ADVERTISEMENT

Alfamart 24 Jam di Jakarta, Saksi Para Pekerja yang Menolak Tidur demi Bertahan Hidup di Ibu Kota

alfamart 24 jam.MOJOK.CO

Berbagi lelah dan resah di Alfamart 24 jam

Rahman tidak sendirian. Dalam menjalani malam-malam panjang di depan Alfamart 24 jam itu, sering terlihat juga pengemudi ojek online lain yang juga sedang menatap layar ponsel dengan penuh harap. 

Rahman cerita, kadang-kadang, terjadi interaksi singkat di antara mereka. Pembicaraan biasanya berkisar pada keluhan tentang sepinya pesanan, potongan biaya dari aplikasi yang dirasa memberatkan, hingga kondisi fisik yang sebenarnya sudah melewati batas wajar untuk bekerja.

“Ya namanya driver (ojol), pasti keluhannya sama, Bang,” kata dia. Malam itu, hanya Rahman driver ojol yang berada di Alfamart 24 tersebut.

Selain rekan sesama pengemudi, Rahman juga mengaku sering berinteraksi dengan para penumpangnya. Mulai dari para staf gudang, karyawan restoran 24 jam, petugas kebersihan, hingga “pekerja malam” lainnya.

Cerita-cerita yang didapat Rahman, rata-rata mereka punya keluhan yang sama seputar hidup di Jakarta. Jam kerja panjang, upah yang pas-pasan, dan hingga utang yang tak kunjung lunas.

“Yang paling kasihan kalau mengantar perempuan-perempuan pekerja malam, ya itu lah maksudnya. Mereka itu terpaksa melakukan itu ya karena Jakarta sekeras ini, Bang.”

Pertemuan-pertemuan singkat ini, bagi Rahman, menciptakan sebuah perasaan senasib di antara mereka. Mereka menyadari bahwa mereka bukanlah orang-orang yang gemar terjaga hingga pagi karena gaya hidup, tapi karena keadaan ekonomi.

***

Menjelang pukul tiga pagi, sebuah notifikasi pesanan akhirnya muncul di ponsel. Rahman pun segera bersiap. 

Ia menghabiskan sisa kopinya, mematikan rokok, dan mengenakan helm, lau bersiap. Tidak ada drama atau keluhan panjang yang keluar dari mulutnya; yang ada hanyalah tubuh yang kembali dipaksa untuk bergerak membelah sisa malam Jakarta.

“Kayaknya abis ini gue langsung balik kos aja ya, Bang, orderan terakhir ini,” ujarnya sebelum berlalu.

Kepergian Rahman dari kursi besi itu menandakan berakhirnya aktivitas Rahman di Alfamart 24 jam itu. Namun, di malam berikutnya, Rahman bakal kembali lagi. Karena baginya, istirahat bukan opsi untuk bisa bertahan di tengah kerasnya ibu kota.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Pasar Petamburan Jadi Saksi Bisu Perjuangan Saya Jualan Sejak Usia 8 Tahun demi Bertahan Hidup di Jakarta usai Orang Tua Berpisah atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 15 Januari 2026 oleh .

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Exit mobile version