Gadis-gadis Tangguh di Sepak Bola Putri Hydroplus Soccer League Kudus, Mengisi Peran Vital yang Jarang Jadi Sorotan

Gadis-gadis Tangguh di Sepak Bola Putri Hydroplus Soccer League Kudus, Mengisi Peran Vital yang Jarang Jadi Sorotan

Hydroplus Soccer League (liga sepak bola putri U-15 dan U-18 di Kudus) menjadi saksi ketangguhan gadis-gadis muda di lapangan hijau. Peran dan posisi mereka memang kerap tidak tersorot lampu, tapi bukan berarti tidak vital sama sekali. 

***

Hydroplus Soccer League 2026 di Kudus, Jawa Tengah, telah memasuki pekan kelima pada Minggu, (8/2/2026). Liga sepak bola putri U-15 dan U-18 ini menjadi kelanjutan dari MilkLife Soccer Challenge (MLSC), pembinaan sepak bola putri dari Bakti Olahraga Djarum Foundation untuk U-10 dan U-12

Duduk di bangku penonton sejak pagi, pandangan saya langsung tercuri oleh penampilan beberapa pemain. Bukan pada “nama bintang” yang sudah kerap jadi obrolan, atau dia yang telah banyak membobol gawang lawan. 

Pandangan saya justru tercuri oleh mereka yang berada di belakang garis tengah lapangan: peran dan posisi yang kerap luput dari pembicaraan panjang. 

Banyak dari kita mengira sepak bola ditentukan oleh penyerang atau gelandang bintang. Tapi kenyataannya, banyak tim juara justru bukan karena lini serang yang begitu ganas, tapi memiliki pertahanan solid. Semua tim juara, atau yang diklaim hebat, selalu punya kiper dengan kemampuan tak masuk akal.

Sebut saja Messi, seberapa besar dia berutang pada Emiliano Martinez. Real Madrid mungkin tidak akan mengecap Liga Champions ke-14 tanpa penampilan gemilang Thibaut Courtois di bawah mistar gawang.

Begitu juga yang terjadi di Supersoccer Arena (SSA), Kudus, tempat Hydroplus Soccer League digelar. 

Penentu kemenangan Spegaku dalam gelaran Hydroplus Soccer League dari bawah mistar gawang

Meski basah kuyup oleh keringat, rona cerah terpancar dari wajah Amira Sailin Nikhla (12), penjaga gawang klub asal Kudus: Spegaku Balistha. Bagi saya, dia layak mendapat tepuk tangan keras atas kemenangan 3-1 Spegaku Balistha dari klub asal Surakarta, Samba Persada Women. 

Laga kedua klub tersebut berlangsung dengan tensi panas. Samba Persada Women berkali-kali melancarkan serangan yang terukur. Tapi selalu mental karena peran Mira—sapaan akrabnya—di bawah mistar. 

Mira saat berjibaku mengamankan gawang dalam gelaran Hydroplus Soccer League.

Mira membuat banyak penyelamatan berkelas. Tidak jarang dia menerjang penyerang lawan yang memasuki daerahnya, menegaskan bahwa area dalam kotak penalti adalah teritori miliknya.

Dia juga beberapa kali meneriaki kawannya: memberi instruksi agar menempati celah-celah yang dibuat oleh musuh. Instruksi itu membuat pertahanan Spegaku Balistha menjadi amat solid dan sulit ditembus. Hasilnya adalah kemenangan yang meneguhkan posisi Spegaku Balistha di posisi tiga klasemen sementara Hydroplus Soccer League Kudus dengan perolehan 15 poin. 

Cap posisi “pupuk bawang”, ketidaksengajaan, dan sebuah pembuktian

Dalam dunia sepak bola anak-anak, kiper adalah posisi yang kerap dicap “pupuk bawang” alias paling tidak diinginkan. Di kampung, yang jadi kiper biasanya anak tidak populer. Tidak harus jago, pokoknya yang penting ada. 

Kendati begitu, Mira mengaku dengan sadar memilih posisi tersebut. Meski awalnya tidak sengaja, tapi ternyata dia justru nyaman di posisinya. 

“Awal mulanya tuh, dulu, waktu skill challenge, saya dipilih oleh pelatih untuk penalty shoot, terus jadi kiper terbaik. Terus, ngelanjutin jadi kiper,” ujar Mira. Saya sendiri meyakini, dalam sepak bola, posisi lah yang menemukan manusianya. Bukan sebaliknya.

Pandangan nanar menatap lawan.

Semenjak skill challenge itu, Mira seakan menemukan jalan sepak bolanya. Dan dia tidak mau hanya sekadar menjadi “pelengkap” tim. Dia benar-benar berlatih serius agar memberikan penampilan terbaik di posisinya. 

“Selain berlatih di lapangan, juga latihan di rumah. Melatih otot tangan biar kuat,” jelas Mira. 

