Setelah 10 tahun konsisten mengenalkan permainan tradisional kepada anak-anak saat car free day (CFD) di Jalan Tunjungan, para relawan Kampoeng Dolanan kini terpaksa hengkang usai diusir petugas lapangan hingga lebih dari 50 kali.
***
Warga Kota Surabaya barangkali sudah tak asing dengan komunitas Kampoeng Dolanan. Mereka biasanya tampil saat CFD di Jalan Tunjungan setiap minggu untuk mengenalkan permainan tradisional khususnya kepada anak-anak.
Ide tersebut awalnya muncul dari pengurus karang taruna yang baru dibentuk di Kampung Kenjeran IV-C, Simokerto, Surabaya pada tahun 2016. Siapa sangka, banyak relawan yang ingin mewujudkan misi itu bersama. Oleh karena itu, kegiatan Kampoeng Dolanan diperluas hingga nasional bahkan internasional.
Mustofa Sam atau yang akrab dipanggil Cak Mus (35) berujar, sejatinya permainan tradisional tak hanya mengajak anak untuk bermain tapi juga belajar tentang nilai dan budaya. Budaya itulah yang perlu dilestarikan di tengah arus perkembangan digital.
Sayangnya, tujuan baik ini tidak selalu disambut dengan positif. Berbagai hambatan harus dilalui relawan Kampoeng Dolanan. Namun alih-alih menyerah, mereka tetap ngotot untuk mengedukasi anak-anak soal permainan tradisional.
Sampai akhirnya, selama 10 tahun berdiri, Kampoeng Dolanan memutuskan pamit undur diri dari CFD di Jalan Tunjungan.
Keteguhan relawan Kampoeng Dolanan meski diusir puluhan kali
Masih lekat dalam ingatan Cak Mus, pendiri sekaligus Ketua Kampoeng Dolanan, saat petugas lapangan di Jalan Tunjungan mengusirnya pada tahun 2016 lalu.
“Mas, buyar, (aktivitas) ini merusak pemandangan,” kata Cak Mus menirukan perintah petugas saat Mojok mewawancarainya pada Selasa (20/10/2026).
“Singkatnya, itulah yang terdengar oleh kami pada saat di lokasi,” jelasnya.
Sampai akhirnya, Cak Mus dan beberapa relawan terlibat cekcok dengan petugas di lapangan. Tak hanya anggota dari Kampoeng Dolanan yang membela kegiatan Cak Mus, tapi juga para orang tua yang mendampingi anak-anak mereka bermain di Jalan Tunjungan.
Alhasil, kegiatan di Kampoeng Dolanan berhenti untuk sementara waktu. Namun Cak Mus tak menyerah. Pada minggu berikutnya, mereka tetap berangkat pukul 05.00 WIB, sambil membawa alat permainan seperti egrang, lompat tali, hingga tarik tambang dengan motor yang dimodifikasi khusus.
Perjuangan relawan Kampoeng tak sia-sia. Anak-anak selalu mendatangi lapak Kampoeng Dolanan tiap minggu. Melihat antusias tersebut, para relawan memilih bertahan untuk memfasilitasi anak-anak bermain sambil belajar gratis di Jalan Tunjungan.
Dedikasi Kampoeng Dolanan yang tak dihargai
Pada tahun-tahun berikutnya, relawan Kampoeng Dolanan berhasil membuktikan bahwa edukasi permainan tradisional sejatinya membawa dampak positif di masyarakat.
“Tidak adanya penggerak budaya yang mengenalkan permainan tradisional adalah masalah utama, maka Kampoeng Dolanan membuat program KD Roadshow yakni berkeliling Indonesia dan mengenalkan permainan tradisional,” ujar Cak Mus.
Ia menjelaskan ada beberapa program KD Roadshow yang sudah terlaksana yaitu roadshow 1.000 kilometer ke Pengungsian Gunung Agung di Bali, trip keliling jawa selama 19 hari, hingga melakukan trauma psikososial untuk menghibur penyintas kebencanaan.
Roadshow itu pun dilakukan menggunakan motor pribadi relawan yang sudah dimodifikasi untuk membawa alat permainan tradisional. Motor itu juga yang dibawa relawan untuk menggelar lapak di Jalan Tunjungan.
“Kami nggak mikir habis biaya berapa, itu pun pakai anggaran kami sendiri. Mandiri. Yang terpenting, budaya itu jangan sampai hilang,” tutur Cak Mus.
Namun, ibarat melukis di atas air, misi tersebut sama sekali tidak dipedulikan oleh petugas lapangan di Jalan Tunjungan. Minggu (11/10/2026), dalam rangka memperingati Hari Kebudayaan Nasional, untuk kesekian kalinya, aktivitas Kampoeng Dolanan diusir oleh petugas.
Sampai akhirnya, Cak Mus menghubungi dinas yang bersangkutan sekaligus yang memahami perjuangan Kampoeng Dolanan selama ini. Namun, Cak Mus dan kawan-kawannya harus menerima pil pahit bahwa ada aturan baru dari Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya yang membatasi kegiatan mereka.
Akan terus bergerak untuk mengedukasi anak-anak
Melansir dari laman resmi Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya, pemkot hanya melakukan penataan demi kenyamanan dan keselamatan para pejalan kaki. Aturan ini bertujuan untuk mengembalikan fungsi trotoar (pedestrian) dan bahu jalan agar tidak mengganggu arus masyarakat yang berolahraga.
“Prinsipnya Pemkot Surabaya tidak pernah melarang warga melakukan edukasi mainan tradisional. Namun, pelaksanaannya tetap harus memperhatikan estetika dan tertib ruang publik. Lapak tidak boleh digelar di pedestrian atau bahu jalan karena menghambat pejalan kaki,” ujar Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Satpol PP Kota Surabaya, Irna Pawanti dikutip Kamis (22/10/2026).
Karena aturan tersebut, Kampoeng Dolanan tak bisa lagi melakukan programnya di Jalan Tunjungan. Melalui Instagram resminya, para relawan akhirnya memutuskan hengkang.
View this post on Instagram
Meski begitu, Cak Mus menegaskan bahwa Jalan Tunjungan bukan satu-satunya tempat untuk anak-anak bermain.
“Artinya kami masih bergeliat di mana-mana untuk mengedukasi permainan tradisional. Bulan ini saja kami sudah menjalankan 19 kegiatan yang tersebar di wilayah Surabaya, Sidoarjo, Pasuruan, Malang, dan Sulawesi,” jelas Cak Mus.
Ia pun percaya bahwa akan selalu ada jalan untuk niat baik. Oleh karena itu, semangat Kampoeng Dolanan untuk mengedukasi soal nilai-nilai permainan tradisional kepada anak-anak akan selalu menyala.
“Kami sudah berusia 10 tahun, pengusiran di Surabaya sendiri terjadi lebih dari 50 kali dan lebih dari 20 kali di nasional. Jadi, kalau mentalitasnya sejauh ini sudah cukup,” kata Cak Mus.
“Insyaallah tidak membuat semangat kami padam untuk mendidik anak-anak menjadi manusia utuh hingga mencegah mereka dari adiksi gawai,” lanjutnya.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Kisah Pegiat Literasi Surabaya, Buka Lapak Bacaan Gratis di Tunjungan Malah Sering Kena Gusur atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan