Kotagede, Tanah Hadiah Saksi Lahirnya Mataram Islam

Kotagede (Syaeful Cahyadi/Mojok.co).

Kotagede tak hanya sebuah wilayah kecamatan di Yogyakarta. Lebih dari itu, Kotagede jadi saksi berdirinya kerajaan Mataram Islam, cikal bakal Yogyakarta saat ini. Di Kotagede Mojok menyusuri kisah awal mula berdirinya Kerajaan Mataram Islam.

Pasar Kotagede mojok.co
Sudut pasar Kotagede, pasar ini sudah ada sejak masa awal Mataram Islam (Syaeful Cahyadi/Mojok.co).

***

Sabtu (1/1) pagi, hari pertama di tahun 2022, saya menuju timur Kota Yogyakarta. Jalanan sempit dan papan nama perajin perak ramai menyapa. Hiruk-pikuk pasar terlihat di ujung jalan. Di sudut barat pasar, terdapat pertigaan kecil dengan sebuah bekas gardu listrik peninggalan Belanda.

Seorang penarik becak terkantuk-kantuk menunggu penumpang di samping gardu. Jalan Watu Gilang, demikian namanya. 100 meter di selatan pasar, pohon beringin tua menyambut. Diperkirakan usianya sudah ratusan tahun. Inilah Kotagede yang di masa silam disebut Kuthagede.

Pasar yang saya lewati tadi adalah Pasar Kotagede atau Sargede. Di sinilah, Kerajaan Mataram Islam memulai kisahnya. Mataram Islam adalah kerajaan besar di Jawa wilayah tengah bagian selatan setelah era Majapahit dan Demak Bintara.

Sebuah gapura batu bata bergaya mirip candi menjadi penanda pintu masuk. Pikiran saya berkelana ke masa ratusan tahun silam. Membayangkan peristiwa apa saja yang telah terjadi di sini. Saya putuskan singgah di angkringan sebelum berjalan lebih jauh.

Mirip dengan cerita Darwis Khudori dalam Orang-Orang Kotagede, keberagaman dan kesederhanaan saya temukan di angkringan ini. Ada yang bercerita tentang hutang, ada yang berkisah masalah rumah tangga. Seorang pria bertato datang dan memesan kopi. Ia segera ikut nimbrung dalam obrolan dan bangga berkisah aneka perjalanan hidupnya, termasuk kala ia dipenjara karena kasus judi.

Alas Mentaok Tanah Hadiah

Semua bermula dari pemberontakan Arya Penangsang terhadap Kerajaan Pajang. Sultan Pajang yang bernama Sultan Hadiwijaya lantas membuka sayembara. Siapapun yang bisa membunuh Arya Penangsang akan diberi hadiah berupa kekuasaan di Alas Mentaok, wilayah ini berada di sebelah barat ibukota Pajang. Akhirnya, Ki Panjawi beserta Ki Ageng Pemanahan dan putranya berhasil membunuh sang pemberontak.

Di Alas Mentaok inilah, Ki Ageng Pemanahan dan putranya menggelar kekuasaan baru sebagai bawahan Pajang—sedangkan Ki Panjawi memilih hadiah tanah di Pati. Ki Ageng Pemanahan tidak menyandang gelar sebagaimana raja umumnya dan hanya mengubah nama menjadi Kiai Gede Mataram.

Tatkala putra Ki Ageng Pemanahan yang dahulu membunuh Arya Penangsang naik tahta sebagai raja dan bergelar Panembahan Senopati Ngalaga Ing Mataram, ia memberontak pada Sultan Pajang yang juga ayah angkatnya. Catatan sejarah kemudian menobatkannya sebagai raja pertama kerajaan Mataram Islam.

Oleh banyak ahli sejarah, kerajaan ini disebut-sebut punya corak berbeda dengan kerajaan terdahulu. Mataram bukan kerajaan maritim melainkan kerajaan agraris. Ia tidak berada di pesisir ataupun delta sungai sebagaimana Demak atau Majapahit namun di pedalaman hutan. Jauh lebih ke belakang, di Jawa wilayah tengah bagian selatan sudah pernah ada kerajaan bernama Mataram. Masing-masing beragama Hindu dan Buddha namun pindah ke Jawa bagian timur dan melahirkan aneka kerajaan lain termasuk kelak Majapahit.

