Di Balik Camilan “Mainstream” saat Lebaran, Ada Nilai Sentimental yang Mencairkan Suasana Kumpul Keluarga

Kuliner mainstream Lebaran buat kumpul keluarga

Ilustrasi - Kuliner mainstream Lebaran buat kumpul keluarga (Mojok.co/Ega Fansuri)

Saat Lebaran, ada beberapa kuliner yang paling dinantikan. Bisa jadi berbentuk makanan, bisa juga berbentuk camilan. Kuliner baru akan terus bermunculan, tapi penikmat kuliner lama belum tentu bergeser karena punya sentimen khusus saat kumpul keluarga.

Untuk membuktikannya, Mojok menanyakan hal ini kepada tiga orang pecinta kuliner: “Apa kuliner paling nostalgic saat Lebaran?”

Ketiganya pun sama-sama menjawab, jika mereka lebih suka kuliner mainstream. Alasannya sederhana, kuliner itu sudah identik dengan Lebaran tanpa mereka sadari, “karena selalu ada cerita di balik rasa,” begitu kata mereka.

Sesuatu yang seringkali tidak dianggap spesial atau biasa saja, nyatanya memang selalu punya kisah yang menarik. Kuliner mainstream ini dipilih bukan berdasar tren untuk menjadi keren dan berbeda, tapi dengan kejujuran karena biasa dimakan pada momen khusus.

#1 Nastar, cuma bisa dimakan saat Lebaran

Dimulai dengan nastar. Rasa-rasanya, setiap kali ditanya kue Lebaran apa paling memorable?

Bukan tidak mungkin, hampir semua akan menjawab sama: nastar.

Sama halnya dengan Tata (23) yang langsung memilih nastar sebagai kue yang paling diingatnya ketika ditanya soal Lebaran. Tata bilang, ia hanya memakan nastar saat Lebaran.

“Nastar, jujur nggak mungkin aku makan nastar kalau nggak Lebaran,” katanya, Kamis (5/3/2026).

@frozyland.id Setelah dipikir pikir, kenapa nastar selalu ada pas lebaran ya? Fyi, nastar ini adalah kue asal Belanda yang dimodifikasi sesuai kreativitas orang Indonesia lhoo! Sekarang mau dapetin nastar harganya udah gak mehong lagi, di Frozy Land start from 30 ribuan ajaa! 😍 #nastar #ramadhan #ramadhan2025 #nastarbekasi #nastarjakarta #putrisalju #lebaran2025 #lebaran ♬ Mozart Minuet with violin(815356) – 松本一策

Berdasarkan sejarahnya, kue kering asal Negara Kincir Angin ini memang lekat dengan perayaan, seperti Lebaran.

Nastar, yang berasal dari bahasa Belanda, ananas taartjes ‘pie nanas’ yang disingkat menjadi nastar. Artinya, tart dengan isian selai nanas. Resep nastar terinspirasi dari pie yang dibuat dalam loyang-loyang besar berisi blueberry, strawberry, maupun apel.

Adonan nastar terdiri dari tepung terigu, telur, mentega, dan bahan lain. Konon, pada masa penjajahan, buah isian pie sulit ditemukan di Indonesia sehingga diganti dengan buah nanas yang lebih mudah didapatkan.

Namun, nanas juga termasuk ke dalam buah yang harganya tidak murah. Oleh karena itu, kue kering ini identik disajikan pada hari-hari perayaan karena kesan ekslusifnya.

Kesan yang juga disetujui Tata sebagai orang yang tidak hanya memakan nastar saat Lebaran, tetapi juga baru membeli kue kering ini saat Lebaran. Menurutnya, nastar bukan tipikal kue kering yang bisa dibeli tanpa alasan pada hari-hari biasa.

“Kayak bukan tipe kue kering yang dibeli ketika nggak ada occasion,” katanya.

Karena itulah, kue nastar hanya disuguhkan di rumah keluarga Tata saat hari raya Idulfitri, sama seperti kebanyakan keluarga lainnya.

#2 Ketupat, disukai karena dibuat bersama keluarga

Sementara Dhea (26) langsung memilih ketupat sebagai kuliner paling identik dengan Lebaran. Ketupat, menurutnya, punya nilai keunikan tersendiri sebagai makanan yang paling khas dengan suasana Idulfitri, serta tidak pernah absen dari mayoritas rumah orang-orang di Indonesia.

“Kalau Lebaran aja, kayaknya ketupat,” kata Dhea, Jumat (6/3/2026).

Makanan berbahan dasar beras dalam anyaman janur ini juga selalu ada di rumah Dhea selama momen Lebaran. Bahkan, jauh-jauh hari, keluarganya sudah mempersiapkan ketupat dengan kumpul keluarga demi membuatnya bersama.

Nilai khusus ini, kumpul keluarga, saat membuat ketupat untuk Lebaran menjadikan hidangan yang disajikan bersama menu berkuah santan kental, seperti opor atau rendang, semakin melekat di memori Dhea soal Lebaran.

“Karena di rumah bikin ketupat cuma pas Lebaran aja kayaknya,” kata dia.

Dilansir dari Dinas Kebudayaan Jogja, sejarawan asal Belanda, H.J. de Graaf dalam Malay Amal menyebut ketupat sebagai simbol perayaan hari raya Islam pada masa pemerintahan Demak yang dipimpin Raden Patah pada awal abad ke-15. 

De Graaf menduga kulit ketupat yang terbuat dari janur berfungsi untuk menunjukkan identitas budaya pesisiran yang ditumbuhi banyak pohon kelapa. Warna kuning pada janurnya dimaknai sebagai upaya masyarakat pesisir Jawa untuk membedakan warna hijau dari Asia Barat dan merah dari Asia Timur.

Selain itu, ketupat juga dikenal sebagai salah satu cara dakwah Raden Mas Sahid yang dikenal dengan panggilan Sunan Kalijaga. Ketupat menjadi media dakwah melalui akulturasi budaya agraris di Demak yang kemudian menjadi kerajaan pertama Islam di Jawa.

Ketupat, yang sudah akrab dengan masyarakat utara pesisir, diperkenalkan dan dimasukkan kembali oleh Sunan Kalijaga dalam perayaan Lebaran ketupat pada 8 Syawal atau sepekan setelah Lebaran Idulfitri.

#3 Kacang, remeh-temeh tapi jadi kesukaan semua orang saat Lebaran

Lain dengan Tata dan Dhea yang menyebutkan kuliner yang langsung diingat identik dengan Lebaran, Ifroh (23) memilih camilan yang selalu ada tanpa disadari.

Pilihan Ifroh adalah kacang goreng. Camilan yang  tidak seikonik nastar atau ketupat, tapi selalu tersaji di meja bersama kue-kue Lebaran. “Di rumah, harus ada kacang,” katanya, Jumat (6/3/2026).

“Dari kecil, selalu ada itu harus ada kacang tanah,” ujar Ifroh.

Kebiasaan selalu menghidangkan kacang tanah goreng dalam toples ini membuat Ifroh terbiasa dengan camilan ini. Sampai dengan hari ini, Ifroh merasa asing kalau tidak melihat kacang goreng di meja tamu rumahnya saat Lebaran.

Keasingan itu, menurutnya, juga mungkin dirasakan oleh orang-orang yang berkunjung. Sebab, bukan hanya saudara-saudara seusianya yang mengunjungi rumahnya untuk bersilaturahmi, tetapi ada juga orang-orang dari desa yang lebih sederhana.

“Karena yang datang ke rumah itu malah bukan saudara-saudara doang, tapi orang-orang sedesa, terutama bapak-bapak dan orang tua atau sesepuh gitu,” ujarnya.

Dari mayoritas usia orang-orang yang bertandang ke rumahnya, Ifroh menyebut kacang menjadi sajian wajib. Alasannya adalah mereka pasti menyasar kacang lebih dulu sebelum sajian lainnya saat sowan ke kediamannya untuk menemui ayahnya yang berposisi sebagai salah satu imam di masjid.

Dengan peran ayahnya ini, makin tidak heran, orang-orang yang berkunjung ke rumahnya juga berusia dewasa, bahkan lanjut. Jadilah, kacang menjadi camilan Lebaran paling diminati.

“Mereka suka banget sama kacang karena [mengunjungi] bapak di rumah dia sebagai tokoh lumayan berpengaruh,” jelasnya.

Penulis: Shofiatunnisa Azizah

Editor: Aisyah Amira Wakang

BACA JUGA: Lebaran Jadi Momen Menyedihkan usai Nenek Tiada, Keluarga Sudah Nggak Mau Kumpul apalagi “Sungkeman” atau artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version