Sejak ribuan tahun lampau, Indonesia masyhur sebagai episentrum rempah dunia. Kekayaan plasma nutfah, mulai dari pala, cengkih, lada hitam, hingga ketumbar, menjadi magnet ekonomi masa lalu yang sejarahnya masih diromantisisasi hingga kini.
Namun, di balik narasi kejayaan itu, industri rempah Nusantara tengah diuji oleh erosi genetik dan ancaman patogen mutakhir.
Lebih dari sekadar bumbu dapur, kekayaan rempah adalah fondasi masa depan untuk pengembangan varietas unggul, pangan fungsional, dan farmasi bertaraf global.
“Rempah Nusantara bukan semata warisan sejarah, melainkan sumber daya strategis yang harus digali lewat riset agar mangkus menyejahterakan masyarakat,” tegas Dekan Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Dr. Budi Daryono, dalam Seminar Nasional Biologi Tropik ke-10 di UGM, Rabu (1/7/2026) kemarin.
Ketua Konsorsium Biologi Indonesia (KOBI) itu menyoroti ihwal krusialnya penguatan riset molekuler untuk konservasi genetika lokal. Salah satu buktinya adalah riset endemik pala Sangihe.
Melalui pendekatan morfologi dan genetik, akademisi berhasil memetakan lima morfotipe utama pala tersebut: bulat tebal, bulat tipis, oval tebal, oval tipis, dan biji kembar.
Pemetaan yang disinggung Prof. Budi ini sejalan dengan penelitian Widya L. Legoh dalam Jurnal Agri-Sosioekonomi (2020) yang membuktikan bahwa mutasi genetik dan faktor ekotipe lokal di Kepulauan Sangihe menciptakan keragaman bentuk buah pala yang unik.
Tanpa data dasar taksonomi dan perlindungan Indikasi Geografis (IG), kekayaan genetik semacam ini rentan punah ditelan zaman atau diklaim oleh negara lain.
Rempah kita rentan terserang penyakit
Di sisi lain, melestarikan genetika rempah tak akan ada artinya jika tanaman tak mampu bertahan di lahan. Pakar dari Mie University Jepang, Prof. Chiharu, melontarkan peringatan keras: tanaman rempah kita teramat rentan terserang penyakit akibat minimnya pemantauan berkala.
Dari sembilan jenis tanaman rempah yang dikaji di Indonesia, setidaknya tercatat 34 jenis penyakit yang mengintai. Ironisnya, sebagian besar pendataan penyakit tanaman rempah di Indonesia rupanya dilakukan sebelum tahun 1996.
Akibatnya, informasi persebaran penyakit maupun perubahan tata nama ilmiah patogen banyak yang usang.
“Pembaruan data taksonomi dan inventarisasi patogen mutlak diperlukan agar upaya pengendalian penyakit lebih akurat,” tutur Chiharu, dalam acara yang sama.
Peringatan Chiharu sangat beralasan. Sebagai contoh nyata, komoditas lada hitam nasional kerap hancur akibat penyakit Busuk Pangkal Batang (BPB).
Merujuk pada publikasi Dodo Gustianto jurnal Agrosasepa (2023), BPB disebabkan oleh serangan jamur patogen Phytophthora capsici yang mampu mematikan tanaman secara massal dalam waktu singkat. Tanpa pembaruan data inventarisasi penyakit yang presisi, petani rempah kita praktis berperang dengan mata tertutup menghadapi patogen-patogen ganas tersebut.
Ujung-ujungnya, eksportir akan kesulitan menembus pasar global yang menuntut standardisasi kesehatan komoditas yang amat ketat.
Daun salam menjadi sanitizer alami
Meski dirundung tantangan penyakit dan data konservasi, potensi bioprospeksi rempah Nusantara sesungguhnya nirbatas. Jika diteliti lebih jauh, satu jenis dedaunan saja bisa mengguncang industri pangan.
Pakar dari Universiti Putra Malaysia, Prof. Yaya, memaparkan temuan mutakhir ihwal daun salam (Syzygium polyanthum).
Penelitian Yaya membuktikan bahwa ekstrak daun salam sanggup menjadi sanitizer (bahan sanitasi alami) penghambat pertumbuhan bakteri dan jamur penyebab penyakit bawaan pangan (foodborne illness). Ekstrak tersebut bekerja mematikan dengan cara merusak dinding sel mikroorganisme.
Secara farmakologis, mekanisme ini masuk akal. Studi klinis oleh Wahyudi dalam Indonesian Journal of Pharmaceutical Education (2024) mengonfirmasi bahwa daun salam kaya akan senyawa bioaktif seperti flavonoid, tanin, alkaloid, dan minyak atsiri.
Kombinasi flavonoid dan tanin inilah yang bertindak sebagai agen antibakteri mematikan bagi patogen.
Istimewanya, pemanfaatan ekstrak daun salam sebagai sanitizer sama sekali tidak merusak warna, tekstur, atau aroma bahan pangan, bahkan memperpanjang masa simpan produk.
“Temuan ini membuktikan bahwa tanaman rempah tidak sekadar bermakna di meja makan, tetapi berpeluang besar dikembangkan sebagai sanitizer alami pengganti bahan kimia sintetik,” pungkas Yaya.
Menjaga rempah Nusantara kini tak bisa lagi sekadar mengandalkan kebiasaan tanam warisan lelulur. Diperlukan sinergi antara pemutakhiran data patogen di hilir dan inovasi genetika di hulu, agar komoditas kita tak sekadar menjadi narasi kejayaan masa lalu, tetapi terus berjaya di masa depan.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Rzea
BACA JUGA: Jelajahi 7 Titik Jalur Rempah, Bawa Saya Mandi Khatulistiwa hingga Minum Air Kehidupan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