Dari tanah hadiah inilah Senopati memperluas kejayaan Mataram Islam. H.J De Graaf dalam Awal Kebangkitan Mataram memberikan pengecualian pada kerajaan satu ini. Bahwa, tidak seperti kerajaan lain, Mataram Islam di awal pendirian lebih memprioritaskan urusan perluasan wilayah dibandingkan pembangunan fisik istana. Bahkan menurutnya, Mataram Islam baru memikirkan urusan fisik istana di masa Sultan Agung. Maka, kisah awal Mataram Islam adalah soal penaklukan berbagai wilayah di bagian Jawa seperti Kediri dan Madiun. Salah satu tokoh Islam di masa itu, Sunan Giri, disebut telah meramalkan jika dari kerajaan inilah akan diturunkan raja-raja besar di tanah Jawa.

Salah satu bangsal di depan makam, tampak lukisan wajah Ki Ageng Pemanahan (kiri) dan Penembahan Senopati (kanan). (Syaeful Cahyadi/Mojok.co).

Soal waktu pendirian kraton, De Graaf menduga itu terjadi pada 1578 Masehi. Sementara Babad Tanah Jawi (W.L. Olthof, 2017) tidak menyebut secara pasti namun dikisahkan bahwa Arya Penangsang berhasil dibunuh pada 1471 Jawa (sekitar 1549 Masehi) dan Ki Ageng Pemanahan meninggal tahun 1535 Jawa (sekitar 1613 Masehi). Menurut Pujodipuro, seorang abdi dalem senior makam Kotagede, kraton utama selesai dibangun sekitar tahun 1516 Masehi. Sebuah prasasti di komplek makam menuliskan bahwa Senopati bertahta tahun 1532 dan meninggal tahun 1601 Masehi.

The History Of Java (Thomas Stamford Raffles, 2012) menyebut angka 1428 Jawa (sekitar 1493 Masehi) sebagai tahun berpindahnya Ki Ageng Pemanahan ke Mataram. Buku itu juga menyebutkan Alas Mentaok ketika itu terdiri dari 300 desa. Sementara situs resmi Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta menyebut angka 1532 Masehi sebagai tahun pendirian Kraton Kotagede. Dari sini, sederhananya, bisa disimpulkan bahwa Mataram di Kotagede sudah ada menjelang paruh kedua abad 16.

Kraton di Kotagede ini, kelak, digunakan hingga masa Sultan Agung. Jika diurutkan, selepas Kiai Gede Mataram wafat, tahta digantikan Danang Sutawijaya atau Panembahan Senopati lalu Panembahan Hanyakrawati atau Panembahan Seda Krapyak. Setelahnya, ada Raden Martapura yang menjadi raja selama satu hari sebelum penobatan Sultan Agung. Di masa raja ini ibukota pindah ke daerah bernama Kerto.

Babad Alas Mentaok

4 abad berlalu dan Mataram Islam telah terpecah ke beberapa kerajaan. Kini pusat istana kraton Mataram di selatan pasar Kotagede menjadi area Makam Raja Mataram Kotagede. Di sini terdapat Masjid Gede Mataram Kotagede, makam para raja, dan sendang dengan benteng cepuri yang masih utuh mengelilingi. Secara administrasi, Kotagede adalah nama kecamatan di Kota Yogyakarta. Namun, tempat ini berada di wilayah Kecamatan Banguntapan, Bantul. Menurut keterangan di situs Dinas Kebudayaan DIY, Makam Raja Mataram Kotagede terdiri 3 bagian masing-masing seluas 27,5×30 meter, 8×5,4 meter, dan 30×27,5 meter.

Masjid Gede Mataram Kotagede (Syaeful Cahyadi/Mojok.co).

Di pendopo depan makam tempat para abdi dalem berjaga, saya bertemu dengan Raden Tumenggung Pujodipuro (59), abdi dalem senior makam Kotagede. Sebagaimana makam- makam kuno lain, tempat ini dijaga oleh abdi dalem dari Kraton Jogja dan Solo. Totalnya 60 orang.

“Dulunya hanya langgar sederhana karena saat itu penduduk Mataram masih sedikit. Lalu dibangun masjid utama oleh Panembahan Hanyakrawati. Di masa Sultan Agung ditambah serambi dan jagang (benteng),” terang Pujodipuro.

Menurutnya, masjid dan Pasar Kotagede adalah 2 bangunan pertama yang dibangun semasa Ki Ageng Pemanahan babad alas Mentaok. “Setelah itu baru Baluwarti (benteng) dan fasilitas lain dibangun. Total waktunya butuh 10 tahun.”

Semasa babad alas, daerah sekitar masjid adalah pesanggrahan raja sebelum kraton utama selesai dibangun. Di sinilah pemerintahan raja-raja awal Wangsa Mataram dijalankan. Sementara tempat tinggal utama raja berada 200 meter di sebelah selatan makam. Sendang Lanang di dekat makam diduga sudah ada sejak masa itu. Namun, keberadaannya bukanlah sebagai pemandian raja sebagaimana Tamansari melainkan sebagai sumber air bagi rumah tangga raja. Selain itu, ada 2 sendang lain yaitu Sendang Putri dibangun di masa Sultan Hamengkubuwono I dan Sendang Kemuning yang diduga dibuat kala pembangunan makam.

