Film Suka Duka Tawa yang tayang di bioskop pada 8 Januari 2026 ini tak hanya menghadirkan banyak adegan jenaka, tapi juga getirnya hidup menjadi orang lucu. Mulanya, penonton dibuat menahan tawa di adegan pertama dan perlahan lepas hingga akhir. Begitu juga dalam proses penyembuhan luka.
***
Saat saya SMP, Bapak selalu menguasai televisi di malam hari. Ia selalu menjadwalkan nonton Opera van Java (sketsa komedi terkenal pada zamannya), lalu stand-up comedy setiap pukul 19.00 WIB. Alhasil, saya jadi ikutan suka dengan acara-acara tersebut. Karena acara itu, saya dan bapak bisa tertawa bersama.
Namun, menonton film “Suka Duka Tawa” yang dibalut dengan komedi jujur malah membuat saya kurang bisa tertawa lepas. Apalagi ceritanya mengangkat isu soal fatherless, di mana tokoh utama bernama Tawa (diperankan oleh Rachel Amanda) adalah seorang komedian yang memiliki persona “yatim pasif”.
Ironi. Di balik tawa lepas saya melihat stand-up comedy bersama Bapak dulu. Kini, saya harus menertawakan kisah seorang komedian yang berusaha membuat penonton tertawa dengan kisah masa lalunya yang kelam.

Meski terlihat kejam, tapi saya tahu bukan hanya itu pesan yang ingin disampaikan Aco Tenriyagelli, sang sutradara film “Suka Duka Tawa” kepada penonton. Dalam film debutnya itu, Aco ingin menunjukkan perjalanan emosional manusia dan cara mereka memaknai tawa sebagai proses menyembuhkan luka.
“Buat saya, tawa itu bisa jadi peredam luka, bahkan pengobat dari semua luka,” kata Aco dikutip dari Tempo, Selasa (13/1/2026).
Di balik tawa seorang komedian dalam “Suka Duka Tawa”
Berangkat dari perenungannya soal menertawakan luka masa lalu, Aco ingin memperkenalkan tokoh utama bernama Tawa (Rachel Amanda), seorang komika perempuan dengan persona “Yatim Pasif” di film “Suka Duka Tawa” karya pertamanya. Namanya saja yatim pasif, artinya Tawa “merasa” tak punya seorang bapak.
Berbeda dengan makna yatim secara harfiah yang ditinggal mati oleh bapak, bapak Tawa sebetulnya masih hidup. Hanya saja perannya sebagai bapak sering absen. Dalam dunia psikologi, isu ini dikenal dengan istilah fatherless.
Di awal film, penonton sudah disajikan adegan perjuangan Tawa yang dituntut mandiri bersama ibunya Cantik (Marissa Anita) tanpa kehadiran ayahnya, Hasan Keset (Rifnu Wikana). Mulai dari susahnya bekerja, bayar kos-kosan, sambil merintis karier sebagai seorang komedian dengan open mic di kafe.
Beruntung, Tawa masih memiliki teman-teman yang selalu mendukungnya di situasi apapun. Mereka adalah Adin (Enzy Storia), Nasi (Arif Brata), Fachri (Gilang Bhaskara), dan Iyas (Bintang Emon). Dari interaksi mereka lah justru penonton bisa tertawa meski animonya tidak besar dan kurang mendalam.
Sementara, adegan open mic Tawa sendiri di kafe masih terasa kurang lucu dalam film “Suka Duka Tawa”. Ledakan tawa baru ia dapatkan saat Tawa menceritakan keresahannya soal Hasan Keset, bapaknya yang kini sukses menjadi aktor komedi sketsa televisi.
Dalam materi stand-up comedy-nya, Tawa menceritakan aib bapaknya yang meninggalkan keluarga sejak Tawa masih kecil tapi dibalut dengan komedi satir. Tanpa disangka, materi itu sukses membuat penonton tertawa dengan persona yatim pasifnya.
Lagu-lagu yang mewakili cerita sehingga terasa hidup
Sebagai aktor yang memulai karier sejak kecil, akting Rachel Amanda sebagai Tawa tak bisa diragukan. Chemistry-nya terjalin apik dengan aktor kawakan Teuku Rifnu Wikana yang berperan sebagai bapak.
Bak seorang “Joker”, Teuku Rifnu berhasil menunjukkan karakter bapak yang tampak bahagia di luar tapi rapuh di dalam. Bekerja untuk membuat orang-orang tertawa lewat perannya sebagai korban sketsa komedi di televisi, tapi meninggalkan anak dan istri.
Setelah 20 tahun berlalu, barulah ia sadar bahwa mimpinya itu telah mengorbankan banyak hal, termasuk kebahagiaannya bersama keluarga. Lewat pengalamannya menjadi seorang komedian, Tawa akhirnya paham dan perlahan mulai bisa memaafkan bapaknya. Ia pun menyadarkan bapaknya untuk meminta maaf, tak hanya ke Tawa tapi ibunya.
“Bapak sadar nggak sih yang dilakuin Bapak itu salah?” tanya Tawa.
“Kalau kesempatan kedua itu masih ada, tolong terima maaf Bapak.” Ujar Hasan Keset yang disambut lagu epik karya The Lantis berjudul “Bunga Maaf”.
Pada akhirnya, film Suka Duka Tawa tak hanya mengajak penonton untuk tertawa lewat stand-up comedy, tapi memaafkan peristiwa menyakitkan di masa lalu untuk kehidupan masa kini. Seperti lagu The Adams berjudul “Timur”.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: “Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah”: KDRT Tidak Selalu Datang dari Kekerasan, tapi Juga Lewat Ketidakpedulian atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan