Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Kesombongan Mahasiswa KKN bikin Warga Tak Segan “Berniat Jahat”: Tak Mau Nyapa dan Sok Pintar, Tak Tulus “Kerja Nyata” karena Niat Lain

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
21 Agustus 2025
A A
Kesombongan mahasiswa KKN: tak sapa warga dan sok pintar bikin warga kesan dan berniat jahat MOJOK.CO

Ilustrasi - Kesombongan mahasiswa KKN: tak sapa warga dan sok pintar bikin warga kesan dan berniat jahat. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Apa yang ditabur akan sepadan dengan apa yang dituai. Pribahasa itu agaknya cocok untuk menggambarkan bagaimana akhirnya warga bersikap terhadap mahasiswa KKN.

Jika mahasiswa KKN menabur kesan baik, maka sambutan hangat dan perpisahan penuh haru yang bakal mereka dapat. Tapi sebaliknya. Jika menanam kesan buruk, warga bisa jadi tak segan berniat jahat. Begitulah yang terjadi pada mahasiswa KKN di Desa Alun-alun, Ranuyoso, Lumajang Jawa Timur yang belum lama ini viral.

Iklan

Mahasiswa KKN “sombong” tak menyapa warga desa

Seorang warga Desa Alun-alun melancarkan aksi pencurian dua motor mahasiswa UIN KHAS Jember di Desa Alun-alun. Motor hasil curian itu lantas dijual.

Hilangnya motor tersebut lantas sempat menghebohkan warga. Kepanikan menjalar di antara mahasiswa KKN tersebut.

Hingga akhirnya Polres Lumajang berhasil membekuk Saman (32), pelaku pencurian yang ternyata ditugaskan kepala desa untuk membantu keamanan mahasiswa KKN.

Usut punya usut, ternyata Saman merasa jengkel dan sakit hati kepada rombongan mahasiswa KKN dari UIN KHAS Jember. Dari pengakuannya, anak-anak kampus itu kerap tak mengindahkan sapaan Saman.

“Sombong mereka nggak mau nyapa. Kalau yang perempuan sih masih nyapa. Tapi yang laki-laki disapa nggak jawab,” ucap Saman usai diamankan Polres Lumajang, seperti dikutip dari Kumparan.

“Benar saya disuruh jaga sama kepala desa (untuk jaga mahasiswa KKN). Tapi anak-anaknya sombong, jadi saya ambil motor mereka),” imbuhnya.

Mencoba menyambut hangat, tapi balasannya bikin kesal

Membaca berita viral tersebut, Nuraji (27), bukan nama asli, merasa realet. Karena dia pernah berbuat “iseng” dengan mahasiswa KKN di desanya—sebuah desa di Jawa Tengah.

Pada 2023 lalu, sekelompok mahasiswa asal sebuah kampus di Jawa Tengah tiba di desa Nuraji.

Sebenarnya desa Nuraji memang kerap menjadi jujukan mahasiswa KKN. Namun, sempat tidak ada lagi selama 2020-2022 karena pandemi Covid-19.

“Rasanya selalu ada lah satu atau dua mahasiswa KKN yang sombong, nggak berbaur dengan warga. Tapi kalau yang datang pada 2023 itu nggak tahu diri semua. Jadi bikin kesal,” ujar Nuraji, Rabu (20/8/2025).

Nuraji adalah ketua Karang Taruna desa. Oleh karena itu, dia mendapat mandate untuk menyambut dan mendampingi mahasiswa KKN tersebut sebaik mungkin.

Dan itu memang yang dia lakukan. Nuraji mencoba menyambut hangat kehadiran mereka. Akan tetapi, sejak pertama kali kedatangan mereka, Nuraji sudah menangkap kesan tak antusias dan jutek dari anak-anak kampus itu.

Iklan

“Tersinggung iya. Kesal lah. Tapi karena baru awal, ya sudah aku coba maklum. Mungkin mereka canggung,” tutur Nuraji.

Mahasiswa KKN “Sok pintar!”

Setelah dua minggu berlalu, Nuraji tak melihat ada perubahan sikap dari para mahasiswa KKN itu. Mereka bahkan terkesan membatasi diri dari warga desa, termasuk pada Karang Taruna.

“Kami dari Karang Taruna itu padahal selalu siap loh kalau diundang rapat. Tapi kami datang rapat ya datang saja, maksudnya mereka ngajak rapat sambil cuek gitu. Nggak seperti mahasiswa sebelumnya, ada lah satu dua mahasiswa yang ngajak ngobrol, sekalipun sekadar basa-basi. Kalau waktu itu nggak ada basa-basi,” ungkap Nuraji.

