ADVERTISEMENT

Menerbangkan Merpati adalah Patah Hati yang Direncanakan, tapi 1.000 Kali pun Diulang Saya akan Tetap Menyambutnya Pulang

Merpati bukan hewan setia. MOJOK.CO

“Selama 5 tahun hobi merawat merpati, saya jadi sadar kalau kalimat merpati nggak pernah ingkar janji (setia) itu bohong,” kata Ilham selaku pengurus pagupon di Kampung Sosromenduran, Malioboro, Jogja pada Kamis (24/9/2026) sore.

***

Saya bertemu Ilham (47) saat menyusuri sudut gang di kawasan Malioboro. Mulanya, saya tertarik untuk memotret deretan pagupon merpati yang menghias di dinding pintu masuk kampung. Ilham yang sedang duduk santai sendirian tak jauh dari pagupon pun mengizinkan saya melihat-lihat.

Ilham mengaku sebagai perawat dari 40 merpati tinggian di sana, tapi tidak semuanya milik Ilham. Beberapa merpati punya pemuda-pemuda sekitar. Sementara, Ilham sesekali diminta untuk melatih merpati tersebut agar bisa terbang jauh dan kembali ke rumahnya. 

Kepuasan melihat merpati kembali ke rumahnya itu pula yang membuat Ilham hobi merawat merpati. Pemuda asal Bantul itu berujar ada perasaan bangga ketika merpati yang dia rawat dari kecil dapat tumbuh dan berkembang. Apalagi, dia berhasil mengasah naluri merpati untuk pulang ke kandang.

Sayangnya, pengalaman Ilham melatih merpati hingga 5 tahun lamanya justru mematahkan kalimat yang selama ini terkenal bahwa merpati tidak pernah ingkar janji. Sebab, alih-alih memperoleh kesetiaan yang sejati dari merpati, Ilham justru sering patah hati dibuatnya.

Mengamati kesetiaan burung merpati

Dari banyaknya merpati yang keluar dari pagupon, saya tertarik dengan dua merpati berwarna putih dengan corak hitam yang ke mana-mana selalu berdampingan. Ilham bilang, keduanya sedang jatuh cinta. Hal itu tampak dari gerak-geriknya.

“Jadi kalau yang jantan itu dadanya akan membesar. Bulu lehernya mengembang. Terus dia sering menggerakkan kepalanya naik-turun sambil mendekati si betina. Mirip sama gerakan manusia kalau lagi hormat. Suaranya kalau mendengkur juga khas,” jelas Ilham.

“Sama juga dengan yang betina, kalau dia tertarik, dia akan balas dengan mengangguk,” lanjutnya.

Tak berhenti sampai di situ, saya pun melihat momen saat kedua merpati saling mengunci paruh mereka hingga mematuk lembut bulu-bulu di area kepala serta leher. Ilham menjelaskan gerak-gerik tersebut menandakan jika kedua merpati punya ikatan yang kuat.

“Ya begitu itu Mbak mereka setiap hari, suka ‘ciuman’. Makanya saya namai Romeo dan Juliet,” kelakar Ilham.

Anak merpati. MOJOK.CO
Upin, anak merpati tinggian Romeo dan Juliet. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Tak lama setelah saya memotret sepasang merpati tersebut, seorang anak kecil keluar dari rumah, tempat Romeo dan Juliet bertengger di atap. Rupanya, ia ingin memamerkan burung merpati tinggian berwarna hitam yang merupakan anak dari Romeo dan Juliet ke saya.

“Namanya Ipin, lahir bulan Mei kemarin,” kata anak tersebut.

Di balik kesetiaan sepasang merpati

Meski Romeo dan Juliet terlihat sangat romantis dan saling mencintai, Ilham mengungkap bawa pertemuan keduanya sejatinya adalah kawin paksa. Perjodohan antar keduanya dilakukan Ilham secara sengaja dengan maksud melatih naluri pulang merpati jantan ke kandang.

“Yang jantan saya beli di pasar sekitar DIY, kalau yang betina saya beli di pasar PASTY. Terus saya mandikan, dijemur bersamaan, baru dijodohkan,” kata Ilham.

“Setelah itu, betinanya dijadikan pancingan agar merpati ini bisa terbang jauh. 10 meter, 20 meter, sampai 50 meter. Ini termasuk biar dia beradaptasi dan hafal dengan rumahnya,” jelasnya.

Menurut Ilham, perjodohan itu terbilang gampang-gampang susah, karena harus menemukan kecocokan karakter pada keduanya. Beberapa merpati juga memiliki sifat pemilih. Ada saja yang tidak menyukai warna bulu betina pilihannya.

Maka dari itu, merpati dikenal sebagai hewan monogami alias hidup dengan satu pasangan saja, sehingga sering dianggap hewan setia. Bahkan, muncul istilah Merpati Tak Pernah Ingkar Janji seperti judul novel, lagu, dan film populer di Indonesia.

Ilham dengan burung merpati. MOJOK.CO
Ilham (47) saat menunjukkan salah satunya merpatinya di Kampung Sosromenduran, kawasan Malioboro, Jogja. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Sayangnya, penghobi merpati seperti Ilham tahu betul bahwa merpati jantan maupun betina bisa berpaling dan kawin dengan merpati lain. Ketidaksetiaan ini bisa terjadi saat merpati terpisah dari pasangannya atau bertemu merpati lain yang lebih memikat saat perjalanan.

“La wong istrinya ngeramin telur, dia (merpati jantan) nyari-nyari betina lain kok,” ungkap Ilham.

Risiko pelihara merpati, patah hati ditinggal pergi

Lebih dari itu, merpati juga seringkali membuat Ilham patah hati karena pada akhirnya dia tidak pulang ke rumah. Padahal, salah satunya sudah Ilham latih hingga bisa terbang sampai jarak 700 meter.

Jelas saja Ilham gelo. Namun, perasaan itu timbul bukan karena dia merasa rugi berjuta-juta, melainkan ada ikatan batin antara pemilik dengan hewan peliharaan yang sudah dia rawat dari kecil.

“Dalam hati itu kayak ada kesenangan tersendiri. Apalagi saya peliharanya dari muda, terus berhasil saya latih bahkan ada yang sudah bisa terbang sampai 3 kilometer. Di hati itu rasanya senang, dilihat orang lain waktu melepas merpati itu juga senang,” kata Ilham

Oleh karena itu, Ilham  tak rela menjual merpati-merpatinya. Ada yang menawar dengan harga tinggi pun—setidaknya hingga saat ini—masih ia tolak. Sebab baginya, merpati adalah bagian dari keluarga meski hewan itu tak setia.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Kala Pagupon Merpati di Sudut Gang Kecil Malioboro Jadi Titik Singgah Menenangkan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 30 September 2026 oleh .

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.