Shaggydog dan Warisan Angkat Sekali Lagi Gelasmu Kawan

Shaggydog saat peluncuruan buku biografinya (Purnawan S. Adi/Mojok.co).

Shaggydog menandai 24 tahun berkarya di dunia musik dengan menerbitkan sebuah buku biografi berjudul Shaggydog: Angkat Sekali Lagi Gelasmu Kawan. Buku ini jadi sebuah legacy sekaligus catatan perjalanan band asal Sayidan yang kini sudah jadi ikon Kota Yogyakarta.

***

“Shaggydog itu ikonnya Jogja,” kata Marzuki Mohammad a.k.a Kill The DJ, dedengkot Jogja Hip Hop Foundation saat acara peluncuran buku Shaggydog: Angkat Sekali Lagi Gelasmu Kawan di Prambanan Jazz Café, Kamis (29/12) sore.

Statement dari Marzuki ini memang benar. Contoh paling sederhana lagu Di Sayidan milik Shaggydog saat ini sudah jadi salah satu anthem Kota Yogyakarta. Lagu ini didedikasikan oleh Shaggydog untuk tempat dari mana mereka berasal. Sayidan adalah sebuah kampung di pinggir Sungai Code yang dekat dengan pusat Kota Jogja. Jaraknya kurang lebih 2 km dari titik 0 km Kota Jogja.

“Sayidan itu tempat terbentuknya Shaggydog. Tempat kita ngumpul dan kita memang asli Sayidan,” ucap Richad dan Bandizt, personel band Shaggydog.

Tembang Di Sayidan masuk dalam album Hot Dogz yang rilis pada tahun 2003. Selama 24 tahun berkarya, Heruwa (vocal), Richard (gitar), Raymond (gitar), Bandizt (bass), Lilik (keyboard), dan Yoyo (drum) telah menelurkan 6 album. Album-album tersebut adalah: Shaggydog (1999), Bersama (2001), Hot Dogz (2003), Kembali Berdansa (2006), Bersinar (2009), dan Putra Nusantara (2016).

Pasang surut kesuksesan telah dicicipi oleh band yang kental dengan musik ska, reggae, jazz, swing, dan rock ini. Untuk menandai perjalanannya yang sudah lebih dari dua dekade, Shaggydog merilis sebuah buku biografi yang ditulis oleh Ardhana Pragota.

Buku biografi ini berisi catatan perjalanan Shaggydog selama 24 tahun berkiprah di dunia musik. Berawal dari Sayidan sampai mendunia. Dari pentas 17-an hingga panggung internasional. Semua ceritanya lengkap tertuang dalam buku biografinya.

Shaggydog live perform mojok.co
Shaggydog saat tampil di acara peluncuran buku biografinya (Purnawan S. Adi/Mojok.co).

Peluncuran buku Shaggydog: Angkat Sekali Lagi Gelasmu Kawan digelar di sore yang hangat. Tak banyak tamu yang hadir. Hanya tamu undangan, rekan media, dan penonton yang telah reservasi terlebih dahulu.

Prambanan Jazz Café yang terletak di Condong Catur, Sleman, Yogyakarta jadi tempat yang sangat intim. Acara diisi oleh diskusi tentang buku biografi dan suguhan musik dari Shaggydog. Alit Jabang Bayi yang didapuk jadi MC bikin suasana tambah gerrr. Alit mampu membawakan acara jadi sangat cair. Celetukan-celetukannya bikin penonton tertawa.

Proses lahirnya buku biografi

“Lega. Proses ini kan panjang. Aslinya (proses pengerjaan buku) bertahun-tahun, mungkin 6 tahun. Akhirnya hari ini bisa rilis itu lega banget,” ucap Heruwa dengan wajah sumringah saat menjelaskan tentang proses pengerjaan buku.

Heru bercerita bahwa ide buku ini sebetulnya tercetus atas prakarsa seniman Angki Purbandono dan Agan Harahap. Ide awalnya adalah buku visual.

“Karena kami melihat bahwa kami sama-sama sibuk akhirnya aku mengajak Pak Dodo Hartoko (dari Buku Baik) untuk meminta bantuan melanjutkan buku ini. Bukan seperti awalnya (visual) akhirnya lebih banyak teks tapi foto-foto tetap di bawah kurasi Angki dan Agan,” beber Heruwa.

