Ketika orientasi organisasi kemasyarakatan (ormas) berubah dari perjuangan nilai ke kepentingan politik, nilai-nilai yang semula dijunjung tinggi bisa berpotensi ternodai.
Dalam sejarahnya, banyak organisasi masyarakat lahir dari semangat memperjuangkan nilai. Organisasi tumbuh melalui kerja sosial, pendidikan, pelayanan kemanusiaan, dan pemberdayaan masyarakat. Namun, seiring perubahan sosial dan politik, organisasi masyarakat menghadapi tantangan ketika orientasi awal berbasis nilai mulai berhadapan dengan kepentingan politik maupun ekonomi.
Saat kepentingan menjadi orientasi dominan
Guru Besar Sosiologi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Prof. Dr. Sunyoto Usman, M.A., menilai persoalan utama ormas saat ini bukan terletak pada keberadaannya, melainkan pada perubahan orientasi yang dapat terjadi dalam perjalanan organisasi.
Sunyoto menjelaskan, secara Sosiologis perkembangan orientasi ormas terbagi ke dalam tiga sisi, yakni perjuangan nilai, perluasan jaringan,
Menurutnya, perjuangan nilai dan pembangunan jaringan merupakan bagian penting dari fungsi sosial organisasi. Ormas yang tumbuh dari nilai dan kebutuhan masyarakat cenderung memiliki ikatan sosial yang kuat dengan anggotanya maupun lingkungan sekitar.
Nah, tantangan yang akan dihadapi ormas adalah ketika mulai muncul kepentingan tertentu. Lebih-lebih jika kepentingan tersebut kemudian menjadi orientasi dominan dan menggeser nilai yang menjadi dasar organisasi.
“Kepentingan itu bisa kepentingan politik, bisa kepentingan ekonomi, dan kepentingan yang lain. Nah, yang ketiga inilah yang kemudian organisasi itu bisa menodai nilai-nilai yang terdapat dalam anggaran dasarnya,” beber Sunyoto dalam keterangan tertulis di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Kamis (3/9/2026).

Ujian integritas dan konsistensi ormas karena pengaruh eksternal
Jika sudah begitu, ormas rawan terpapar kepentingan eksternal yang bisa memengaruhi arah organisasi. Di titik tertentu bahkan mendorong penggunaan kekuatan sosial yang dimiliki ormas untuk mencapai tujuan tertentu.
“Biasanya kalau sudah kepentingan itu ada faktor-faktor eksogen, faktor luar yang masuk di situ. Nah, inilah yang kemudian potensial untuk melakukan kekerasan, membuat fitnah dan sebagainya demi kepentingan yang ingin dicapai,” ujar Sunyoto.
Kondisi tersebut, lanjut Sunyoto, menunjukkan bahwa tantangan organisasi masyarakat bukan sekadar mempertahankan eksistensi atau memperluas jaringan, tetapi juga menjaga nilai yang menjadi fondasi organisasi.
Sebab, kekuatan sebuah ormas tidak semestinya hanya diukur dari jumlah anggota, luas jaringan, atau besarnya pengaruh. Lebih krusial dari itu adalah bagaimana ormas mempertahankan integritas, konsistensi terhadap nilai, serta kontribusi nyata kepada masyarakat.
Karena jika kekuatan sosial tidak lagi digunakan untuk kepentingan masyarakat, tetapi diarahkan untuk mengejar kepentingan tertentu, organisasi berpotensi kehilangan legitimasi moral yang sebelumnya dibangun melalui kerja sosial.
Ormas masuk ruang politik: kekuatan untuk mendukung agenda kelompok tertentu.
Ditilik dari sejarahnya, ormas memang banyak berperan sebagai kekuatan sosial yang melakukan mobilisasi masyarakat untuk memperjuangkan nilai atau kepentingan tertentu. Namun, dalam perkembangannya, sebagian organisasi mulai memiliki hubungan yang semakin dekat dengan institusi politik, setidaknya begitulah pengamatan Sunyoto.
Menurut Sunyoto, perubahan tersebut membuat sebagian organisasi memiliki posisi yang semakin strategis dalam dinamika politik. Sebab posisi ormas tidak sekadar men-support partai politik atau lembaga-lembaga yang berasosiasi dengan politik, tapi sudah mulai memiliki peran sentral.
Sebenarnya kedekatan dengan politik tidak serta-merta menjadi persoalan bagi ormas. Namun, Sunyoto menggarisbawahi: selama organisasi tetap mampu mempertahankan orientasi sosial dan nilai yang menjadi dasar pendiriannya.
“Tantangannya adalah memastikan kepentingan politik praktis tidak mengambil alih fungsi sosial organisasi,” tekan Sunyoto.
Dalam penilaian Sunyoto, ketika batas antara kepentingan sosial dan kepentingan politik semakin kabur, kekuatan organisasi dapat digunakan bukan lagi untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat secara luas, melainkan untuk mendukung agenda kelompok tertentu.
Nilai kemanusiaan dan keadilan harus jadi pijakan
Meski begitu, Sunyoto menegaskan bahwa keberadaan organisasi masyarakat tetap penting bagi kehidupan demokrasi Indonesia. Karena memang ormas merupakan salah satu kekuatan penting dalam kehidupan demokrasi Indonesia.
Keberadaannya menjadi representasi masyarakat sipil yang berperan memperjuangkan aspirasi, membangun solidaritas, memberikan pelayanan sosial, hingga membantu menyelesaikan berbagai persoalan di tengah masyarakat.
Oleh karena itu, dalam segala dinamika yang terjadi, bukan berarti ormas harus dihilangkan. Yang harus dilakukan adalah bagaimana memastikan organisasi tetap menjalankan fungsi sosialnya secara bertanggung jawab.
Organisasi masyarakat yang kuat, menurut Sunyoto, bukan semata-mata organisasi yang memiliki massa besar atau pengaruh politik luas. Kekuatan tersebut seharusnya dibangun melalui kepercayaan masyarakat, konsistensi terhadap nilai, dan kontribusi nyata bagi kehidupan sosial.
“Pertama itu kemanusiaan, lakukan gerakan kemanusiaannya. Yang kedua itu keadilan, bagaimana sekarang merumuskan keadilan itu untuk tidak merasa besar dan melakukan diskriminasi,” tegas Sunyoto.
Nilai kemanusiaan dan keadilan, menurutnya, perlu menjadi pijakan agar kekuatan organisasi tidak berubah menjadi alat tekanan terhadap kelompok lain.
“Ormas yang ideal bukanlah organisasi yang memperoleh pengaruh karena kemampuan memberikan tekanan, melainkan organisasi yang mendapatkan kepercayaan karena nilai dan kontribusinya,” sambung Sunyoto.
Dengan demikian, ormas tetap dapat menjalankan perannya sebagai salah satu pilar demokrasi. Tapi di saat yang sama juga tidak kehilangan arah di tengah tarik-menarik kepentingan sosial, ekonomi, dan politik.
Sumber: Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY)
BACA JUGA: Muktamar Ke-35 NU: Membuka Paket dari Istana atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan