Derita Mahasiswa Wonogiri Kena Jebak Grup Telegram Lowongan Kerja

Ilustrasi Derita Mahasiswa Wonogiri Kena Jebak Grup Telegram Lowongan Kerja. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Awalnya hati berbunga-bunga karena dapat uang cuma-cuma dari ikut grup Telegram. Namun, lama kelamaan justru harus keluar uang sampai terjerat utang di pinjaman online.

***

Fandi (19), mahasiswa semester tiga di perguruan tinggi negeri di Semarang ini awalnya berencana mengisi waktu kosongnya di sela-libur kuliah dengan mencari kerja pada Desember 2023 silam. Mahasiswa asal Wonogiri, Jawa Tengah ini kemudian melakukan penelusurannya lowongan kerja di Telegram. 

Semua berawal dari grup Telegram lowongan kerja di Wonogiri

“Ketemu grup lowongan kerja Wonogiri. Saya tertarik karena Wonogiri kan asal daerah saya, dan pekerjaannya online,” kata Fandi saat dihubungi Mojok, Senin (23/01/2024). Fandi makin yakin dengan informasi dari admin Telegram yang ia hubungi karena si admin akun grup Telegram centang biru. 

Fandi awalnya mendapat penjelasan kalau sistem kerjanya freelance dengan komisi 20 persen. Hitung-hitungannya, ia bisa dapat komisi hingga Rp150-300 ribu per hari, tanpa target penjualan. 

“Penampilan profilnya si admin itu meyakinkan menurut aku. Padahal ya nggak ada nomor kontak dan nggak ada nama perusahaan di profilnya, tapi dengan bodohnya aku yakin itu resmi,” katanya. 

Tentang Telegram, bagi Andi bukan sesuatu yang asing. Saat SMA ia pernah jadi admin bot di Telegram. “Aku sama sekali nggak nyangka pengalaman pertamaku nyari kerja jadi kaya gini. Maksudnya betapa bodoh dan begonya aku, seorang mahasiswa yang kritis dalam menanggapi berbagai isu-isu sosial justru kena tipu saat mencari pengalaman kerja pertamanya,” katanya dengan nada pelan.

Fanda lantas bercerita bagaimana modus admin di grup Telegram memperdayanya. Dari si admin, ia mendapat penjelasan jika pekerjaannya adalah membeli produk di sebuah akun website dengan cara fiktif. Nantinya ia akan mendapat komisi. Semakin banyak membuat pesanan maka semakin banyak komisi yang ia dapatkan.

Kerja lakukan pemesanan fiktif dibayar dengan komisi

Fandi bertanya pada admin tersebut bagaimana sistem kerjanya. “Terus dia jawab, intinya sih kerjanya itu ngelakuin pemesanan fiktif di salah satu perusahaan ternama yang kolaborasi sama Shopee. Aku tu sebenernya sempet curiga, kenapa kerjanya itu ngelakuin pemesanan fiktif, kaya gunanya apa buat pemasaran?,” kata Fandi.

Fandi lantas mengecek di e-commerce tersebut dan ternyata memang ada nama perusahaannya serta merupakan brand terkenal. “Saya tanya ke admin grup Telegram tersebut, ‘ini resmi nggak’. Nah, dia jelasin panjang lebar dan meyakinkan kalau pekerjaan yang aku lakukan terbukti bisa menghasilkan pendapatan tanpa risiko,” katanya. 

Fandi akhirnya patuh dengan panduan admin grup Telegram tersebut. Admin tersebut kemudian memberi link ke website. “Di website itu, aku disuruh masukin nama, nomor telepon dan bikin password baru. Dia ngasih step-step dalam bentuk gambar, jadi dipandu gitu. Setelah berhasil daftar, aku dapat bonus saldo Rp30.000 dari mereka,” kata Fandi. 

Dari saldo itu, Fandi mendapat perintah untuk mengambil pesanan dan pengiriman pesanan fiktif. Fandi mendapat penjelasan, jika ia bisa menyelesaikan sampai 20 pesanan, ia akan mendapat komisi 20 persen dari total seluruh saldo yang ia punya.  

“Aku ngambil 1 pesanan yang harganya cuma Rp12.000. Terus lanjut sampe pemesanan-pemesanan selanjutnya. Di pemesanan ke-5, itu harga barangnya mulai tinggi dan saldo yang aku punya dari bonus pendaftaran tadi nggak cukup. Jadi itu sistemnya, kalo kita ngajuin pemesanan, saldo kita sebenernya nggak berkurang tapi malah nambah jadi berapa gitu. Tapi di pesanan ke-5, posisi saldo akun di website beneran nggak cukup soalnya pemesanan barangnya nyampe angka 400 ribu rupiah,” jelas Fandi.

Utang pinjol karena bujuk rayu admin grup Telegram

Fandi lantas bertanya ke admin lewat chat di Telegram, mengapa ia tidak bisa mengambil pesanan lagi. Admin grup Telegram tersebut lantas membalas dengan sok antusias. “Wah kakak hebat, jarang-jarang pengguna baru dapat pesanan besar,” kata Fandi menirukan balasan admin. 

Fandi lantas bertanya bagaimana caranya ia bisa mengambil pesanan, sementara saldo yang ia miliki dari komisi nggak cukup. Fandi mendapat jawaban jika ia harus mengisi saldonya menggunakan uang beneran. 

