Gagal Membangun Karier di Sidoarjo, Putuskan Pindah ke Tuban untuk Buka Usaha Sendiri hingga Raup Gaji Melimpah

Jadi penjual taoge di Tuban usai lulus SMA karena tak mampu membangun karier di Sidoarjo. MOJOK.CO

ilustrasi - Imroatul Azizah (24) berjualan taoge di pasar tradisional Tuban. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Peluang bisnis bisa muncul dari mana saja dan di mana saja. Perempuan lulusan SMA ini berhasil membuktikannya. Berkat rebahan dan seharian scroll media sosial ia mampu mendapatkan ide menarik berjualan taoge dengan keuntungan gaji melebihi UMK Tuban, Jawa Timur, setelah sebelumnya gagal memulai karier di Sidoarjo.

***

Imroatul Azizah (24) tak pernah membayangkan bisa menjadi pedagang taoge di pasar usai lulus SMA. Padalah, pekerjaan itu sama sekali tak ada dalam daftar tangga kariernya. Setelah lulus SMA, ia langsung mondok seperti saran dari kedua orang tuanya.

Lulus dari pondok, perempuan asal Tuban itu langsung merantau ke Sidoarjo untuk mengajari anak-anak mengaji di taman pendidikan Al-Qur’an (TPQ) selama dua tahun. Namun, karena merasa mentok dengan kariernya di Sidoarjo, ia pun memutuskan kembali ke Tuban sambil membuat perencanaan ulang.

Nyatanya, setelah kembali dari Sidoarjo ke Tuban ia malah sering rebahan. Tak tahu harus berbuat apa. Waktunya ia habiskan untuk meng-scroll media sosial. Berbulan-bulan, ia hanya melihat konten-konten yang menghibur dan sesekali mengajar mengaji di langgar dekat rumahnya. 

Sampai kemudian, ia nyasar ke Youtube dan menemukan ide bisnis menarik yang bisa dilakukan di Tuban yakni tutorial membuat taoge. Namun, tutorial saja ternyata tak cukup. Ia butuh belajar menjadi pedagang.

Masih awam cara berdagang di pasar tradisional Tuban

Dari tutorial yang ada di Youtube, Azizah langsung membeli bahan-bahan yang ada, mulai dari kacang hijau, protein, serbuk, hingga obat merah. Untuk membeli semua bahan itu di Tuban, Azizah perlu menghabiskan tabungannya sebesar Rp1 juta.

“Bisnisku ini tanpa suntikkan dana dari orang tua. Jadi Rp500 ribu aku gunakan untuk membeli protein, serbuk, dan obat merah. Setengahnya lagi aku gunakan untuk membeli kacang hijau lokal di Tuban, karena kalau impor mahal walaupun kualitasnya lebih bagus,” tutur Azizah kepada Mojok, Senin (3/11/2025).

Setelah menyiapkan bahan, langkah ini yang Azizah lakukan selanjutnya untuk menyulap kacang hijau menjadi taoge:

  1. Cuci kacang hijau sampai bersih dan rendam sekitar 5-6 jam.
  2. Setelah itu, buang air rendaman dan pindahkan kacang hijau ke wadah berlubang yang dilapisi kain lembap. 
  3. Lalu taburkan serbuk protein ke kacang hijau. Rendam lagi dengan air, setelah itu tutup dengan kain selama 14-15 jam.
  4. Selanjutnya, tiriskan kacang hijau dan beri air kapur hingga 9-10 jam.
  5. Usai 9-10 jam, tambahkan protein siram dan diamkan selama 24 jam.
  6. Setelah itu beri obat merah khusus taoge tunggu sampai 11-12 jam.

Baca Halaman Selanjutnya

Belajar secara otodidak tapi sempat gagal berminggu-minggu

Lulusan SMA tersebut mengaku cara di atas ia pelajari sambil jalan atau trial and error, selain menonton tutorial di Youtube. Sebab, ia pernah rugi selama dua minggu berturut-turut karena puluhan kilo taoge yang ia buat sempat busuk.

Sontak, kejadian itu membuat Azizah sedih hingga nyaris tak ingin melanjutkan usahanya. Namun, berkat proses belajarnya, ia kini mampu menghasilkan taoge sebanyak 27 kilogram per hari dengan keuntungan puluhan juta.

Kuntungan bisa dua kali lipat dari modal

Tak hanya masalah mengolah taoge, Azizah mengaku kebingungan untuk memperjualbelikan taoge tersebut di Tuban. Ia tak tahu bagaimana cara mencari pasarnya, serta bagaimana mengemasnya, hingga menjualnya dengan harga berapa?.

“Awalnya aku nggak memikirkan hal itu sama sekali, sehingga waktu produknya sudah jadi aku bingung mau diapakan,” kata Azizah. 

Beruntung, perempuan lulusan SMA itu tak malu bertanya langsung ke bulek-nya yang punya pengalaman dagang di pasar tradisional. Berkat saran dari bulek-nya, Azizah akhirnya tahu cara berdagang.

“Aku mulai kemasi taoge ke plastik yang ukurannya 13×29. Satu plastik isinya 250 gram terus aku iket jadi tiga plastik. Satu iket tadi aku jual dengan harga Rp2 ribu ke pedagang sayur keliling. Nanti mereka jual satu plastiknya Rp1 ribu,” tutur Azizah.

Tak hanya menjual taoge ke pedagang sayur keliling, Azizah juga membuka lapaknya di pasar tradisional dekat rumahnya di Tuban. Setiap pukul 02.00 WIB ia sudah harus bangun dan mempersiapkan diri berangkat ke pasar. 

Meski lelah, tapi ia lakoni pekerjaan itu dengan gembira. Dari penjualan taogenya itu, Azizah mampu meraup untung sekitar Rp5 juta dalam sebulan. Bahkan dari gajinya itu, ia mampu membeli sepeda motor pribadi.

“Sejujurnya pekerjaan ini nggak pernah ada dalam list cita-citaku, tapi justru pekerjaan ini lah yang berhasil membawaku sejauh ini. Menjadikanku pribadi yang kuat, sabar, dan selalu bersyukur pada apa yang Allah kasih,” ucap lulusan SMA tersebut.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Rintihan Pedagang Cendol di Jakarta, Kerja Mati-matian Hanya Dapat Upah Kecil demi “Menggaji” DPR agar Hidup Sejahtera atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version