Hasil latihan tersebut jelas terlihat dari bagaimana Mira menghalau bola hasil sepakan pemain Samba Persada Women yang jelas tidak pelan. Sebelumnya, berkat penampilan konsisten dan gemilang, dia bahkan diganjar menjadi “Best Goal Keeper” dua kali: pada MLSC Kudus Series 3 2024 dan MLSC Kudus 2025 lalu. Dalam gelaran Hydroplus Soccer League kali ini, gelar-gelar tersebut makin terlihat kepantasannya.

Tetap berlatih sembari menahan perih

Ganjaran itu memang amat layak diberikan pada Mira. Konsistensinya tidak bisa diragukan. Tidak hanya saat pertandingan, tapi sejak dari latihan pun dia sudah begitu. 

Mira mengaku tidak jarang harus tetap berlatih sembari menahan perih, yakni saat tiba harinya dia menstruasi. Tidak bisa dimungkiri, siklus biologis pada perempuan itu memang memicu rasa perih yang kerap mengganggu aktivitas. 

Meski begitu, Mira tidak mau tunduk. Sebab, melalui sepak bola putri, dia merasa menemukan jalan ke masa depan yang harus diperjuangkan dan ditebus dengan menempa diri sekeras-kerasnya. 

“Biasanya aku nahan sambil minum air putih yang banyak,” ungkap Mira.

Apalagi dia punya orang tua yang senantiasa mendukung langkahnya. Bahkan saat posisi yang Mira pilih bukan posisi yang kerap menerima sorot lampu. “Misal kalau main orang tua selalu pesan gini, ‘Dek, fokus, jangan dengerin omongan luar, fokus bola’, gitu,” kata Mira. 

Rasa cinta yang diturunkan dari ayah dan kini berlaga di Hydroplus Soccer League

Di tengah hujan yang mengguyur Supersoccer Arena, Kudus, tensi tinggi juga tersaji saat Arema FCW Academy berhadapan dengan SKU Femina. Kedua tim tampil sama kuat. Skor 1-1 bertahan hingga peluit akhir pertandingan berbunyi. 

Di tengah hujan dan tensi tinggi pertandingan, Syafira Aulia Kamil (13) menjadi salah satu pemain Arema FCW Academy yang tampak berkali-kali berjibaku dengan lawan. Tak pelak jika pemain yang menempati pos di lini tengah itu tampak keletihan. 

Sembari mengusir lelah, Kamil—sapaan akrabnya—bercerita, rasa cintanya pada sepak bola sebenarnya diturunkan oleh sang ayah. Gara-gara sering menonton ayahnya bermain sepak bola, percikan hangat itu pun mengendap di dalam dirinya. Dia pun akhirnya memutuskan untuk mengakrabi si kulit bundar.

“Kan di kampung sering juga main bola, tapi bola plastik. Terus minta ke Mamah, minta masukin SSB,” ucap Kamil. 

Masalahnya, di kampung Kamil tidak ada SBB putri. Alhasil, Kamil memulai petualangannya di dunia sepak bola dari sebuah SBB putra: berlatih dengan anak-anak laki-laki. Kamil pede saja. Sebab sepak bola bukan tentang gender, tapi tentang skill. 

Setahun setelahnya, barulah Kamil menemukan klub sepak bola putri, terus belatih hingga akhirnya bisa tampil di Hydroplus Soccer League. 

***

Hujan sudah berhenti, tapi mendung masih menggelayut di langit Kudus. Gelaran Hydroplus Soccer League U-15 berakhir mendekati jam 1 siang. Selanjutnya, giliran tim U-18 bertanding, mempertaruhkan harga diri masing-masing. 

Di sebuah kafe di area Supersoccer Arena, Kudus, para pemain U-15 berkumpul, bercanda, sebagaimana remaja pada umumnya.

Agak kaget juga melihat mereka yang awalnya rival sengit di lapangan, tapi bersatu tanpa sekat, meski jersey masih melekat. Semua ini, tentu saja tak akan terjadi jika tidak ada yang peduli dan mau mewadahi. 

Hydroplus Soccer League menjadi titik dan upaya membentuk ekosistem sepak bola putri di Indonesia yang, hingga kini, masih terombang-ambing dan kerap “terasing”.

Kudus hanya salah satu kota tempat Hydroplus Soccer League ini berlangsung. Liga sepak bola putri U-15 dan U-18 ini juga menggeliat di tiga kota lain: Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Semakin mempererat simpul-simpul pembinaan sepak bola putri untuk memperkuat fondasi Tim Nasional Sepak Bola Putri Indonesia. 

Reporter: Rizky Prasetya
Editor: Mochamad Aly Reza

BACA JUGA Tim Debutan tapi Tak Gentar: Pesepakbola Putri Muda Indonesia Siap Tanding di Singapura Lawan Tim-tim Kuat Asia

Ikuti berita dan artikel Mojok lainnya di Google News.

Exit mobile version