MOJOK.CO – Dua band asal Yogyakarta, Niskala dan Skandal, akan menutup hari kedua Festival Mojok (Fesmo) 2026 di Balcos Compound, Sleman, Sabtu (29/8/2026). Keduanya membawa karakter musik berbeda, dari komposisi instrumental post-rock yang atmosferik hingga indie rock dengan pengaruh kuat musik era 1990-an.
Niskala dijadwalkan tampil pada pukul 20.05–21.00 WIB. Band instrumental post-rock tersebut dikenal melalui komposisi musik yang hampir seluruhnya dimainkan tanpa vokal. Selepas penampilan Niskala, Skandal akan naik panggung pada pukul 21.00–22.00 WIB sekaligus menutup seluruh rangkaian Festival Mojok 2026.
Skandal merupakan band indie rock asal Yogyakarta yang mendapat pengaruh dari band-band alternatif era 1990-an seperti Weezer dan Pavement. Mereka memadukan distorsi gitar, melodi yang mudah diingat, dan lirik mengenai berbagai pengalaman keseharian anak muda.
Penampilan Niskala dan Skandal menjadi puncak rangkaian hari kedua Festival Mojok 2026. Selain pertunjukan musik, acara hari ini menghadirkan Putcast Live, diskusi buku, stand-up comedy, podcast Sebat Dulu, dan seremoni ulang tahun Mojok.
Mengusung tema “Jogja Hari Ini”, Festival Mojok 2026 menjadi ruang pertemuan berbagai disiplin dan komunitas yang tumbuh di Yogyakarta. Festival ini mempertemukan literasi, musik independen, komedi, budaya lokal, olahraga, dan beragam aktivitas kreatif dalam satu tempat.
Hari kedua Fesmo 2026 dimulai dengan aktivitas luar ruang
Rangkaian hari kedua dimulai sejak pagi melalui Aktivasi Yamaha × Tamasya Karsa pada pukul 07.00–11.00 WIB. Kegiatan ini mengajak peserta menjalani aktivitas luar ruang sebelum agenda utama festival dimulai pada siang hari.
Pukul 14.00–15.00 WIB, Buku Mojok menghadirkan sesi booktalk bertajuk “Wali Lingkungan” bersama Ahmad Effendi, Titah AW, dan Prima Sulistya. Sesi ini membicarakan orang-orang yang bekerja menjaga alam di tengah ancaman kerusakan ekologi.
Sore harinya panggung Festival Mojok 2026 akan diisi dua komika dari Stand Up Indo Jogja pada pukul 15.30–15.50 WIB. Penampilan komedi menjadi pengantar menuju podcast Sebat Dulu Live yang berlangsung pada pukul 15.50–16.50 WIB.
Sebat Dulu Live menghadirkan Alit Jabangbayi, Burhanudin, Agus Juliand, dan Patub dalam obrolan santai di atas panggung Festival Mojok 2026. Dua komika dari Stand Up Indo Jogja kemudian kembali tampil pada pukul 17.00–17.20 WIB.
Putcast Live, Kepala Suku diinterogasi Mukti
Memasuki malam hari, Putcast Live menjadi salah satu agenda utama Festival Mojok 2026. Program obrolan khas Mojok tersebut digelar secara langsung di atas panggung pada pukul 19.00–19.45 WIB. Jika biasanya Kepala Suku Mojok, Puthut EA menjadi host, kalai ini ia menjadi narasumber dengan host Mukti dan Coip.
Kehadiran Putcast Live memberi kesempatan kepada penonton untuk menyaksikan secara langsung program yang selama ini lebih banyak mereka nikmati melalui kanal digital Mojokdotco. Putcast dikenal melalui karakter pembicaraan yang santai dan jenaka, tetapi tetap kritis dalam membicarakan berbagai persoalan sosial.
Setelah Putcast Live, acara dilanjutkan dengan seremoni ulang tahun Mojok pada pukul 19.45–20.00 WIB. Seremoni tersebut menjadi bagian dari perayaan perjalanan Mojok sekaligus ruang pertemuan dengan pembaca, penonton, komunitas, dan berbagai pihak yang selama ini tumbuh bersama Mojok.
Panggung kemudian beralih kepada pertunjukan musik. Niskala akan tampil pada pukul 20.05–21.00 WIB, sedangkan Skandal menjadi penampil terakhir pada pukul 21.00–22.00 WIB.
Festival Mojok 2026 telah berlangsung sejak Jumat (28/8/2026). Pada hari pertama, festival menghadirkan diskusi buku 32 Tahun Menjarah Alam, podcast Sebat Dulu tentang skena musik Jogja, Terminal Awards, program Mojok Bersama, serta penampilan Liburan di Rumah dan Melbi.
Festival Mojok 2026 berlangsung di Balcos Compound, Jalan Kedawung, Nologaten, Caturtunggal, Depok, Sleman. Pengunjung dapat mengikuti seluruh rangkaian acara secara gratis dengan terlebih dahulu melakukan pendaftaran.
Festival Mojok 2026 didukung oleh BCA, Yamaha, Audiovisual.ID, 162 Production, drmostore, JBL Sewa Toilet & Tenda, Dagadu, Bibit, Cleo, Gramedia, Alfamart, dan Sirental Jogja.
Penulis: Aishyah Amira Wakang
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Buku 32 Tahun Menjarah Alam: Kerusakan Ekologi sebagai Tumbal Pesugihan Orde Baru
