Lalu lintas di aplikasi MiChat untuk aktivitas open bo di malam Valentine terpantau kerap padat merayap. Geliat malam itu merekam upaya mencari pelampiasan melalui layanan “rasa pacar” dari siklus tahunan yang melelahkan tapi dinantikan.
***
Semasa SMA, saya memahami Valentine hanya sebatas pada memberi cokelat ke pasangan. Setidaknya begitu yang saya amati dari teman-teman di sekolah.
Semasa kuliah, saya mendapati spektrum baru dari hari yang disimbolisasi sebagai “hari kasih sayang” ini: Valentine dan gairah seksual seperti menjadi satu entitas tak terpisahkan.
Itu tergambar dari candaan-candaan tongkrongan mahasiswa. “Check-in” dan “hotel” menjadi dua kata kunci yang teramat kerap dilontarkan.
Faktanya memang demikian. Hampir setiap tahun, setiap menjelang malam Valentine atau persis di malam menuju tanggal 14 Februari, berita razia hotel—khususnya hotel kelas melati—oleh petugas gabungan (Satpol PP dan Polisi) bermunculan. Tidak hanya di kota metropolitan, tapi juga kota-kota kecil.
Skenario budaya yang seolah memberi izin
Kenapa Valentine identik dengan aktivitas seksual? Survei YouGov pada 2023 mencatat bahwa 40 persen orang merasa “lebih aktif” secara seksual di momen Valentine dibandingkan hari lainnya.
Sementara kolomnis majalah TIME, Chris Wilson berpendapat, suasana romantis dan simbol-simbol cinta yang bertebaran di Hari Valentine memang mendorong pasangan untuk merasa lebih intim—yang diterjemahkan sebagai aktivitas seksual oleh sebagian banyak orang.
Pada akhirnya, Valentine menjadi momen yang seolah “mewajarkan” atau “mengizinkan” orang untuk merayakannya dengan aktivitas seksual, jika dipahami menggunakan teori Sexual Scripts dari William Simon dan John H. Gagnon.
Dalam teori itu disebut, aktivitas seksual salah satunya dipengaruhi oleh cultural scripts (skenario yang membudaya). Nah, skenario budaya yang masih tertulis tentang Valentine adalah: sebuah hari/malam yang divisualisasi, disimbolkan—bahkan sekadar lewat candaan tongkrongan—dengan adegan panas di atas ranjang pada sebuah malam usai makan malam romantis atau jalan berdua mengelilingi tempat-tempat tertentu.
Dan itu bisa dilihat dari fakta, betapa di momen Valentine, terjadi lonjakan lalu lintas di aplikasi MiChat untuk aktivitas open bo.
MiChat padat merayap untuk permintaan open bo
Hingga pukul 03.00 dini hari pada Sabtu (14/2/2026), orderan “open bo” masih terus menyerbu akun MiChat Markisa (24), bukan nama asli, perempuan penyedia jasa open bo di Jogja. Katanya, orderan menjadi lebih banyak memang sudah sejak sehari sebelumnya.
Energi sosial dan fisik Markisa sudah nyaris habis di jam-jam tersebut. Maka, dari empat orderan yang masuk di jam tersebut, ia hanya mengiyakan satu lagi.
“Open dari jam 8-an malam, ya banyak lah pokoknya yang masuk. Tapi yang deal cuma beberapa. Aku malam ini ambil enam,” beber Markisa dalam pesan pendek.
Sebenarnya, bagi penyedia jasa open bo yang ngoyo demi cuan, jumlah tersebut bisa saja didapat dalam satu malam di hari biasa (jumlahnya bahkan bisa lebih). Namun, untuk ukuran Markisa yang umumnya hanya melayani tiga orang permalam (hanya sesekali saja sampai empat orang), enam adalah jumlah yang melelahkan.
“Bedanya gini, kalau hari biasa, itu seringnya orang cuma nanya thok. Kalau nawar nggak ngotak, mintanya Rp200 ribu lah, Rp150 ribu lah. Kalau Valentine, itu aku pasang kan dari Rp500 ribu. Tapi misal nego, Rp300 ribu, Rp400 ribu udah pada mau,” beber Markisa. “Mungkin karena emang lagi butuh aja (aktivitas seksual).”
Ini memang menjadi siklus tahunan di musim-musim tertentu. Terutama di malam Tahun Baru dan Valentine. Menjadi penyedia jasa open bo di MiChat sejak 2023, Markisa sudah hapal dengan siklus itu.
MiChat dan open bo: pelampiasan lewat layanan “rasa pacar”
Markisa membalas pesan pendek saya selepas Subuh, saat ia benar-benar menyelesaikan pekerjaannya dan punya waktu untuk bernapas lebih panjang, sebelum beristirahat seharian. Ia menjadi satu-satunya yang bersedia diwawancara dari tiga penyedia jasa yang kuhubungi.
Tentu dengan catatan. Salah satunya, ia tidak mau diwawancara panjang lebar. Singkat saja.
Di antara pertanyaan yang saya ajukan dalam wawancara singkat itu: laki-laki seperti apa yang ia hadapi di malam Valentine sejak ia berkecimpung di dunia open bo?
“Aku menawarkan layanan ‘rasa pacar’ di pesan otomatis MiChat. Itu jadi apa ya, kayak penarik. Karena orang yang order di Valentine itu memang butuh aku seolah-olah jadi pacarnya,” ungkap Markisa.
Setidaknya itu bisa diperlihatkan Markisa dalam aspek verbal. Misalnya, melalui panggilan “beib” atau “sayang”. Juga kalimat-kalimat romantis seperti “i love you” hingga “i miss you”. Juga obrolan-obrolan ringan seolah-olah sudah menjalin hubungan lama.
“Di situ ada lah yang cerita baru putus sama pacar. Ya aku simpulkan, dia open bo buat pelampiasan aja. Makanya, pas kita ‘lakukan’, pasti itu spontan keluar dari mulut dia: ‘aku kangen kamu, beib,’ ‘kita lama nggak gini sayang,’ ya gitu-gitu lah,” beber Markisa.
Melelahkan, tapi Markisa mengaku momen seperti Valentine cukup ia nantikan. Karena jarang ada orderan fiktif. Rata-rata deal. Dan obrolan kami pun berakhir.
Laki-laki tak populer dan tak menarik mencari validasi
Pengakuan singkat saya dapatkan dari orang yang beberapa kali menggunakan jasa open bo melalui MiChat, termasuk di malam Valentine. Panggil saja Krambil (25) yang berdomisili di Jogja. Kami berbincang pada Rabu (11/2/2026).
“Berapa kali ya? Ya beberapa kali lah hahaha. Nggak harus Tahun Baru atau Valentine. Tapi emang, tekanannya kerasa di Tahun Baru atau Valentine,” katanya.
Tekanan yang Krambil maksud: momen Valentine dan Tahun Baru sudah terlanjur dinarasikan sebagai “malam penuh gairah” bagi sepasang kekasih. Sementara Krambil nyaris tidak pernah bisa merasakan itu.
Ia menyadari bukan merupakan laki-laki populer dan menarik. Berkali-kali menembak perempuan tapi selalu berujung penolakan. Itu membuatnya insecure.
Untuk mengatasi insecuritas tersebut, pilihannya adalah membuka MiChat. Di situ ia merasa mendapat validasi kalau bukannya tidak ada perempuan yang tidak mau sama sekali padanya. Sebab, dalam jagat open bo, tidak ada penolakan atas dasar fisik atau tampang dari si penyedia jasa.
Si penyedia jasa hanya butuh harga yang cocok. Jika cocok, si penyedia jasa bersedia memberi servis memuaskan. Definisi “nggak mandang fisik”, bagi Krambil, benar-benar ia dapatkan dari dunia malam tersebut.
“Aku seringnya nego paling murah ya Rp250 ribu. Umumnya Rp300 ribu. Kalau nggak ada duit, gantinya aku nonton bokep aja di X. Walaupun sekarang agak susah ya carinya,” ucap Krambil terkekeh. “Sex toys juga punya. Tapi bagian ini nggak usah dibahas detail.”
Lonjakan yang tercatat
Sejak 2022 Indonesia memang tercatat sebagai negara pengguna MiChat terbesar secara global berdasarkan rangkuman data dari Databoks Katadata. Pada tahun itu tercatat menyumbang 83,37% pengguna global. Secara demografi, penggunanya lebih banyak di Jakarta, Surabaya, dan Bali.
Belum ada data spesifik terbaru soal jumlah pengguna aplikasi kencan singkat tersebut. Namun, merujuk laporan platform analitik pasar Data.ai, terjadi lonjakan aktivitas pengguna MiChat setidaknya di tiga hari menjelang Valentine: sebesar 20%–35% di Indonesia dalam rentang 12-14 Februari 2025 lalu.
Data.ai juga menunjukkan MiChat tetap menjadi salah satu aplikasi dengan total time spent tertinggi di kategori komunikasi Indonesia. Fitur “people nearby” dan “message tree” pun terpantau mengalami penggunaan intensif.
Dalam dunia open bo, dua fitur tersebut memungkinkan seseorang bisa menemukan penyedia jasa open bo lebih cepat dan dekat dengan lokasi pengguna. Dari situlah penyedia jasa seperti Markisa dan pencari pelampiasan seperti Krambil akan saling menemukan, saling menyapa, membuat kesepakatan harga, untuk kemudian berpagut di sebuah kamar yang telah ditentukan.
Saat liputan ini ditulis, belum ada laporan resmi perihal lonjakan aktivitas di MiChat untuk Valentine 2026. Namun, dari cerita dua narasumber di atas, menunjukkan bahwa Valentine memang seolah meningkatkan hasrat seksual bagi beberapa orang.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Sisi Gelap Penginapan “Murah” di Jogja, Ramai dan Untung Saat Valentine Berkat Anak Mudanya yang Hobi Kumpul Kebo atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