Bahkan, Nuraji akhirnya merasa kalau para mahasiswa KKN itu “sok pintar”. Sebab, tiap kali Karang Taruna urun rembug atas suatu program, Nuraji menangkap dua respons tak menyenangkan dari mereka.

Pertama, kalau ada anggota Karang Taruna berbicara, yang benar-benar memerhatikan hanya satu-dua orang saja. Sisanya sibuk berpangku tangan sambil sibuk main hp. Wajah mereka nglentruk.

Nuraji tentu ingin berprasangka baik. Barangkali mereka capek. Tapi, jika melihat raut wajah tak antusias mereka, Nuraji merasa mereka meremehkan pendapat teman-teman Karang Taruna.

Kedua, sering kali urun rembug yang diberikan Karang Taruna disanggah dan pada akhirnya tidak dipakai sama sekali. Padahal, bagi Nuraji, sebagai warga desa asli dia lebih tahu perihal yang dibutuhkan desa.

Oleh karena itu, dia berharap ide Karang Taruna bisa dikolaborasikan dengan ide anak-anak KKN. Itulah yang membuat Nuraji berpikir, memang mereka sok pintar.

Jarang berbaur, menyapa, dan tersenyum pada warga

Keresahan atas keberadaan mahasiswa KKN itu ternyata tidak hanya dirasakan Nuraji dan teman-teman Karang Taruna setempat. Sejumlah warga pada akhirnya berbisik-bisik.

Nuraji sering mendapat aduan dan kesangsian dari warga. Pasalnya, mahasiswa KKN itu cuek sekali. Jarang menyapa dan tersenyum kepada warga, bahkan sekalipun berpapasan di Jalan. Kalau senyum pun hanya senyum tipis.

“Paling parah itu aku lihat sendiri. Mereka bawa motor, pas papasan dengan warga, bukannya menyapa malah ngebut. Itu puncak kekesalanku,” ungkap Nuraji.

“Berbaur? Apalagi. Mereka lebih banyak di posko daripada berbaur dengan warga,” sambungnya.

Bikin warga punya “niat jahat” (1)

Lama-lama karena sudah sangat muak, Nuraji dan teman-teman Karang Taruna akhirnya memiliki “niat jahat” ke mahasiswa KKN tersebut.

“Kami nggak pernah mau lagi diajak rapat. Nggak mau lagi kalau mau dilibatkan kegiatan mereka. Kami bilang datang, tapi nggak datang. Ya PHP lah,” kata Nuraji.

Sampai-sampai, Nuraji dkk sampai nekat berbuat iseng. Suatu tengah malam, Nuraji dan sejumlah anak Karang Taruna “menyatroni” posko. Mereka melempari posko dengan kerikil, berulang-ulang. Niatnya memang ingin mengganggu jam tidur mereka. Selain juga agar mereka takut karena mengira diganggu demit.

“Malam itu juga ketuanya sampai kirim WA aku. Bilang ada yang ganggu di posko. Kujawab saja, dah biasa, Mas. Paling demit. Kalau demit sudah ganggu gitu berarti dia nggak suka sama orang yang tinggal di situ. Dibaca tapi nggak dibales,” ujar Nuraji. Nuraji ingat, dia dan teman-temannya sampai ngakak-ngakak karena puas.

Esok harinya, mereka langsung menemui Nuraji. Ingin ngobrol soal keamanan posko. Niat mereka ingin pindah ke posko yang lebih aman, jadi berharap disediakan oleh Karang Taruna.

“Enak aja!” Batin Nuraji. Dia dengan sok halus menyebut, setiap ada anak KKN, ya tempat itu poskonya. Tidak ada pilihan pindah.

Bikin warga punya “niat jahat!” (2)

Tak berhenti di situ, Nuraji dan kawan-kawan Karang Taruna bahkan sampai iseng gembosi ban beberapa motor mahasiswa KKN. Mereka tentu kelabakan karena tidak bisa beraktivitas. Sementara di des aitu tidak ada tambal ban, harus keluar desa kalau mau menambal.

“Itu juga minta bantuanku. Kujawab aku sibuk. Aku cuma kasih tahu saja lokasi tambal ban yang bisa dijangkau di mana,” kata Nuraji.

Tapi Nuraji juga punya batasan. Hanya sebatas iseng-iseng seperti itu, tidak sampai di tahap ingin mencuri barang milik mereka.

“Misalnya mereka nggak betah, ya memang itu tujuan kami. Biar nggak betah dan cepat pulang aja. Wong kami juga nggak betah dengan keberadaan mereka. Nggak pengaruh apa-apa,” kata Nuraji.

Sebab, Nuraji menilai, program-program mereka sebenarnya juga tidak ada pengaruh apapun. Hanya bersifat seremoni-seremoni dan grudak-gruduk.

