Monyet Ekor Panjang Terancam Punah, Puluhan Ribu Warga Tolak Ekspor ke Laboratorium

Monyet Ekor Panjang Terancam Punah, Puluhan Ribu Warga Tolak Ekspor ke Laboratorium.MOJOK.CO

Ribuan monyet ekor panjang yang berstatus terancam punah kembali menghadapi bahaya eksploitasi setelah pemerintah menerbitkan kuota ekspor untuk keperluan uji coba laboratorium. Menolak kebijakan tersebut, puluhan ribu warga bersama kelompok aktivis satwa menggelar aksi protes serentak untuk mendesak pembatalan ekspor secara menyeluruh.

***

Nasib pilu membayangi monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) di Indonesia. Spesies ini saat ini sudah berstatus Terancam Punah (Endangered) berdasarkan Daftar Merah IUCN.

Namun, ironisnya, pemerintah justru berencana mengirim ribuan monyet ini ke luar negeri untuk dijadikan hewan uji coba dan penelitian di laboratorium.

Kabar ini memicu reaksi keras dari masyarakat luas. Tepat pada perayaan Hari Primata Internasional, 1 September 2026, puluhan ribu warga bergerak mendesak pemerintah untuk segera menghentikan rencana ekspor tersebut.

Protes ini mencuat setelah pemerintah diketahui menerbitkan kuota ekspor sebanyak 1.928 ekor monyet untuk tahun 2026. Padahal, kuota ekspor untuk spesies ini tidak pernah diterbitkan lagi sejak tahun 2022.

Kekhawatiran semakin memuncak setelah muncul laporan mengenai pembangunan fasilitas pembiakan komersial di Kabupaten Mesuji, Lampung. Fasilitas tersebut kabarnya mampu menampung sekitar 4.000 ekor monyet ekor panjang. Tujuannya untuk pembiakan dan ekspor ke fasilitas penelitian biomedis di luar negeri.

Menolak diam, jaringan organisasi perlindungan satwa yang tergabung dalam Forum United For Primates menggelar aksi serentak di Jakarta dan Yogyakarta.

Di Jakarta, perwakilan forum mendatangi Kementerian Kehutanan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta Badan Karantina Indonesia (Barantin). Mereka menyerahkan surat resmi beserta sebuah petisi yang telah didukung oleh lebih dari 46.565 orang.

Petisi penolakan ini diinisiasi oleh organisasi JAAN, Action for Primates, dan Lady Freethinker.

Masyarakat dan aktivis dari Forum United For Primates menggelar aksi damai di Titik Nol Kilometer Yogyakarta bertepatan dengan perayaan Hari Primata Internasional pada 1 September 2026. Aksi simpatik yang turut menampilkan pertunjukan pantomim di dalam kandang ini bertujuan mendesak pemerintah untuk segera menghentikan ekspor monyet ekor panjang ke luar negeri demi kepentingan uji coba laboratorium. (dok. istimewa/Animal Friends Jogja (AFJ)

Pemerintah harus menangguhkan sementara ekspor monyet ekor panjang untuk penelitian

Tuntutan mereka sangat jelas: pemerintah harus menangguhkan sementara ekspor monyet ekor panjang untuk penelitian dan pengujian toksisitas. Mereka juga meminta pemerintah meninjau ulang kuota yang telanjur diterbitkan dan memastikan tidak ada monyet tangkapan dari alam liar yang masuk ke fasilitas ekspor tersebut.

Selain itu, pemerintah didorong untuk segera memperkuat metode penelitian sains yang tidak lagi mengorbankan hewan.

Sementara itu di Yogyakarta, aksi protes damai digelar di kawasan Titik Nol Kilometer. Aksi ini dihadiri oleh masyarakat umum dan Bandizt, pemain bas dari grup musik Shaggydog yang juga seorang pegiat satwa. Aksi ini diisi dengan edukasi, orasi, serta pertunjukan pantomim oleh seniman Wanggi Hoed.

Dalam aksinya, Wanggi mengenakan kostum petugas laboratorium namun ia sendiri yang berada di dalam kandang besar, membalikkan keadaan untuk menyoroti kekejaman yang dialami monyet sebagai objek percobaan.

“Ketika spesies yang sudah berstatus Terancam Punah kembali mendapatkan kuota ekspor, pemerintah perlu mempertanyakan apakah kebijakan ini masih dapat dibenarkan,” tegas Angelina Pane, perwakilan dari Forum United For Primates.

Dalam aksi penolakan di Yogyakarta tersebut, massa secara spesifik menuntut pemerintah untuk menangguhkan dan meninjau kembali kebijakan kuota ekspor sebanyak 1.928 ekor monyet yang diterbitkan untuk tahun 2026. Para demonstran juga mendesak agar pemerintah memastikan tidak ada populasi monyet liar yang dieksploitasi untuk fasilitas pembiakan komersial, serta meminta adanya pengembangan metode penelitian sains tanpa menggunakan hewan. (dok. istimewa/Animal Friends Jogja (AFJ))

Gerakan perlawanan ini tidak hanya disuarakan oleh aktivis. Sejumlah figur publik terkemuka seperti Manohara Odelia, Luna Maya, Richard Kyle, dan Rachel Yosi turut memberikan dukungan mereka. Desakan serupa juga mengalir dari dunia internasional melalui Asia for Animals Coalition bersama banyak organisasi global lainnya yang meminta Pemerintah Indonesia segera menangguhkan ekspor ini.

Monyet ekor panjang memiliki hak untuk hidup bebas di habitat alaminya, bukan berakhir menderita akibat eksperimen di laboratorium. Kita semua bisa ikut andil menyelamatkan nyawa mereka.

Mari bersuara! Jangan biarkan spesies ini punah karena eksploitasi. Segera luangkan waktu Anda sejenak untuk menandatangani petisi desakan penghentian ekspor monyet ekor panjang melalui tautan berikut ini.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Demi Cuan dan Objek Penelitian, Ribuan Monyet yang Terancam Punah Rela Dikirim ke Luar Negeri atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 3 September 2026 oleh .

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Exit mobile version