Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Iseng Jadi Pengamen Liar di Jogja: Sehari Dapat Cuan Menggiurkan, Tolong Saya saat Luntang-lantung karena Puluhan Kali Gagal Kerja

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
11 Juli 2025
A A
Iseng jadi pengamen liar di Jogja: sehari bisa Rp300 ribu-Rp500 ribu, bantu bertahan hidup saat puluhan lamaran kerja tidak ada yang tembus MOJOK.CO

Ilustrasi - Iseng jadi pengamen liar di Jogja: sehari bisa Rp300 ribu-Rp500 ribu, bantu bertahan hidup saat puluhan lamaran kerja tidak ada yang tembus. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Saat luntang-lantung di Jogja usai puluhan lamaran kerja tak membuahkan hasil, menjadi pengamen liar akhirnya jadi solusi untuk bertahan hidup. Niat cari recehan, eh ternyata menyadari kalau profesi ini menjadi ceruk cuan yang sangat menggiurkan. Penghasilan sebagai pengamen liar di Jogja bisa ratusan ribu perhari.

***

Nekat. Akbar (23) merantau ke Jogja hanya berbekal satu kata itu.

Sejak lahir hingga umur 23 tahun, Akbar menghabiskan waktunya di Sidoarjo dan Surabaya. Selama itu pula, dia merasa mengalami kekeringan jiwa. Pasalnya, aspirasinya pada dunia seni—terutama musik—tidak tersalurkan secara maksimal di dua kota tersebut.

Oleh karena itu, jelang kelulusannya dari sebuah kampus di Surabaya, Akbar mulai mempertimbangkan untuk merantau ke luar daerah. Jogja menjadi satu nama daerah yang memiliki magnet sangat kuat baginya.

Tanpa banyak pertimbangan, Akbar pun mantap memilih Jogja sebagai jujukan perantauan. Hari Minggu Akbar wisuda, Senin esoknya dia langsung bertolak ke Jogja.

Merantau modal bawa gitar

Tak ada perhitungan matang dia mau tinggal di mana dan akan melakukan apa. Pokoknya berangkat dulu. Saat itu dia hanya membawa ransel berisi pakaian, beberapa lembar uang untuk transportasi, dan sebuah gitar.

“Pas sampai di Jogja aku ingat kalau aku punya kenalan dulu senior di kampus. Aku hubungi, dan untungnya aku ditampung di mes kafenya. Dia kan punya kafe,” ucap Akbar saat kami bertemu di sebuah kedai kopi di Ngaglik, Sleman, Sabtu (5/7/2025) malam WIB.

Untungnya, si senior tersebut tidak hanya memberi Akbar tumpangan untuk tidur. Tapi juga mempekerjakan Akbar untuk bantu-bantu di kafenya.

“Ya dibilang, upahnya semampu-mampu beliau. Aku nggak masalah lah, sudah ditampung aja terima kasih,” kata Akbar.

Nyaris putus asa usai kirim puluhan lamaran kerja

Sembari serabutan di kafe, saat itu Akbar mencoba melempar puluhan lamaran kerja ke berbagai perusahaan. Waktu itu tentu belum ada bayangan menjadi pengamen liar di Jogja.

Namun, ijazah S1-nya, kendati dari sebuah kampus ternama, ternyata tidak menarik banyak perusahaan di Jogja.

Akbar nyaris saja putus asa. Tapi dia ingat, sejak awal dia berangkat ke Jogja, niatnya memang bertaruh. Seperti kata Pramoedya Ananta Toer: Hidup yang tidak dipertaruhkan, tidak akan pernah dimenangkan.

“Tapi di tengah putus asa itu, kok malah ada satu lamaran kerjaku yang diterima. Itu di lembaga swasta yang bergerak di bidang cagar budaya. Alhamdulillah, langsung kerja lah aku,” tutur Akbar.

Iklan

Baca halaman selanjutnya…

Baru 3 bulan kerja eh berakhir luntang-lantung, iseng ngamen eh cuannya bikin ketagihan 

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 12 Juli 2025 oleh

Tags: JogjaPengamenpengamen jogjapengamen liarpengamen liar jogjapenghasilan pengamenpenghasilan pengamen jogjapilihan redaksi
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Pengamen di Jalan Malioboro Jogja kayak orang malak MOJOK.CO
Catatan

Saya Jauh Lebih Rispek ke Pengamen Lampu Merah di Jogja daripada Pengamen Malioboro karena Dua Alasan

6 Agustus 2026
Tangan-tanga pembuat apem ya qowiyyu: alasan kue tradisional khas Jatinom, Klaten, tak lekang waktu MOJOK.CO
Eksplor

Tangan-tangan Pembuat Apem Ya Qowiyyu: Alasan Kue Tradisional Jatinom Klaten Tak Lekang Waktu

4 Agustus 2026
Karnaval sound horeg getarkan Jawa Timur tiap Agustusan. Dosa jariah di balik gengsi antardesa, dalih selawatan, hingga perputaran ekonomi di bawah MOJOK.CO
Sehari-hari

Jatim Bergetar Tiap Agustusan: Dosa Jariah Sound Horeg di Balik Gengsi Antardesa hingga Selawatan Sambil Berjoget Seksi

3 Agustus 2026
Biaya kos, kisah mahasiswa.MOJOK.CO
Sekolahan

Bertahan di Kos Tanpa Jendela yang Berisik dan Sepanas Oven, Semua Demi Ngirit dan Lolos Ancaman DO Kampus

30 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Selamat Jalan Nasirun: Kisah di Balik Sang Maestro Nggak Mau Punya HP MOJOK.CO

Selamat Jalan Nasirun: Kisah di Balik Sang Maestro Nggak Mau Punya HP

1 Agustus 2026
Ruang Publik dan Hak untuk Tidak Dijadikan Konten Influencer MOJOK.CO

Ruang Publik dan Hak untuk Tidak Dijadikan Konten Influencer

3 Agustus 2026
Derita lansia pakai cashless seperti QRIS. MOJOK.CO

Derita Lansia Tak Bisa Beli Roti Hanya karena QRIS yang Menghantui

4 Agustus 2026
Derita jadi topping tongkrongan: niat bergaul biar tidak dicap nolep, tapi sering tidak dianggap saat nongkrong MOJOK.CO

Serba-serbi Jadi Topping Tongkrongan: Ikut Nongkrong biar Tak Dicap Nolep, Cuma Jadi Pelengkap dan Tak Dianggap

4 Agustus 2026
Token listrik lebih awet setelah mengubah kebiasaan kecil di rumah (Unsplash)

Token listrik lebih awet setelah saya mengubah kebiasaan kecil di rumah

7 Agustus 2026
Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X bertemu dengan tim KKP membahas program budi daya ikan tematik. (Sumber: Humas Pemda DIY)

64 Lokasi di Kalurahan DIY Kecipratan Jatah Program Budi Daya Ikan Tematik dari KKP

5 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.