Datang ke desa bukan untuk “kerja nyata”, tapi niatnya lain

Persoalan warga desa vs mahasiswa KKN memang kasuistik. Mojok sudah banyak menyajikan liputan yang memotret pesinggungan warga desa vs mahasiswa KKN.

Kadang warga desa lah yang justru menyebalkan dan bertabiat buruk. Sementara mahasiswa KKN-nya mencoba mengabdi sebaik mungkin.

Sebaliknya juga ada. Warga sudah sangat baik, tapi si mahasiswa lah yang tidak tahu diri, seperti kasus Nuraji. Karena memang ada mahasiswa yang saat KKN tidak tulus “Kerja Nyata”, tapi punya niat lain.

Satu, niat hanya formalitas belaka karena itu bagian dari perkuliahan. Dua, dalam konteks desa tertentu di daerah yang dikenal sentra wisata, niat mahasiswa datang tidak lebih karena urusan pengin senang-senang dan berwisata, bukan kerja nyata, seperti dalam tulisan, “Repotnya KKN Bareng Mahasiswa Kaya: Sibuk Rebahan dan Main HP, Enggan Bergaul Malah “Rendahkan” Kehidupan Warga Desa”.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Perpisahan Mahasiswa KKN Bukannya Mengharukan malah Menyebalkan Gara-gara Sikap Warga, Ekspektasinya Terlalu Berlebihan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 21 Agustus 2025 oleh

Tags: KKNmahasiswa kknpencurian kknpilihan redaksiprogram KKN
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Saya Hanya Ingin Kuliah, tetapi Crab Mentality di Desa Menganggap Saya Lupa Diri MOJOK.CO
Esai

Saya Hanya Ingin Kuliah, tetapi Crab Mentality di Desa Menganggap Saya Lupa Diri

23 Juli 2026
Curhat kasir Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih di jalanan desa sepi. Sepi pembeli, sekali ada pembeli bukan karena butuh tapi iseng dan bikin kesel MOJOK.CO
Sehari-hari

Derita Kasir Kopdes di Desa Pelosok: Hari-hari Sepi, Pembeli Datang Bukan karena Kebutuhan tapi Sengaja Bikin Kesal

21 Juli 2026
Cari kerja, lamaran kerja, Mahasiswa gap year kuliah di Unila. MOJOK.CO
Sehari-hari

Kesalahan Bikin CV dan Hal-Hal Sepele Lain yang Justru Bikin Jobseeker Ditolak Saat Melamar Kerja

16 Juli 2026
cari kerja, UGM.MOJOK.CO
Sehari-hari

300 Lamaran Kerja Ditolak, Lulusan UGM Pilih “Turunkan Standard”: Sadar Bursa Kerja Sedang Tak Baik-Baik Saja

15 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pilih jadi tukang cukur rambut rumahan dan barbershop saat teman sebaya kerja di luar negeri. Dicap pemalas tetangga, hidup berkecukupan malam dicurigai MOJOK.CO

Pilih Jadi Tukang Cukur Rumahan saat Teman Kerja di Luar Negeri: Dicap Pemalas Tetangga, Terlihat Berkecukupan Malah Dicurigai

22 Juli 2026
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi tuan rumah “1st Asian Gym for Life Challenge 2026” 1. MOJOK.CO

Jogja Jadi Tuan Rumah Lomba Gym se-Asia usai Thailand Mundur, Semua Kalangan Bebas Ikut Tanpa Beban Menang-Kalah

20 Juli 2026
Menertawakan Polemik Sosial, Arie Kriting Siap Bawa "Mungkin Ada Benarnya" ke Jogja.mojok.co

Menertawakan Polemik Sosial, Arie Kriting Siap Bawa “Mungkin Ada Benarnya” ke Jogja

16 Juli 2026
Bintang Lima untuk Kemasan Paket: Konsumen Puas, Sampah Bubble Wrap Jadi Petaka Lingkungan MOJOK.CO

Bintang Lima untuk Kemasan Paket: Konsumen Puas, Sampah Bubble Wrap Jadi Petaka Lingkungan

22 Juli 2026
Milenial di Job Fair Yogyakarta 2026 cari peluang kerja di luar negeri. MOJOK.CO

Muak dengan Syarat Kerja di Indonesia: Gaji Numpang Lewat hingga Terbatas Usia, Milenial Pilih Cari Kerja ke Luar Negeri

16 Juli 2026
Dalang cilik perempuan asal Klaten yang menyukai wayang. MOJOK.CO

Jadi Perempuan Satu-satunya di Lomba Dalang Anak Klaten, Bocah 13 Tahun Ini Buktikan Wayang Tak Kenal Gender

22 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.