Shaggydog terbentuk dari serangkaian cerita karena dia berasal dari komunitas. Dan selama 24 tahun, Shaggydog telah bertemu banyak orang dan mengalami berbagai macam peristiwa.

“Kami pikir ini saatnya membagi semua itu dengan Doggies (fans Shaggydog) dan yang suka sama band ini.”

Sementara itu Ardhana Pragota sebagai penulis buku ini bercerita ihwal pertemuannya dengan Shaggydog. Ia pertama kali bertemu dengan Heru di bulan Februari tahun 2019. Saat itu dirinya masih bekerja sebagai editor di sebuah media online di Jakarta.

Dari kanan ke kiri: Ardhana Pragota (penulis), Bandizt, Heruwa, dan Annisa Hertami (moderator) saat diskusi peluncuran buku biografi Shaggydog (Purnawan S. Adi/Mojok.co).

Gota, sapaan akrabnya, mengenang saat itu ia sedang bertugas meliput isu Rancangan Undang-undang (RUU) Permusikan. Ia kemudian menuju Jogja mencari narasumber untuk isu yang akan ditulisnya.

“Waktu itu ketemuannya lucu karena aku minta komentar Mas Heru soal RUU Permusikan. Mas Heru waktu itu menyambut aku dan nyuruh masuk studio. Terus kita ngobrol-ngobrol, tiba-tiba nodong untuk menulis untuk buku ini,” papar Gota.

“Waktu itu aku sangat nervous karena melihat mereka superstar, jauh gitu loh jaraknya. Nervous-nya gini, banyak penulis musik karena dia memang musisi atau terlibat dalam circle-nya para musisi.”

Selama proses menulis Gota menggunakan pendekatan jurnalisme investigasi. Ia berusaha untuk membongkar setiap kisah demi kisah yang prosesnya cukup seru.

“Jadi aku bener-bener mingle (bergaul) sama mereka. Ikut mereka tur dan segala macamnya,” ucapnya.

Proses menulisnya sendiri butuh waktu setahun lebih, terhitung sejak tahun 2019 awal hingga 2020. Waktu itu diceritakan oleh Gota, Angki sempat berpesan bahwa nggak bisa kalau cuma wawancara, harus menginterogasi mereka.

“Tiga tahun baru ini aku selalu sama mereka. Metodenya jadi aku ngeliat, ngamatin, mencuri dengar, kalau ada kesempatan langsung aku tulis. Dan cerita-cerita menarik itu muncul dan akhirnya aku konfirmasi. Kisah mereka itu banyak, jadi perlu trigger. Proses itulah yang cukup menarik,” jelas Gota.

Bicara soal foto sampul bukunya sendiri ada cerita seru di baliknya. Heru bercerita bahwa foto tersebut adalah suasana panggung saat tur di lampung tahun 2019. Malam itu hujan badai. Dan tidak memungkinkan untuk memainkan intsrument musik karena panggung basah semua.

“Tapi penontonnya nggak mau bubar sebelum Shaggydog naik panggung. Akhirnya EO-nya bilang satu lagu aja deh. Akhirnya kita maen satu lagu. Tapi waktu itu kita diiringi sama Oom Leo (Goodnight Electric/Oom Leo Berkaraoke) pake minus one lagu Sayidan. Malam itu kami manggung nggak ada yang maen pakai instrument dan semuanya nyeker.”

Dodo Hartoko, sebagai penyunting buku biografi Shaggydog, ikut memberi testimoni. Ia mengamini bahwa memang Shaggydog adalah ikon Jogja. Menurutnya grup/band sudah seharusnya tak melulu nyanyi tapi juga harus ada produk intelektual yang dihasilkan.

“Jogja identik dengan infrastruktur yang modal manusia pendidikannya luar biasa. Nah Shaggydog itu luar biasa, banyak kelompok musik yang harusnya bisa berpikir sampai ke sana. Jadi ada legacy (warisan) yang ditinggalkan,” pungkas Dodo.

BACA JUGA Imah Babaturan, Warung Kopi Plus-plus Penjaja Kenikmatan di Kota Kembang dan liputan menarik lainnya di rubrik SUSUL.  

Reporter : Purnawan Setyo Adi
Editor      : Agung Purwandono

Exit mobile version