Hydroplus Soccer League 2026 di Kudus bukan hanya soal olah bola di lapangan. Tapi juga menjadi jalan terang bagi seorang anak muda yang sebelumnya bingung mencari pekerjaan selepas menuntaskan pendidikan.
***
Peluit wasit akhirnya berbunyi. Senyum terang pemain Putri Surakarta yang baru saja melumat Srikandi Mataram 6 gol tanpa balas. Di belakang para pemain, Syachban (23), bersama rekannya, mengikuti para pemainnya.
Dia tak sadar, kemenangan besar itu membuatnya menjadi sorotan. Padahal ini sudah menjadi rumus kunci: selalu ada andil besar pelatih di balik betapa dominannya sebuah tim.
Hari itu, Minggu (8/2/2026) adalah pekan kelima Hydroplus Soccer League 2026 di Kudus, Jawa Tengah. Yakni liga sepak bola putri U-15 dan U-18 yangi menjadi kelanjutan dari MilkLife Soccer Challenge (MLSC) (pembinaan sepak bola putri dari Bakti Olahraga Djarum Foundation untuk U-10 dan U-12). Sejauh ini, Putri Surakarta masih kokoh di puncak klasemen dengan perolehan 15 poin dengan catatan belum terkalahkan.
Saya menemui Syachban di media room. Dia menyambut saya dengan senyum, juga saat menceritakan awal mula dia menjadi pelatih untuk klub sepak bola putri Putri Surakarta.
Lulus kuliah bingung cari kerjaan
Di antara para pelatih yang mendampingi tim-tim yang berlaga di Hydroplus Soccer League 2026 Kudus, pemuda asal Solo itu memang terlihat paling muda. Usianya baru 23 tahun, belum lama lulus kuliah dari Pendidikan Kepelatihan Olahraga UNS.

Karier kepelatihan Syachban sebenarnya dimulai dari sebelum dia lulus. Sebelum menakhodai Putri Surakarta, dia sempat menjadi pelatih SSB Putra PS Adidas. Tapi tak begitu lama. Setelah lulus, dia mengaku sempat bingung mencari pekerjaan. Sampai akhirnya sebuah tawaran datang.
“Ketika sudah lulus, bingung mencari pekerjaan, Mas. Terus ada tawaran melatih sepak bola putri, di tim Putri Surakarta. Mulai dari situ, mulai serius jadi pelatih,” ungkap Syachban.
Keseriusan itu dia buktikan dengan mengambil lisensi D, yang dia ambil dengan menempuh pendidikan selama 1 minggu di PSSI Jawa Tengah, Semarang. Hasil pendidikan tersebut terlihat jelas saat ia menukangi timnya di Hydroplus Soccer League 2026 Kudus.
Sabar, telaten, dan konsisten
Melatih tim sepak bola putri, bagi Syachban, jelas punya tantangan tersendiri. Karena cenderung berbeda dengan sepak bola putra.
Bagi Syachban, melatih tim sepak bola putri itu unik. Dari mood-nya, motoriknya, kemampuan berpikir, dan daya tangkapnya.
“Untuk daya tangkap, bisa dibilang (pemain sepak bola putri) lebih cepet ketimbang laki-laki. Mereka itu daya tangkapnya lebih cepet, tapi untuk praktik, lebih susah. Kalau laki-laki kan, dikandani (diajari), diomongi (dibilangin), belum tentu paham. Tapi kalau praktik, bisa,” ungkap Syachban.
“Kalau perempuan, dikasih tahu paham, tapi praktiknya, belum secepet laki-laki,” sambung pemuda Solo tersebut.
Selain itu, melatih tim sepak bola wanita mesti lebih sabar. Seperti harus paham mood, harus bisa menjaga perasaan agar tetap senang latihan, dan tetap tenang dalam memberi instruksi.

Kalau dibahasakan sebagai rumus, kira-kira begini rumus melatih tim sepak bola putri ala Syachban: sabar, telaten, dan konsisten.
Jalan terang dari Hydroplus Soccer League
Gelaran Hydroplus Soccer League bisa dibilang menjadi salah satu gelaran bergengsi sepak bola putri. Selain menunjukkan ada wadah untuk pengembangan sepak bola putri, juga menandakan ada pihak yang peduli pada perkembangan industrinya.
Hal ini juga ditangkap oleh Syachban, yang menganggap bahwa industri ini punya jenjang karier yang cerah. Maka dari itu, dia serius dalam menjalani posisinya sebagai pelatih.
“Karena di sepak bola putri, belum banyak peminatnya untuk menjadi pelatih. Kemarin saya juga alhamdulillah dapat kesempatan jadi tim scouting di MilkLife Soccer Challenge (MLSC),” beber Syachban.
“Karena sepak bola putri juga, saya mendapat tawaran dari satu pelatih all-stars di Solo,” imbuhnya.
Hydroplus Soccer League dan MilkLife Soccer Challenge menggeser stigma sepak bola putri tidak menarik
Perbincangan saya dan Syachban menjadi lebih penuh optimisme ketika kami mencoba ngrasani ekosistem sepak bola putri.
Syachban melihat, dia bukan satu-satunya orang yang menemukan petunjuk karier dari MLSC dan HSL. Apalagi kompetis-kompetisinya tidak hanya terpusat di satu tempat, tapi juga bergeliat di banyak daerah di Indonesia.
Untuk Hydroplus Soccer League sendiri misalnya: ia digelar—setidaknya untuk saat ini—di empat kota: Kudus, Surabaya, Bandung, dan Jakarta. Itu menunjukkan, jika sepak bola putri didukung dengan pelatihan berjenjang serta turnamen yang konsisten, maka prestasi serta industri yang lebih cerah akan datang.
Stigma bahwa sepak bola putri tidak menarik dan masa depannya suram dibuktikan sebaliknya dalam gelaran Hydroplus Soccer League (dan sebelumnya oleh MilkLife Soccer Challenge). Tribun begitu ramai, suara dukungan menggema di Supersoccer Arena, Kudus, dan skill yang ditunjukkan pesertanya menunjukkan bahwa sepak bola putri tak pantas dipandang sebelah mata.
Saya selaku penikmat sepak bola dan Syachban selaku orang yang bergelut di dalamnya pada akhirnya memiliki pikiran yang sama: jika ekosistem tersebut terus dipedulikan dan dirawat, digelar di banyak kota lain pula, rasa-rasanya tidak mengagetkan jika dalam 5-10 tahun ke depan, kita akan punya Tim Nasional Sepak Bola Putri yang bisa menatap tajam mata pemain dari Amerika Serikat, Swedia, dan Jepang, yang kerap dianggap sebagai raksasa sepak bola putri di dunia.
Reporter: Rizky Prasetya
Editor: Mochamad Aly Reza
Ikuti berita dan artikel Mojok lainnya di Google News.