Area Sendang Lanang (Syaeful Cahyadi/Mojok.co).

Masih seturut Pujodipuro, makam Kotagede kemungkinan jauh lebih tua dibandingkan istana. Sebab, sosok pertama yang dimakamkan adalah Nyi Ageng Nis, ibu dari Ki Ageng Pemanahan yang meninggal saat babad alas belum selesai.

Total, ada 627 makam di sini, termasuk makam Hadiwijaya (Sultan Pajang), Panembahan Joyoprono (penasehat Ki Ageng Pemanahan), dan tentu sang pendiri Mataram, Ki Ageng Pemanahan. Agaknya, makam ini tidak seperti Pajimatan yang sengaja dibangun untuk para raja. “Mungkin, saat itu, daripada harus pindah-pindah lagi, maka dijadikan satu di sini,” duga sang abdi dalem.

Selain itu, ada pula raja yang dimakamkan di sini ketika Mataram Islam telah terpecah. Paku Alam I hingga IV dan Sri Sultan Hamengkubuwono II contohnya. Kala itu, menurut Pujodipuro, pemakaman Sri Sultan Hamengkubuwono II pada 1828 dilakukan lewat pintu samping yang dijebol dadakan supaya tidak melanggar ketentuan bahwa makam telah dinyatakan ditutup.

Tentang hal ini, Pujodipuro berkata sudah menjadi pesan mendiang Hamengkubuwono II semasa hidup bahwa ingin dimakamkan di Kotagede. Sementara sejarawan Peter Carey dalam Kuasa Ramalan berpendapat bahwa pemilihan Kotagede lebih didasarkan pada alasan keamanan sebab saat itu sedang berkecamuk Perang Jawa. Kini, sebagaimana makam kuno lain, Makam Raja Mataram Kotagede telah menjadi makam bunder alias tidak lagi digunakan.

Pintu masuk Makam Kotagede (Syaeful Cahyadi/Mojok.co).

Saat turun ke area sendang, seorang pengunjung tampak sedang mandi. Memang, tempat ini sering digunakan untuk mandi oleh pengunjung dengan berbagai tujuan. Keragaman tujuan bisa dilihat dari sebuah pesan himbauan “hati-hati penipuan berkedok paranormal”. Beberapa kali berkunjung saat malam pun saya sering menemukan pengunjung melakukan berbagai ritual. Pun, mudah menemukan bekas pembakaran dupa dan menyan di area sendang.

Di Sendang Lanang, saya menemukan dua bocah warga sekitar sedang mandi. Mereka menyelam untuk mengambil uang logam yang tampaknya dibuang para pengunjung. “Kalian nggak takut?” saya iseng menanyai mereka soal adanya ikan-ikan besar yang konon disebut penunggu sendang.

“Nggak, Mas, yang bikin takut itu bulusnya (hewan yang bentuknya seperti kura-kura), soalnya bisa gigit dan suka makan daging,” cetus salah satu bocah.

Anak-anak bermain di sendang (Syaeful Cahyadi/Mojok.co).

Di sendang ini memang dulunya ada bulus yang juga disebut sebagai penunggu. Salah satu bulus telah mati dan dibuatkan nisan dengan bagian atas berbentuk patung kura-kura di samping pagar makam. Kuburan Kiyai Dudo Pejah Jumat Kliwon 1987, demikian tulisan di nisan. Sementara satu bulus lain kata si bocah tadi telah ditangkap dan dipindahkan entah ke mana.

“Ikan yang itu ada namanya loh, Mas. Namanya Wirah, ikan betina,” lanjut si bocah sambil mengacungi lele albino besar. Entah benar atau tidak.

Di bagian depan sendang, saya bertemu dengan Kania (19), mahasiswa asal Bantul. Ia baru pertama datang ke sini dan tidak menyangka jika tempat ini luas. Dulunya, ia hanya tahu tempat ini dari sosial media. “Ini gara-gara diajak teman, mau foto-foto aja sih,” terangnya.

Suara bedug terdengar, tanda salat dzuhur. Keramaian berpindah ke Masjid Gede. Di masjid ini pula, mungkin, para pendiri Wangsa Mataram Islam bersembahyang bersama rakyatnya. Ratusan tahun silam.

Konsep catur gatra

Lembar-lembar sejarah Mataram Islam meninggalkan toponim khas di sekitar Kotagede. Kampung Sanggrahan, misalnya, yang disebut Pujodipuro sebagai tempat berdirinya pesanggarahan. Ada pula nama kampung Alun-alun. Konsep Catur Gatra Tunggal di Kraton Jogja dan Solo kiwari juga diwariskan dari masa itu. Konsep ini tentang letak 4 unsur utama dalam kerajaan.

Letak kraton akan berada di paling selatan dengan alun-alun di depannya. Di sebelah barat alun-alun ada masjid kraton. Lalu di sebelah utara alun-alun ada pasar gede. Di sekitar tempat ini pun masih mudah ditemukan bekas benteng kraton dengan kondisi baik. Beberapa di antaranya kini berdampingan dengan pemukiman warga dan menjadi tembok gang.

Beteng Cepuri di selatan Makam Hasta Rengga (Syaeful Cahyadi/Mojok.co).

Saat beranjak lebih ke selatan, saya berhenti di Kampung Dalem yang menurut Pujodipiro adalah tempat tinggal raja di masa Kraton Kotagede. Di tengah sebuah perempatan kecil dusun ini, terdapat sebuah bangunan mirip cungkup. Situs Watu Gilang, Watu Gatheng, dan Watu Genthong, demikian keterangan di papan nama. Watu Gilang dipercaya sebagai tempat singgasana Panembahan Senopati. Di batu itu pula, Ki Ageng Mangir yang merupakan pemberontak meregang nyawa setelah kepalanya dibenturkan ke batu.

Di samping situs, terdapat sebuah makam besar bernama Hasta Rengga. Saya masuk dan bertemu dua orang abdi dalem. Salah satunya memperkenalkan diri sebagai Teguh Priyanto (39). Pria itu berujar bahwa Hasta Rengga tidak ada hubungannya dengan sejarah Mataram Islam sebab ini adalah makam keluarga Kerajaan Yogyakarta. Di sinilah makam para cucu dan adik-adik raja Jogja.

Ditemani Teguh, saya masuk ke area makam. Tidak seperti dugaan saya, makam ini bernuansa lebih modern dengan nisan batu seperti makam pada umumnya. Namun di bagian utara ada bagian yang lebih tinggi dan beratap. Teguh berkata bahwa yang dimakamkan di atas punya gelar dan hubungan darah lebih dekat dengan raja. Tampak beberapa nama di itu adalah adik-adik raja yang meninggal di masa pandemi.

“Sayang kami sedang tidak pegang kunci situs, Mas. Kalau sedang bawa pasti kami bukakan,” cetus Teguh.

Kami kemudian bertukar cerita banyak hal. Dari Teguh, saya mendengar kisah bahwa hari pasaran pon cukup disakralkan oleh warga sekitar. Musababnya, hari pon adalah hari kemenangan sekaligus hari geblag atau meninggalnya Panembahan Senopati. Maka, kepercayaan lawas mengatakan tidak elok jika melakukan aneka hal di hari pon. “Supaya tidak menyamai raja,” terangnya.

“Misal ada yang diterima kerja pada pon, dia akan minta supaya mulai bekerja esok harinya.” Sementara pasaran Pon sebagai hari meninggalnya Panembahan Senopati di komplek Makam Raja Mataram Kotagede, seturut Pujodipiro tadi, diperingati dengan tahlilan bersama tiap malam Jumat Pon.

Situs Watu Gilang yang dipercaya sebagai batu tempat Senopati duduk dan membunuh Mangir (Syaeful Cahyadi/Mojok.co).

Tidak lama saya berada di Hasta Rengga. Hari sudah siang dan saya mampir mengisi perut di sebuah angkringan samping Situs Watu Gilang. Dua nasi kucing saya habiskan sembari mendengar percakapan para pembeli. Tampak beberapa remaja lalu lalang dengan skuter elektrik, tren wisata kekinian di Jogja.

Andai mereka melintas di tahun 1600-an, mereka pasti akan menjadi saksi kala Panembahan Senopati membunuh Mangir dengan membenturkannya di Watu Gilang. Lalu, kami di angkringan ini bisa saja diminta ikut menguburkan sang pemberontak di Makam Kotagede dengan separuh bagian di luar pagar atau di Godean, yang diyakini pula sebagai makam Ki Ageng Mangir. Para remaja tadi mungkin tidak tahu, tempat yang mereka lewati adalah saksi luka di masa awal pembentangan kisah Mataram Islam, ratusan tahun silam. Di Kotagede; sebuah tanah hadiah. Mulanya.

Reporter : Syaeful Cahyadi
Editor     : Purnawan Setyo Adi

BACA JUGA Ironi Pleret, Sejarah Yogyakarta yang Terlupakan dan liputan menarik lainnya di Susul.

Exit mobile version