Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Menengok Geliat Anak Muda Jogja Menggandrungi Jamu Demi “Keperkasaan”

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
8 Juni 2024
A A
Alasan Anak Muda Jogja Mulai Menggandrungi Jamu, Tak Cuma Kesehatan tapi Juga "Keperkasaan".MOJOK.CO

Ilustrasi Alasan Anak Muda Jogja Mulai Menggandrungi Jamu, Tak Cuma Kesehatan tapi Juga "Keperkasaan" (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Bersamaan dengan tangan kirinya yang sibuk scroll video-video di TikTok, tangan kanan Oni (24) mengarahkan gelas berisi es beras kencur ke bibirnya. Sedikit demi sedikit ia mulai menyeruput, menikmati jamu tersebut seperti sedang minum kopi di coffee shop Kota Jogja.

Oni, memang kerap njamu di warung Jamu Ginggang, Pakualaman, yang siang itu juga saya datangi. Paling tidak, tiga kali dalam seminggu. Kadang sendirian, tapi kerap juga ramai-ramai bersama teman kuliahnya, seperti pada siang itu.

Iklan

“Kalau orang lain nongkrongnya di coffee shop, kita ke warung jamu saja,” kelakar mahasiswa asal Jogja ini kepada Mojok, Kamis (6/6/2024).

Ia mengaku doyan hampir semua jenis jamu. Mulai yang manis-manis, paitan alias yang rasanya pahit nggak karuan, dan sesekali juga minum galian, yakni “ramuan khusus” kesehatan perempuan.

“Karena mood-nya lagi pengen cari yang seger-seger, hari ini pesan yang es beras kencur,” jelasnya.

Kegandrungan Oni dengan jamu sebenarnya sudah cukup lama. Penyebabnya, ia kesulitan minum obat. Padahal, semua cara sudah dicoba, mulai dari digerus, dicampur pisang, bahkan dimasukan ke dalam roti. Tapi semua sia-sia karena Oni selalu muntah.

“Makanya, gara-gara itu sejak SMP nggak pernah minum obat. Kalau demam, batuk, larinya ke jamu. Sampai sekarang.”

Sejak pandemi Covid-19, tren anak muda minum jamu alami kenaikan

Oni hanya salah satu contoh anak muda yang doyan jamu. Bahkan, kebiasaan njamu-nya itu juga diikuti teman-temannya. Terbukti, kira-kira setahun terakhir teman-teman kuliahnya lebih banyak mengajaknya ke warung Ginggang Pakualaman ketimbang coffee shop.

Di kalangan anak muda, tren minum jamu juga sedang mengalami kenaikan. Hasil survei Herbathos, platform produk herbal terbesar di Jawa Tengah, menunjukkan bahwa konsumsi jamu di kalangan anak muda (18-35 tahun) meningkat sebesar 20 persen dalam setahun terakhir.

Sebenarnya, tanpa melihat survei tersebut, hipotesis soal naiknya tren minum jamu di kalangan anak muda, terutama Jogja sangat mudah kita validasi.

Misalnya, dari masifnya kemunculan warung jamu bergaya modern seperti Suwe Ora Jamu; sampai mulai menjamurnya menu jamu di berbagai coffee shop. Pendeknya, minuman yang awalnya kerap dikaitkan dengan minumannya orang sepuh itu kini sudah mengarusutama.

Jamu Ginggang Pakualaman, Pilihan Sehat Tanpa Pahit Obat yang Digandrungi Anak Muda Jogja.MOJOK.CO
Sejumlah muda-mudi datang menikmati “racikan herbal” di warung Ginggang Pakualaman (Mojok.co/Ahmad Effendi)

Pemilik warung jamu Ginggang, Rudi Supriyadi (60), mengakui kalau anak muda sekarang memang mulai gandrung dengan jamu. Saat pertama meneruskan usaha itu pada 1950, Rudi mengaku kalau pembelinya kebanyakan orang-orang sepuh.

“Sekarang malah kebanyakan anak muda. Dugaan saya malah 60 persen itu muda-mudi,” kata penerus generasi kelima Ginggang ini, Kamis (6/6/2024).

Kata Rudi, perubahan tren ini mulai kelihatan saat pandemi Covid-19. Saat itu, muda-mudi sering datang buat njamu ke tempatnya karena mengaku ingin meningkatkan imun tubuh agar lebih kebal terhadap virus.

Iklan

“Dan itu berlanjut sampai sekarang. Dari yang awalnya sekali dua kali datang ke sini pas Covid, sekarang malah jadi pelanggan.”

Rudi mengaku, dulu memang ada perbedaan mencolok antara menu yang dipesan orang-orang tua dengan anak muda. Buat yang muda-muda, biasanya memesan menu manis, seperti beras kencur atau kunir asem, sementara orang tua sebaliknya. Namun, kini sudah tak ada lagi perbedaan. Anak-anak muda sudah banyak yang doyan dengan menu paitan.

