ADVERTISEMENT

Mindfulness Itu Privilege Orang yang Hidupnya “Aman”, Kesehatan Mental Tak Lepas dari Kelas Sosial

Mindfulness ala Maudy Ayunda itu privilege orang kaya MOJOK.CO

Mindfulness, menjaga jarak dari paparan berita buruk, tidak bisa dilepaskan dari perspektif kelas sosial. Sebab, hanya orang dengan privilege lah yang bisa menerapkannya. Sementara bagi sebagian yang lain, berita buruk bisa jadi bukan sekadar informasi, tetapi realitas hidup sehari-hari

***

Konten media sosial Maudy Ayunda berjudul “Mindfulness in the Age of Bad News” belakangan tidak pelak menuai kritik warganet. Konten yang membahas cara menghadapi derasnya berita buruk tersebut dinilai sebagian warganet kurang peka terhadap kondisi masyarakat yang tidak memiliki keleluasaan untuk mengambil jarak dari persoalan sosial.

Dalam konten yang diunggah Maudy Ayunda pada 21 Agustus 2026 itu, Maudy membagikan pengalamannya menghadapi derasnya berita buruk, baik yang terjadi di dunia internasional maupun di dalam negeri. Maudy Ayunda menekankan pentingnya diet berita atau mengurangi paparan berita buruk. Dengan mindfulness, maka kondisi kesehatan masyarakat akan terjaga. 

Mindfulness itu pada akhirnya adalah privilege

Sejumlah warganet sontak mengkritik gagasan Maudy Ayunda tersebut. Warganet menilainya sebagai bentuk tone deaf: dianggap kurang sensitif terhadap pengalaman kelompok masyarakat yang memiliki kondisi sosial berbeda.

Bagi sebagian warganet, pilihan untuk mengambil jarak dari berita dan persoalan sosial lebih mudah dilakukan oleh mereka yang punya privilege:  memiliki ruang, keamanan, serta sumber daya untuk melakukannya.

Pakar Kajian Budaya dan Media Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), Radius Setiyawan, mengatakan bahwa mindfulness pada dasarnya bukanlah persoalan yang keliru. 

Menurutnya, latihan untuk menyadari pikiran dan emosi serta mengelola paparan informasi justru dapat membantu seseorang menghadapi situasi yang penuh tekanan. Namun, persoalan muncul ketika pengalaman tersebut diperlakukan seolah-olah berlaku universal bagi semua orang.

Mindfulness jangan dipahami seolah-olah semua orang memiliki kondisi sosial yang sama. Ada orang yang bisa memilih kapan membaca berita, kapan berhenti membaca berita, bahkan kapan mengambil jarak dari persoalan sosial,”  beber Radius dalam keterangan tertulis yang Mojok terima, Kamis (17/9/2026). 

“Tetapi ada masyarakat yang tidak bisa mengambil jarak karena persoalan itu menyangkut pekerjaan, penghasilan, keluarga, atau keselamatan mereka,” sambung Wakil Rektor Umsura tersebut. 

Menurut Radius, perbedaan kondisi tersebut menunjukkan bahwa pembicaraan mengenai kesehatan mental tidak dapat sepenuhnya dilepaskan dari struktur sosial.

Berita buruk bukan sekadar informasi, tapi realitas hidup sehari-hari

Lebih lanjut, Radius menjelaskan, dalam perspektif Kajian Budaya, pengalaman seseorang tidak berdiri sendiri. Cara seseorang memandang berita, merespons kecemasan, hingga memilih untuk mengambil jarak dari informasi turut dipengaruhi oleh posisi sosial dan sumber daya yang dimiliki.

“Karena itu, saya kira kita perlu membaca mindfulness juga dari perspektif kelas. Jangan sampai kemampuan untuk menjaga kesehatan mental justru menjadi sesuatu yang hanya mudah dilakukan oleh kelompok yang memiliki privilege,” ujar Radius.

Setiap orang memang memiliki hak untuk mengatur kesehatan mentalnya. Namun, bagi Radius, persoalan muncul ketika pengalaman tersebut dilepaskan dari realitas sosial kelompok masyarakat lainnya.

“Berita buruk bagi seseorang bisa jadi hanya informasi. Tetapi bagi orang lain, berita itu adalah realitas hidupnya,” kata Radius. 

“Ketika terjadi kenaikan harga, kehilangan pekerjaan, bencana, atau kebijakan yang berdampak langsung, mereka tidak bisa sekadar mengatakan, ‘Saya akan mengambil jeda dari berita ini’,” sambungnya. 

Mindfulness bukan berarti berhenti peduli

Kritik yang berkembang terhadap konten Maudy Ayunda sebenarnya bukan semata-mata ditujukan kepada konsep mindfulness. Hal yang lebih penting untuk diperhatikan adalah konteks sosial yang melatarbelakangi nasihat tersebut.

Karena itu, Radius menilai, menjaga kesehatan mental dan tetap kritis terhadap persoalan sosial bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan. Keduanya justru dapat berjalan beriringan.

Radius menegaskan, mindfulness bukan berarti seseorang harus terus-menerus mengonsumsi berita buruk hingga kondisi dirinya terganggu. Namun, mindfulness juga tidak semestinya menjadi alasan untuk berhenti peduli terhadap persoalan sosial.

“Kita perlu menemukan titik di mana kita tetap waras, tetapi tidak kehilangan kepekaan sosial,” tegasnya. 

Klarifikasi Maudy Ayunda 

Maudy Ayunda sudah memberikan klarifikasi terhadap kontennya. Ia menegaskan bahwa dirinya tidak pernah bermaksud menjadikan mindfulness sebagai alasan untuk bersikap tidak peduli terhadap keadaan sosial.

“Aku sama sekali tidak ingin mindfulness menjadi alasan untuk tidak peduli atau menjauh dari realita yang ada. Apalagi ajakan untuk berdiam diri, ataupun melihat seolah keadaan baik-baik saja,” ujarnya. 

“Malah, mindfulness ini membuat aku bisa melihat sebab akibat secara jelas, membantu kita tetap peduli dan hadir, dan tetap peka terhadap terhadap apa yang dirasakan mereka yang terdampak.” sambungnya. 

“Terima kasih untuk teman-teman yang sudah meluangkan waktunya untuk mengingatkanku dan menambahkan perspektif menjadi lebih luas dan lebih dalam. Aku dengar dan aku hargai feedbacknya. I’m listening and learning,” tutup Maudy. 

Sumber: Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura)

BACA JUGA: Memahami Asal Usul dan Makna Gaya Hidup Slow Living, Soft Living, dan Frugal Living atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

Terakhir diperbarui pada 17 September 2026 oleh .

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Exit mobile version