Buka Coffee Shop di Klaten Tanpa Ekspektasi Justru Ramai Dikunjungi, Tandai Tren Baru Warlok hingga Jadi Incaran Pelancong

Ilustrasi - Coffee shop menjamur di Klaten. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Indikator sebuah wilayah mengikuti tren zaman kini tidak hanya mencakup kelengkapan fasilitas umum, tetapi juga hadirnya fasilitas yang didambakan. Dalam konteks hari ini, keberadaan coffee shop di sebuah daerah menjadi sesuatu yang didambakan anak-anak muda di tengah tren nongkrong dan ngopi-ngopi kekinian. Menjamurnya coffee shop tidak luput menyasar Klaten. 

Ketika tim Mojok berkunjung ke Klaten pada Minggu (26/4/2026) siang, setidaknya menemukan bukan hanya satu coffee shop, tetapi empat titik sekaligus dalam radius kurang dari 90 meter dari pintu keluar Stasiun Klaten.

Pemesanan kopi di Juli Bakery & Cafe, salah satu coffee shop di Klaten,  Minggu (26/4/2026) MOJOK.CO
Pemesanan kopi di Juli Bakery & Cafe, salah satu coffee shop di Klaten, Minggu (26/4/2026)(Shofiatunnisa Azizah/Mojok.co)

Coffee shop di Klaten lampaui ekspektasi kepadatan pengunjung

Salah satu coffee shop yang berlokasi dekat dari Stasiun Klaten adalah Juli Bakery & Cafe. Mengusung konsep yang memadukan toko roti modern dan kafe kontemporer di tengah Kota Klaten, tempat ini menjadi destinasi kuliner satu pintu yang memungkinkan pengunjung untuk ngopi, makan ringan maupun berat, dan bersantai dengan suasana kafe modern minimalis.

Tak ayal, coffee shop ini digandrungi sejak hari pertamanya menyapa masyarakat Klaten. Manajer Operasional, Hafid (27), mengatakan pembukaan Juli Bakery & Cafe mulanya dilakukan tanpa ekspektasi apa pun.

Sebagai seseorang yang berasal dari luar Klaten, ia masih belum bisa membayangkan warlok Klaten memiliki budaya ngopi ke coffee shop yang tinggi. Inilah yang membuatnya tidak berharap banyak ketika mencanangkan pembukaan Juli Bakery & Cafe pada bulan Februari 2026 lalu, bertepatan dengan momentum Ramadan.

Pengunjung Juli Bakery & Cafe pada Minggu (26/4/2026). (Shofiatunnisa Azizah/Mojok.co)

“Awal ekspektasiku nggak tahu itu puasa ya, kebetulan kita nggak buat acara apa-apa. Jadi emang, kita buka, orang mampir, kita layani,” kata dia kepada Mojok.

Namun nyatanya, pembukaan coffee shop ini justru melampaui ekspektasi. Juli Bakery & Kafe diramaikan pengunjung sampai kehabisan stok, serta menunjukkan antusiasme terhadap pembukaan coffee shop ini.

“Kita nggak pernah buat event, tapi viral di TikTok, dan itu juga makin ke sini kan memang sosial media sepenting itu, jadi itu membludak pas opening,” kata dia.

Budaya nongkrong mulai dari anak muda hingga yang berkeluarga

Mengamati pengunjung, Hafid mengatakan tidak ada kelompok usia yang lebih mendominasi di coffee shop yang ditanganinya. Mulai dari anak muda hingga mereka yang berkeluarga tidak ketinggalan mengamankan kursi di coffee shop selama jam operasional pada pukul 07.00 WIB hingga 22.00 WIB.

“Rata sih, gen Z ada, berkeluarga ada. Rata-rata pengunjung mature mungkin ya,” kata dia.

Secara siklus, pengunjung berusia muda cenderung memadati coffee shop di Klaten pada waktu malam hari. Sementara itu, waktu makan siang didominasi oleh mereka yang berusia dewasa atau pekerja. Pada waktu lainnya, pengunjung merata dari segala usia.

Kopi di Juli Bakery & Cafe, Klaten, pada Minggu (26/4/2026)
(Shofiatunnisa Azizah/Mojok.co)

Bahkan, pengunjung coffee shop di Klaten tidak hanya berasal dari warlok. Hafid bilang, justru pelancong dari luar kota yang berbondong-bondong mengunjungi kafenya sejak hari pertama hingga saat ini.

“Mungkin warlok, kalau Ramadan kan ada keluarga datang dari luar kota. Nah itu, mereka yang dari Jakarta gitu datang ke sini karena mereka kan habit-nya ngopi. Warlok bisa juga ngajak keluarga mereka buat ke coffee shop. Jadi, mulai terbiasa dan nyampur budayanya di coffee shop,” kata dia.

Hal ini dibuktikan langsung dengan kehadiran salah seorang pengunjung asal Brebes, Jawa Tengah. Sihatul (23) mengatakan dirinya mengunjungi coffee shop Klaten lantaran ingin menunggu kereta api yang terlewat untuk melanjutkan perjalanan ke Jogja.

Perempuan yang telah akrab dengan Kota Klaten ini mengaku terkejut menemui banyaknya coffee shop sepanjang jalan pusat kota, tepat di depan stasiun, mengingat kunjungannya satu tahun lalu belum seramai saat ini.

“Tadi iseng aja, lihat-lihat mau ke mana. Lihat ada coffee shop kok ramai ya, terus coba mampir. Terakhir ke Klaten kan lama ya, setahun lalu, itu cuma lewat dan lihat belum banyak, dan nggak mampir juga,” katanya.

Coffee shop di Klaten sebagai pendorong destinasi wisata

Pengunjung dari dalam kota atau warlok yang telah lama meninggalkan Klaten untuk berkuliah di Jogja mengatakan tidak menyangka akan ada fenomena menjamurnya coffee shop di kota ini.

Tiara (23) dan Mei (22) mengaku kini menyempatkan untuk menyambangi coffee shop dengan frekuensi satu kali dalam seminggu. Mereka juga mengatakan coffee shop memunculkan ruang baru bagi warlok Klaten.

“Pas kita kuliah tuh, tahun lalu, belum ada,” kata Tiara.

“Sekarang orang-orang skripsian aja ke coffee shop. Di banyak jalan yang ramai itu udah ada coffee shop juga mesti,” sahut Mei.

Kopi Bingah. (Shofiatunnisa Azizah/Mojok.co)

Terbentuknya habit baru di Klaten ini mengundang pelancong yang bertujuan untuk wisata ke Jogja atau Solo tertarik untuk singgah ke kota ini. Hal ini disampaikan oleh Supervisor Kopi Bingah, Theo (31).

Kopi Bingah yang sebelumnya bernama Kedai Rukun terletak persis di depan Stasiun Klaten. Pengguna Commuter Line Klaten dapat langsung menjumpai kedai kopi yang mengangkat konsep kopi tiam ini begitu keluar dari pintu stasiun.

Coffee shop ini kerap dijadikan sebagai tujuan pelancong dari wilayah berbeda. Theo mengatakan, hal ini disebabkan daftar menu kopi tiam ini yang menyajikan berbagai kopi, minuman, dan santapan, bahkan menambahkan menu bubur yang dapat diterima banyak orang.

Pengunjung di Kopi Bingah. (Shofiatunnisa Azizah/Mojok.co)

“Kita memilih di stasiun itu salah satunya alasannya adalah untuk mempermudah teman-teman yang mau ke Klaten, juga biar Klaten menjadi tujuan destinasi juga. Teman-teman yang di luar Klaten kayak Solo, Jogja, mereka tuh sampai pada ke sini pada main ke sini,” kata dia.

Menyaksikan animo itu semenjak dari berdirinya Kopi Bingah kembali pada November 2025, Theo menyebut penerimaan luas ini selaras dengan misi pemilik yang merupakan putri daerah untuk memanfaatkan daya tarik coffee shop sebagai nilai jual Klaten,

“Keinginan dari pemilik, Mbak Risca, memang punya cita-cita untuk bikin kopi tiam, terus akhirnya terealisasi di tahun 2023, terus kita rebranding di 2025 akhir,” jelas dia.

Kini, fenomena nongkrong hingga nugas di coffee shop sudah menjadi sesuatu yang biasa ditemui. Mulai pagi hari sampai dengan malam hari, pengunjung coffee shop bertahan atau berpindah dari satu tempat untuk menjajaki banyaknya opsi yang tersedia.***(Adv)

Penulis: Shofiatunnisa Azizah

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Sate Kere Merbung di Klaten: Warisan Terakhir Ibu yang Menyelamatkan Saya dan Keluarga dari Jurang PHK atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

Exit mobile version