ADVERTISEMENT

JCWF 2026 Segera Hadir: Ajak Masyarakat Terhubung Kembali dengan Diri, Alam, dan Budaya

JCWF 2026. MOJOK.CO

Jogja Cultural Weelness Festival (JCWF) segera hadir pada 6–8 November 2026 di Loman Park Hotel Yogyakarta dengan menghadirkan 85 program dari 97 komunitas dan mitra terkurasi.

***

ADVERTISEMENT

Memasuki tahun keempat penyelenggaraan, JCWF 2026 yang diinisiasi Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) DIY ini mengusung tema “RECONNECT: Reconnecting People, Culture & Wellbeing”.

Sesuai dengan tema yang diusung, JCWF 2026 bakal memadukan budaya, pengalaman wellness, dan kepedulian lingkungan, guna menarik segmen wisatawan baru yang mencari pengalaman bermakna. 

Penyelenggara menargetkan sekitar 1.500 kunjungan selama tiga hari dengan mengutamakan kualitas pengalaman, kolaborasi komunitas, dan peluang bagi pelaku usaha lokal.

Festival ini diharapkan mampu menghidupkan kunjungan wisata saat musim sepi, sekaligus membuka peluang usaha bagi masyarakat menjadi sasaran JCWF 2026.

JCWF 2026 menghubungkan manusia dengan alam dan budaya

Ketua BPPD DIY GKR Bendara mengatakan, pendekatan cultural wellness menghubungkan pengalaman wisata dengan budaya, keseimbangan hidup, dan hubungan manusia dengan alam. 

Filosofi Jawa, seperti hamemayu hayuning bawana serta sawiji, greget, sengguh, ora mingkuh, menjadi landasan untuk menghadirkan pariwisata yang berakar pada identitas Yogyakarta.

“Budaya adalah ruh yang menghubungkan manusia dengan identitasnya. Melalui JCWF 2026, kami ingin menghadirkan pengalaman wisata yang bermakna sekaligus memberi manfaat nyata bagi masyarakat dan memperkuat pelaku usaha lokal,” ujar GKR Bendara melalui keterangan resmi, Rabu (21/10/2026).

Ia menjelaskan tema RECONNECT mengajak masyarakat kembali terhubung dengan diri sendiri, sesama, alam, dan budaya. Pemilihan November juga menjadi strategi BPPD DIY untuk menghidupkan pariwisata pada periode yang dipandang sebagai musim sepi kunjungan atau low season, sekaligus menciptakan permintaan baru (new demand).

ADVERTISEMENT

Sementara itu, Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata Dinas Pariwisata DIY Ellya Shari menilai, wellness tourism dapat memperkuat pariwisata berkualitas atau quality tourism. Sebab potensi DIY tidak hanya berada pada destinasi populer, tetapi juga pada pengalaman budaya, seperti membatik, mempelajari seni tradisi, menikmati gastronomi, dan meracik jamu.

“Banyak hal dari DIY yang bisa dikembangkan dalam wellness, mulai dari budaya sampai kuliner. Harapannya, wisatawan tinggal lebih lama dan membelanjakan uangnya di DIY, sehingga manfaat ekonomi dapat dirasakan lebih merata oleh hotel, restoran, desa wisata, dan pelaku usaha lokal,” kata Ellya.

Kegiatan yang dihadirkan di JCWF 2026

Dalam festival JCWF 2026, pengunjung bisa mengikuti kegiatan yoga, latihan pernapasan, tari dan gamelan, lokakarya seni, diskusi kesehatan mental, serta pengenalan jamu dan rempah Nusantara. 

Selain itu, ada pula Wellness Artisan Market yang terbuka gratis untuk umum. Sebanyak 14 program tidak dipungut biaya, sedangkan program lainnya mengikuti ketentuan tiket dan reservasi.

Partisipasi 65 praktisi wellness dan 32 artisan dari 13 kota dan daerah membuka ruang bagi pelaku usaha untuk memperkenalkan produk, memperluas jejaring, dan menjajaki kerja sama. 

Produk yang ditawarkan meliputi kuliner sehat, produk lokal, perawatan diri, karya kreatif, dan barang berkelanjutan. Melalui kegiatan semacam ini, Pemda DIY berharap usaha lokal dapat memperluas aksesnya, meski nilai transaksi dan dampak ekonominya baru dapat diketahui setelah kegiatan berlangsung.

Dampak untuk lingkungan dan masyarakat

Dampak bagi masyarakat lewat JCWF 2026 juga diupayakan melalui pengelolaan sampah yang melibatkan Kalurahan Guwosari, Kapanewon Pajangan, Bantul. 

Lurah Guwosari Masduki Rahmad menjelaskan, sampah plastik dapat diolah menjadi kerajinan, sedangkan sisa makanan dimanfaatkan untuk budidaya maggot sebagai pakan ayam. Lalu, telur yang dihasilkan dari ayam bakal disalurkan ke posyandu.

“Setiap sampah memiliki nilai jika dikelola dengan benar. Kami berharap kolaborasi ini berdampak pada kebersihan, keberlanjutan, dan ekonomi masyarakat,” ujar Masduki. 

Pengelolaan tersebut juga melibatkan pekerja kebersihan setempat dan menjadi bagian dari upaya mewujudkan falsafah hamemayu hayuning bawana.

Penyelenggara juga merencanakan kompensasi jejak karbon melalui penanaman pohon, serta mengajak pengunjung membawa tumbler, memanfaatkan fasilitas pengisian air minum, menggunakan transportasi umum, dan memilah sampah. 

Upaya yang berkelanjutan

Pada hari pertama pelaksanaannya yakni Jumat (6/10/2026), JCWF 2026 akan menggelar Pentahelix Forum untuk mempertemukan pemerintah, akademisi, komunitas budaya, praktisi wellness, dan pelaku industri pariwisata.

Melalui JCWF 2026, DIY berupaya menjadikan budaya sebagai penggerak pariwisata yang tidak berhenti pada peningkatan kunjungan. 

Lebih dari itu, festival ini diharapkan membuka pasar baru, memperluas kesempatan usaha, dan menguatkan keterlibatan masyarakat dalam menjaga lingkungan. 

Dengan demikian, kekayaan budaya DIY dapat terus hidup sekaligus memberi nilai tambah bagi perekonomian lokal secara berkelanjutan.

Sumber: Humas Pemda DIY

BACA JUGA: Membayar Lunas Jejak Karbon di YAYAYA FEST, Konser Murmer dan Ramah Lingkungan di Jogja atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 22 Oktober 2026 oleh .

Redaksi

Kontributor aktif media opini dan satir.