Demografi di Indonesia tengah menghadapi perubahan yang krusial dalam dua dekade ke depan, salah satunya penambahan jumlah warga lanjut usia (lansia) yang masih gagap menjalani masa pensiunan.
***
Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat akan ada lebih dari 14 persen penduduk diperkirakan berusia di atas 60 tahun pada tahun 2035. Angka ini diproyeksikan meningkat menjadi 20 persen atau sekitar 63 juta jiwa pada 2045.
Perubahan demografi tersebut menuntut Indonesia untuk memenuhi kebutuhan ekosistem, kebijakan, dan infrastruktur yang memadai guna memastikan proses penuaan yang sehat, inklusif, dan tetap produktif.
Dengan dukungan yang tepat, kelompok lanjut usia dapat terus berkontribusi secara optimal dalam kehidupan sosial dan ekonomi. Salah satu dukungan tersebut dilakukan oleh Bank DBS Indonesia bersama DBS Foundation yang meluncurkan kampanye “Pensiun Gak Susah”.
Kampanye itu bertujuan mendorong masyarakat merencanakan masa depan sejak dini agar dapat menikmati kehidupan yang berkualitas, sejahtera, dan bermakna di usia pensiun.
Upaya memberdayakan populasi manula
Head of Group Marketing & Communications PT Bank DBS Indonesia, Mona Monika berujar pensiun bukan lagi fase akhir yang dipikirkan belakangan, justru harus dipikirkan sebelum masa itu tiba. Ia adalah bagian dari perjalanan hidup yang harus dirancang sejak dini dan disesuaikan dengan dinamika kehidupan.
“Sebagai purpose-driven bank, Bank DBS Indonesia berkomitmen memberdayakan populasi menua, salah satunya melalui panduan dan wawasan menyeluruh untuk membantu masyarakat merencanakan pensiun secara holistik, agar setiap individu dapat menikmati hidup yang bermakna di setiap fase usia,” ujar Mona Monika dikutip dari keterangan resmi, Rabu (28/1/2026).
Sejalan dengan aspirasi ‘Best Bank for a Better World’, DBS Foundation secara konsisten menempatkan ageing society sebagai salah satu fokus utamanya. Pendekatan ini berangkat dari keyakinan bahwa peningkatan usia harapan hidup perlu diiringi dengan kualitas hidup yang baik, sehingga setiap individu dapat menjalani proses menua secara bermartabat, bermakna, dan berdaya.
Kalkulator khusus untuk merancang kebutuhan pensiun
Sebagai bagian dari kampanye “Pensiun Gak Susah”, Bank DBS Indonesia menghadirkan Retirement Goal Calculator, sebagai referensi awal bagi masyarakat untuk merencanakan kebutuhan pensiun secara menyeluruh dan terarah.
Kalkulator ini dirancang untuk membantu individu memahami gambaran kebutuhan finansial di masa depan. Tidak hanya dari sisi kebutuhan dasar, tetapi juga gaya hidup yang ingin dipertahankan di usia pensiun.
Sejalan dengan misi ‘Live more, Bank less’, alat ini mencerminkan komitmen Bank DBS Indonesia dalam menyederhanakan berbagai aspek perbankan dan perencanaan keuangan yang kerap terasa kompleks, sehingga masyarakat dapat lebih fokus menikmati hidup serta mempersiapkan masa depan dengan lebih tenang dan percaya diri.
Sebagai ilustrasi, Reza saat ini berusia 30 tahun, berencana pensiun pada usia 55 tahun, dan memiliki harapan hidup hingga usia 71 tahun. Berikut rincian pemasukan dan pengeluarannya:
|
Dana tabungan |
Pengeluaran |
|
|
Dengan estimasi kebutuhan pensiun sekitar Rp19,5 juta per bulan (dalam nilai hari ini) dan masa pensiun 16 tahun, maka Reza memerlukan dana sekitar Rp2.521.591.343 atau Rp19.666.667 per bulan.
Estimasi ini memperhitungkan asumsi inflasi sebesar 3,1 persen serta imbal hasil investasi tahunan rata-rata 5,57 persen. Perhitungan ini sudah mencakup kebutuhan dasar, termasuk makanan, utilitas, dan belanja bulanan, serta kebutuhan lain seperti belanja pakaian, olahraga, serta liburan.
