ADVERTISEMENT

Upaya Sleman Sang Lumbung Padi DIY Bebas dari Bayang-bayang Penyusutan Lahan Pertanian dan Krisis Petani Muda

Alih Fungsi Lahan Jadi Masalah Serius Petani di Sleman, Tapi Malah Diabaikan Bupatinya.MOJOK.CO

Kabupaten Sleman hingga kini masih menyandang status sebagai lumbung padi bagi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Prestasi gemilang baru saja ditorehkan menjelang peringatan Hari Pangan Sedunia (HPS) 2026, di mana produksi beras meroket dan Indeks Ketahanan Pangan (IKP) memecahkan rekor tingkat regional. 

Namun, di balik angka-angka statistik yang memukau tersebut, masa depan pertanian Sleman sesungguhnya tengah berpacu melawan “bom waktu”. Yakni menyangkut masifnya alih fungsi lahan dan ancaman hilangnya generasi penerus petani.

Rekor gemilang produksi beras di tengah ancaman krisis lahan

Di atas kertas, capaian sektor pertanian Sleman patut diacungi jempol. Data terbaru menunjukkan produksi beras melesat dari 60.200,79 ton pada 2024 menjadi 63.786 ton pada 2025. 

Tren positif ini berbanding lurus dengan nilai IKP Sleman yang mencapai 85,50. Menjadikannya wilayah dengan ketahanan pangan terbaik di Pulau Jawa sekaligus peringkat ketujuh secara nasional.

“Capaian Indeks Ketahanan Pangan sebesar 85,50 ini membuktikan bahwa Kabupaten Sleman memiliki pasokan pangan yang stabil, akses ekonomi dan fisik yang mudah, serta stabilitas harga yang terkendali,” ujar Sekretaris Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan (DP3) Kabupaten Sleman, Rofiq Andriyanto, dikutip Kamis (8/10/2026).

Namun, Rofiq tidak menampik bahwa realitas di lapangan tidak seindah angka statistik tersebut. Kenaikan produksi ini terjadi di tengah tekanan hebat terhadap keberadaan lahan pertanian produktif. 

Pesatnya perkembangan wilayah dan kebutuhan pembangunan infrastruktur perkotaan terus mencaplok luasan sawah dari tahun ke tahun. 

Untuk membendung laju penyusutan ini, Pemerintah Kabupaten Sleman terpaksa mengandalkan instrumen Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) sebagai tameng regulasi untuk mengunci sisa lahan produktif yang ada.

Sleman alami krisis petani penerus

Persoalan ternyata tidak berhenti pada luasan lahan. “Mesin” utama pertanian, yakni sumber daya manusia, juga tengah mengalami penuaan (aging). 

Sektor ini kian kehilangan daya tariknya di mata anak muda, menyisakan kekhawatiran serius akan siapa yang akan menggarap lahan di masa depan.

Kondisi kritis ini mendapat sorotan tajam dari kalangan legislatif. Ketua Komisi C DPRD Sleman, F. Bambang Sigit Sulaksana, menegaskan bahwa ketahanan pangan ke depan akan sangat rapuh jika persoalan minimnya minat generasi muda tidak segera diintervensi oleh negara secara konkret.

“Selama pertanian pemerintah tidak hadir dan tidak memfasilitasi itu, nanti akhirnya yang sepuh-sepuh (tua) sudah banyak yang meninggal, yang muda juga suruh masuk ke situ susah,” tegas Bambang.

Strategi intensifikasi berbasis teknologi dan perlindungan risiko

Menyadari ancaman tersebut, Pemkab Sleman kini memutar otak mengubah strategi dari sekadar perluasan lahan menjadi intensifikasi berbasis teknologi dan perlindungan risiko. 

Untuk menyiasati lahan yang kian sempit, Pemkab menetapkan Kapanewon Seyegan sebagai kawasan percontohan Pertanian Modern lewat Advanced Agriculture System (PM-AAS). Melalui mekanisasi dan pengelolaan presisi, produktivitas lahan percontohan ini berhasil ditekan hingga melampaui 9 ton gabah kering panen per hektare.

Langkah ini dibarengi dengan pengukuhan pengurus Petani Milenial Kabupaten Sleman periode 2026–2029. Pemerintah berharap sentuhan digitalisasi dapat mendongkrak gengsi dan profitabilitas pertanian, sehingga generasi muda kembali melirik sektor ini sebagai profesi yang menjanjikan.

Di sisi hilir perlindungan, Pemkab telah menerbitkan Peraturan Daerah Nomor 6 Tahun 2025 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani. Lewat payung hukum ini, pemerintah mengalokasikan program asuransi pertanian pada APBD 2026 dengan premi subsidi Rp1,8 juta per hektare untuk membebaskan petani dari bayang-bayang kebangkrutan akibat gagal panen.

Puncak pembuktian transformasi ini akan digelar pada peringatan HPS tingkat kabupaten pada 21 Oktober 2026 mendatang. Rofiq menekankan bahwa perayaan ini bukan sebatas selebrasi. 

“Masa depan pangan kita ditentukan langsung di sawah, greenhouse, hingga dapur rumah tangga ketika kerja keras berpadu dengan inovasi,” tambahnya.

Kampanye diversifikasi pangan di Sleman

Sebagai lapis pertahanan terakhir, agar Sleman tidak tumbang ketika produksi beras kelak tak lagi mampu mengimbangi kebutuhan populasi, DP3 terus menggempur masyarakat dengan kampanye diversifikasi pangan. 

Sepanjang 2026, sebanyak 129 diseminasi Gerakan Konsumsi Pangan Beragam, Bergizi Seimbang, dan Aman (B2SA) telah digelar untuk mengangkat pamor pangan lokal non-beras. 

Langkah ini menjadi penegas bahwa mempertahankan predikat lumbung pangan tidak bisa lagi hanya mengandalkan warisan masa lalu, melainkan menuntut adaptasi radikal hari ini.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Pasar Kliwonan Cebongan: Surganya Barang Murah dan Aneh di Sleman Barat Meski Hanya Buka Seminggu Sekali atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 8 Oktober 2026 oleh .

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.