“Waktu itu kurang 86 ribu rupiah buat ngisi saldonya, terus aku isi saldo di website itu pake uang rekening aku sendiri, biar bisa ngambil pesanan. Dijanjikan juga sama dia, kalo nanti dia bakal bilang ke atasannya supaya aku ga dapet pesanan besar lagi,” kata Fandi.

korban penipuan di grup telegram makin banyak MOJOK.CO
Banyak penipu yang memanfaatkan Telegram. (Logo Telegram/Photo by Dima Solomin on Unsplash)

Fandi kemudian mendapatkan komisi yang besar. Namun, angka itu hanya ada di website, bukan di rekeningnya. Fandi lantas memesan barang lagi menggunakan saldo yang ia punya. Tiga pesanan selanjutnya aman karena angkanya masih dibawa saldo yang ia punya. 

Ketika akan memesan barang lagi, ternyatanya harganya tembus Rp1,5 juta. Fandi komplain ke admin ke grup Telegram karena katanya admin akan membantunya agar harga barang tidak lebih dari saldo yang ia miliki.

“Admin ini menjanjikan akan minjemin uang buat nambah saldo yang harus kuisi. Aku setuju, tapi karena sudah nggak ada uang sama sekali, aku pinjam ke temenku Rp50 ribu. Karena belum cukup, aku daftar pinjaman online di hari itu juga sebesar Rp 500 ribu,” cerita Fandi.

Baca halaman selanjutnya

Janji manis penipu admin grup Telegram

Janji manis penipu admin grup Telegram

Dari uang pinjol itu, Fandi bisa kembali memesan barang lagi. Hingga ke pemesanan ke-10 harga barang semakin tinggi. Admin Grup Telegram pura-pura baik dengan menambah saldo di website sebesar Rp300 ribu. Padahal menjanjikan Rp500 ribu. “Dia bilang, itu juga pinjam dari temannya. Admin juga bilang pas pemesanan ke-10 aku bisa narik seluruh saldonya. Aku sedikit bingung, awalnya kan dapat komisi aja, kok jadi seluruh saldonya, tapi aku bodo amat waktu itu soalnya, aku takut dan pengen uang aku balik,” kata Fandi. 

Karena bujuk rayu dan keinginan uang kembali, Fandi lantas pinjam lagi ke pinjol. Besarannya Rp1juta, sesuai dengan kekurangan di saldonya untuk bisa mengambil pesanan lagi. “Sampai pemesanan ke-10, waktunya narik saldo dari seluruh website, total itu sudah sampai Rp3,7 juta,” kata Fandi.

Fandi lantas bilang ke admin grup Telegram dan admin tersebut memberi langkah-langkah untuk penarikan saldo. Fandi pun mengikuti langkah-langkah tersebut dan menarik semua saldo sampai tersisa nol. 

“Aku nunggu di rekening aku yang tinggal tersisa 36.000. Tapi udah lama ditunggu nggak masuk-masuk. Aku chat lagi adminnya dan tau ngga dia jawab apa? Dia bilang aku kena denda soalnya narik seluruh saldo di website itu,” kata Fandi geram. 

Dan ia semakin sadar masuk dalam perangkap penipu di grup Telegram itu ketika admin itu memberi syarat dendanya adalah ia harus melakukan 3 pesanan lagi. “Aku udah ngerasa ini penipuan dan mereka cuma mau meras aku doang,” kata Fandi.

Admin janji bantu jual kalung rantai emasnya

Fandi kemudian dihubungi admin tersebut dan menyatakan akan membantu, bahkan akan menjual rantai emasnya. Admin itu juga berjanji pada pesanan ke-12 selesai, Fandi bisa mnarik seluruh saldonnya. Sebagai bukti, mereka mengembalikan saldo milik Fandi hingga utuh. Fandi dengan gobloknya akhirnya tetap melakukan pesanan dengan saldo tersebut. Sampai kemudian pada pesanan ke-12 harga barangnya sampai Rp10 juta. 

“Sial, mereka nipu aku, sisa saldo di website nggak cukup dan selisih saldo website sama harga barangnya itu 6 jutaan. Aku bener-bener ngerasa hilang harapan, aku kelilit hutang dan uang aku habis nggak bersisa,” katanya memelas. 

Admin grup Telegram tersebut terus mengirimkan chat membujuk Fandi dan berjanji untuk membantunya dengan meminjamkan uangnya. “Tapi aku yakin itu bohong. Aku nyerah dan berhenti dari permainan mereka. Nggak mau kehilangan uang lebih banyak lagi. Sudah mohon-mohon dan memelas minta uang aku dibalikin atau penarikan di pesanan 11 aja,” kata Fandi.

Namun, admin tersebut tetap dengan kalimat rayuan, sekaligus ancaman. Jika tidak sampai pemesanan ke-12 selesai, maka saldonya akan dibekukan. “Cukup, aku akhirnya berhenti. Total uangku yang hilang Rp2 juta lebih. Selain itu, aku punya pinjol yang harus aku lunasi beserta bunganya,” kata Fandi.

Fandi tentu saja tidak ingin orang tuanya tahu. Teman-temannya kemudian menolongnya dengan membantu melunasi pinjolnya. Ia lantas berusaha untuk mencari pekerjaan untuk bisa menutup utang-utangnya. 

“Aku nggak berani ngomong sama Ibu, ya sebenarnya ingin minta maaf karena ini kesalahan besar.. Aku sudah pakai uang yang ibu kirim sebagai biaya makanku, tapi malah aku gunakan untuk hal yang lain,” kata Fandi menutup pembicaraan. 

Penulis: Agung Purwandono
Editor: Hammam Izzuddin

BACA JUGA Sampai Pinjam Uang Dosen, Mahasiswa Terjerat Pinjol Kian Mencemaskan Kampus

Cek berita dan artikel lainnya di Google News

Exit mobile version