Meski begitu, kesiapan pensiun tidak hanya ditentukan oleh dana. Bagi banyak orang, masa pensiun juga membawa perubahan besar dalam rutinitas, peran, dan rasa tujuan hidup. Tanpa perencanaan yang matang, transisi ini kerap terasa mengejutkan dan menantang.
Oleh karena itu, memahami kebutuhan dan ekspektasi sejak dini menjadi langkah penting agar masa pensiun dapat dijalani sebagai fase kehidupan yang tetap aktif, bermakna, dan produktif.
Anda dapat menghitung persiapan masa pensiun menggunakan Retirement Goal Calculator yang tersedia di sini.
Jangan menunda perencanaan pensiun
Founder & CEO sekaligus Lead Financial Trainer at QM Financial, Ligwina Hananto berujar banyak orang menunda perencanaan pensiun, karena menunggu momen yang dianggap ideal. Misalnya, penghasilan stabil, tanggungan berkurang, atau kondisi ekonomi membaik.
“Padahal, perencanaan pensiun tidak menuntut kesempurnaan, melainkan kesinambungan. Baik dimulai di usia 20-an maupun 40-an,” kata Ligwina.
Menurutnya, keputusan paling krusial adalah memulai sekarang dengan pendekatan yang relevan terhadap kondisi saat ini. Dengan begitu, strategi yang dibangun tetap adaptif dan mampu bertumbuh seiring perubahan fase hidup.
Ia menjelaskan, salah satu strategi praktis yang bisa diterapkan adalah formula pos pengeluaran 10/20/30/40. Dari pendapatan bulanan, idealnya minimal 10 persen dialokasikan untuk menabung atau investasi, maksimal 20 persen untuk gaya hidup, maksimal 30 persen untuk cicilan, dan sisanya 40 persen untuk kebutuhan rutin sehari-hari.
Pentingnya proteksi dalam investasi
Masa pensiun adalah fase hidup di mana ketenangan, keamanan, dan kualitas hidup menjadi prioritas. Perencanaan yang matang mengajarkan bahwa menumbuhkan dana saja tidak cukup, tetapi juga harus memerhatikan perlindungan yang memadai, seiring meningkatnya ketidakpastian dan tantangan kehidupan.
Head of Investment & Insurance Products, Consumer Banking Group PT Bank DBS Indonesia Djoko Sulistyo, berujar investasi perlu dilakukan dengan bijak, digabungkan dengan proteksi asuransi. Dengan begitu, nasabah dapat menjaga daya beli dan aset, memperoleh ketenangan pikiran, tetap mandiri, dan menikmati masa tua dengan percaya diri.
“Sebagai mitra tepercaya dalam manajemen kekayaan, Bank DBS Indonesia berkomitmen mendampingi nasabah di setiap fase kehidupan melalui solusi perbankan yang mendukung kesiapan pensiun,” ujarnya.
Ekonomi lansia menawarkan peluang investasi strategis
Urgensi perencanaan pensiun yang menyeluruh ini juga tercermin dalam perubahan demografi global. Penemuan pada CIO Insights bertajuk “Ekonomi Umur Panjang” mengungkapkan bahwa harapan hidup manusia meningkat secara tajam dari sekitar 40 tahun pada 1900 menjadi lebih dari 74 tahun saat ini.
Lonjakan ini tidak hanya akan mendorong peningkatan pengeluaran untuk pengobatan penyakit terkait usia, tetapi juga memperkuat permintaan akan layanan kesehatan dan sistem pensiun yang lebih matang.
Perubahan tren ini membuka peluang strategis untuk mengembangkan silver economy, yaitu aktivitas ekonomi yang fokus pada pemenuhan kebutuhan sekaligus pemberdayaan kelompok lansia.
Ekosistem ini mencakup berbagai sektor, mulai dari layanan kesehatan, perumahan, dan transportasi, hingga teknologi dan gaya hidup. Semuanya dirancang untuk meningkatkan kualitas hidup lansia.
Kondisi ini menempatkan ekonomi lansia pada titik infleksi, didorong oleh kemajuan teknologi medis, aliran modal yang meningkat, serta tren penuaan populasi yang semakin nyata. Dengan potensi pasar bernilai triliunan dolar, ekonomi lansia ke depan menawarkan peluang investasi yang semakin relevan, strategis, dan menarik.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Kebaikan Seorang Pensiunan Dokter yang Dikenang Mahasiswa Jogja, Berikan Tempat Inap Gratis hingga Dianggap Seperti Keluarga atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