Ambisi anak muda mengejar “keperkasaan”

Ada banyak alasan mengapa anak muda di Jogja mulai beralih ke jamu. Bahkan, menjadikan kebiasaan njamu sebagai sesuatu yang kasual–pengganti kebiasaan ngopi saat kongkow.

Oni, misalnya, mengaku badannya jadi lebih bugar dan nggak gampang sakit semenjak beralih dari obat ke kebiasaan njamu. Bahkan, menurut pengakuannya, ia tak pernah mengalami sakit parah dan berkepanjangan. Paling banter cuma demam ringan, yang setelah minum ramuan herbal tersebut sehari berselang langsung segar lagi.

“Apalagi menurutku, ya, jamu ‘kan serba herbal. Jadi minim efek samping. Apalagi buat mahasiswa semester tua yang rajin begadang kayak kita, harusnya minum jamu itu jadi kebiasaan,” jelasnya.

Sementara alasan nyeleneh datang dari Ridho (25). Lelaki yang sehari-hari bekerja di sebuah online store ini mengaku dengan rutin njamu, dia lebih merasa “perkasa”.

“Ya anak muda to, Mas. Yang begini-gini kan penting. Tapi ya nek belum menikah jangan ditiru, adegan ini hanya untuk orang dewasa,” jelasnya sambil tertawa.

Ridho sendiri sudah setahun ke belakang rutin minum jamu di warung Ginggang Pakualaman. Ada dua menu yang paling sering dia pesan, yakni Sehat Pria Komplit dan paitan.

“Dua racikan yang menurut saya pas. Cocok di tubuh saya. Enak juga dan bikin ‘perkasa’,” pungkasnya.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA Jamu Ginggang Pakualaman, Pilihan Sehat Tanpa Pahit Obat yang Digandrungi Anak Muda Jogja

Ikuti artikel dan berita Mojok lainnya di Google News

Terakhir diperbarui pada 11 Juni 2024 oleh

Tags: jamujamu herbaljamu jogjakota jogjaobat herbal
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Anak-anak bermain bola di Pelataran Masjid Gedhe Kauman, Kota Jogja. MOJOK.CO
Bidikan

Ketika Lapangan Hijau Berbayar Kalah Mewah dengan Paving Gratis Masjid Kauman

11 Juli 2026
Rekonstruksi kasus penganiayaan pelajar berujung meninggal di Jalan Yos Sudarso, Gondokusuman, Kota Jogja (depan SMA 3 Yogyakarta) MOJOK.CO
Kilas

Gambaran Jelas Penganiayaan Pelajar di depan SMA 3 Yogyakarta dalam 21 Adegan Rekonstruksi

9 Juli 2026
kebun sayur di kota jogja.MOJOK.CO
Kabar

Cara Warga Wirobrajan Hadapi Keterbatasan Lahan: Mengubah Tembok Kampung Menjadi Kebun Sayur

8 Juli 2026
Lapangan Bola di Kauman, Jogja. MOJOK.CO
Suara Bawah Tanah

Lapangan Paving: Kemewahan yang Tersisa bagi Anak-anak Kota Jogja untuk Bermain Bola

7 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi tuan rumah “1st Asian Gym for Life Challenge 2026” 1. MOJOK.CO

Jogja Jadi Tuan Rumah Lomba Gym se-Asia usai Thailand Mundur, Semua Kalangan Bebas Ikut Tanpa Beban Menang-Kalah

20 Juli 2026
Kerjabilitas, Jembatan bagi Pencari Kerja Difabel Menembus Tembok Diskriminasi Industri.MOJOK.CO

Kerjabilitas, Jembatan bagi Pencari Kerja Difabel Menembus Tembok Diskriminasi Industri

17 Juli 2026
Jaga Momentum Emas di Mandalika, Mario Aji dan Veda Ega Siap Unjuk Gigi di Kandang Sendiri MOJOK.CO

Jaga Momentum Emas di Mandalika, Mario Aji dan Veda Ega Siap Unjuk Gigi di Kandang Sendiri

20 Juli 2026
Anak miskin di Yogyakarta masuk Sekolah Rakyat. MOJOK.CO

Saat Kemiskinan Memaksa Anak Lebih Dewasa sebelum Waktunya, Sekolah Rakyat Jadi Pilihan Satu-satunya

20 Juli 2026
Pom mini warung madura kini jadi solusi di tengah antrean panjang SPBU yang tidak masuk akal MOJOK.CO

Strategi Hindari Antrean SPBU Tak Efektif Lagi, Isi Bensin di Pom Mini Warung Madura Jadi Solusi Asal Tak Pakai Logika Takaran

18 Juli 2026
Menertawakan Polemik Sosial, Arie Kriting Siap Bawa "Mungkin Ada Benarnya" ke Jogja.mojok.co

Menertawakan Polemik Sosial, Arie Kriting Siap Bawa “Mungkin Ada Benarnya” ke Jogja

16 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.