Suasana Klaten berubah menjadi era Kejayaan Mataram Kuno pada Karnaval Budaya Klaten 2026. Sesuai tema “Klaten Mandala Peradaban—Saka Sandyakala, Tumuju Cahya”, pawai budaya itu menampilkan ragam pertunjukan seni dan kreativitas masyarakat.
Di sana, sebanyak 28 kontingen dari 26 kecamatan menunjukkan atraksi yang menggambarkan jejak sejarah, serta kekayaan budaya Klaten. Mereka terdiri dari Perkumpulan Olahraga Tarian Baris Indonesia (POTBI) Klaten dan Pemuda Hindu Klaten.
Melalui Karnaval Budaya Klaten, nuansa kejayaan Mataram Kuno dihidupkan kembali dalam balutan kostum, seni pertunjukan, dan berbagai kreasi budaya. Tampilan mulai dari cerita Candi Plaosan, Gunung Merapi, Ya Qowiyyu, Candi Merak, Umbul, Tarian hingga Payung Juwiring lengkap disajikan dalam acara tersebut.
Jejak Mataram Kuno di Klaten

Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo berujar Karnaval Budaya Klaten kali ini mengangkat kejayaan Klaten pada masa lalu. Menurut Hamenang, keberadaan Kerajaan Medang menjadi salah satu bagian penting dalam sejarah Klaten yang perlu terus diperkenalkan kepada masyarakat.
“Untuk membangkitkan kembali kejayaan kita di masa lalu, kita kenalkan sejarah Klaten di masa lampau atau Mataram Kuno,” kata Hamenang dikutip dari keterangan resmi, Rabu (18/8/2026).
Hamenang berharap kegiatan ini dapat membangkitkan kebanggaan masyarakat terhadap tempat kelahiran mereka. Tidak hanya menjadi sarana pelestarian sejarah dan budaya, katanya, tetapi juga memberikan dampak positif bagi masyarakat.
Hamenang juga telah menginstruksikan 26 kecamatan yang menjadi pembawa cerita utama untuk memperlihatkan karakter wilayah masing-masing, mulai dari sejarah, geografis, tradisi, kerajinan, potensi alam, kesenian, hingga aktivitas masyarakat.
Dengan demikian, masing-masing kemacetan membawa identitas wilayah untuk kemudian disatukan bersama puluhan kontingen lainnya menjadi gambaran besar mengenai Kabupaten Klaten.
Antusiasme warga semarakkan Karnaval Budaya Klaten
Salah satu peserta, Camat Tulung Hendri Pamungkas, mengatakan sangat antusias mengikuti Karnaval Budaya Klaten dengan mengenakan pakaian Begawan Tirta Amerta.
“Kami melibatkan perangkat desa dan mahasiswa KKN dalam latihan. Kami mengangkat tema air kehidupan karena Kecamatan Tulung memiliki sejumlah mata air alami,” ucapnya,
Sementara, di antara ribuan masyarakat yang hadir, Rini mengaku senang bisa melihat Karnaval Budaya Klaten dengan tema Mataram Kuno.
“Saya dari Desa Belateran, nonton bareng sama adik, dan kakak. Senang sekali bisa melihat karnaval,” ucapnya.
BACA JUGA: Karnaval Klaten 2026: Belajar Jejak Sejarah Mataram Kuno dan Keistimewaan Tiap Wilayah atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan