasi kos.

Mencoba bertahan malah terusir gara-gara sengketa warisan

Meski begitu, nyatanya Rami bisa betah di kos murah Tamsis, Kota Jogja tersebut hingga tiga bulan. Tidak ada pilihan lain. Sementara itu kos paling murah yang bisa ia dapat.

Sayang, di saat Rami sudah mencoba berdamai dengan segala situasi di kos tersebut, situasi paling tak terduga lain malah datang.

Suatu hari tiba-tiba ada seseorang—bukan pemilik kos yang ia kenal—yang meminta agar penghuni kos segera meninggalkan kos tersebut. Dikasih waktu 1×24 jam. Rami tentu bingung, siapa orang ini kok tiba-tiba mengusir paksa?

“Dari penghuni lain yang lebih lama tinggal, baru aku tahu ternyata itu saudara pemilik kosnya. Bangunan dan tanah kos itu ternyata jadi sengketa warisan keluarga. Jancuk tenan,” jelas Rami.

Walhasil, mau tak mau Rami harus mengangkut barang-barangnya. Numpang lagi ke kos teman.

***

Rami kini sudah pindah tempat kerja dengan gaji lebih layak. Ia pun mulai tak mikir-mikir untuk mencari kos di harga Rp500 ribu-Rp600 ribuan.

“Tapi setiap kali melintasi kos lama di Taman Siswa, aku sering geleng-geleng kepala sambil tertawa-tertawa sendiri. Ada-ada saja hidup di perantauan ini,” tutup Rami.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Derita Tertipu Kos Campur Bebas Berkedok Kos Pria Muslim di Jogja, 5 Tahun Kerap Dengar Tangis dan Rintih Saat Malam atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

 

Exit mobile version