ADVERTISEMENT

Sisi Gelap Bandung yang bikin Resah Perantau Asal Surabaya, padahal Terkenal sebagai Kota Pelajar

Alumnus PENS, Surabaya lebih suka merantau ke Bandung. MOJOK.CO

Ia mengaku selama tinggal di Surabaya jadi anak yang kuper atau kurang bergaul. Lebih banyak di rumah dan berinteraksi dengan keluarga maupun orang-orang terdekat. Barulah saat merantau di Bandung, Rain jadi tahu ada bentuk kenakalan remaja yang tak sesuai dengan normanya.

“Banyak mahasiswa yang tinggal bareng pacarnya dan itu lumrah saja di sana. Aku jadi merasa, Bandung tuh mirip Jakarta cuma versi low aja,” kata Rain.

Kebijakan itu membuat hati Rain miris. Apalagi, Bandung terkenal sebagai Kota Pelajar. Ia menempati posisi ke tiga sebagai kota pelajar terbaik di Indonesia versi QS Best Student Cities 2024.

Tak hanya itu, saat pertama kali tinggal dengan sahabatnya di Bandung, Rain juga sudah diingatkan agar tidak pulang larut malam karena rawan begal. Sebetulnya, di Surabaya pun begitu tapi kalau plat nomornya kentara (bukan asli warga Bandung), maka lebih rawan menjadi target. 

Di sisi lain, secara waktu dan tempat nongkrong, Bandung tak terlalu beda dengan Surabaya. Banyak tempat kafe estetik dan beragam. 

Bahkan kalau mau ke wisata alam, Rain bisa pergi ke luar Bandung yang jaraknya terlalu jauh seperti Ciwidey atau Pangalengan. Mirip seperti warga Surabaya yang ingin pergi wisata alam ke Malang atau Batu.

Cuaca panas vs cuaca dingin

Meski begitu, Rain tak terlalu banyak mengalami gempa bumi saat di Surabaya. Sebaliknya, ia sering mengalami gempa dengan kekuatan kecil dan sebentar di Bandung. 

Selain itu, bukan rahasia lagi kalau cuaca Bandung terutama di daerah Jatinangor cenderung dingin. Berbanding terbalik dengan Surabaya yang panas. Oleh karenanya, Rain jadi agak sulit beradaptasi.

“Kadang aku mandi cuman satu kali sehari bahkan pernah nggak sama sekali. Toh nggak keringatan juga tapi ini kebiasaan buruk sih karena nggak lama setelah itu aku mengalami jerawat punggung,” ujar Rain.

“Mangkanya setelah itu, aku berusaha tetap mandi walaupun dingin banget,” lanjutnya.

Sebagai warga asli Surabaya, Rain merasa jalanan di Bandung jauh lebih macet. Apalagi jalanan di sana lebih meliuk-liuk dan tidak terlalu lebar. 

“Kalau udah macet, parah banget. Lampu merahnya pada lama juga. Pengendara motor di sini tuh lebih ngeri menurutku. Mereka kalau geser nggak mau lihat spion, jadi aku harus lebih waswas,” ujar Rain.

Namun, secara keseluruhan Rain masih cocok dengan lingkungan di Bandung. Paling tidak, ia punya teman-teman kantor yang suporitf. Apalagi, sebagai orang Surabaya yang pertama kali merantau ke Bandung, dukungan tersebut amat ia butuhkan.

Overall aku sudah cocok di sini, apalagi teman-teman kantorku kebanyakan usianya seumuran denganku. Jadi seru banget!” kata alumnus PENS tersebut.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Kekesalan Orang Surabaya karena Tingkah Warga Jogja yang Terkesan Merendahkan, Mending Chill Ketimbang Adu Argumen atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan.

Terakhir diperbarui pada 15 Mei 2025 oleh .

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Exit mobile version