ADVERTISEMENT

Duka Suporter PSS Sleman: Mereka yang Pulang Saat Mengawal Kebanggaan

Duka Suporter PSS Sleman: Mengawal Kebanggaan, Selamanya! MOJOK.CO

Ada perjalanan yang berakhir dengan cerita kemenangan, ada pula yang menyisakan kabar duka di rumah. Empat suporter PSS Sleman berangkat ke Surabaya untuk mendukung klub kebanggaan mereka. Namun, kecelakaan di Tol Madiun merenggut nyawa mereka sebelum sempat menyaksikan pertandingan.

***

ADVERTISEMENT

Di Sleman, Senin (19/10/2026), keluarga, kawan-kawan, dan sesama suporter mengantar empat suporter PSS Sleman ke tempat peristirahatan terakhir. Kabar kecelakaan di Tol Madiun itu bukan sekadar berita duka bagi keluarga korban, tetapi juga kehilangan bagi komunitas yang selama ini tumbuh bersama mereka. Perjalanan yang semula bertujuan mendukung tim kebanggaan justru berakhir dengan kepulangan yang tak pernah mereka harapkan.

Di antara empat korban, ada Rio Rahman Sahid (23), seorang pemuda yang dikenal kawan-kawannya sebagai sosok ringan tangan dan selalu bersedia membantu ketika komunitas membutuhkan. Bagi mereka, Rio bukan sekadar suporter yang ikut menyanyikan dukungan untuk PSS Sleman di tribun. Ia juga bagian dari persaudaraan yang tumbuh di luar stadion, seseorang yang kehadirannya berarti dalam keseharian. Kini, kawan-kawannya harus menerima kenyataan bahwa perjalanan bersama Rio telah berakhir, menyisakan kenangan tentang seseorang yang tak banyak bicara, tetapi selalu berusaha ada untuk orang lain.

Kecelakaan di tol Madiun merenggut empat suporter PSS Sleman

Minggu (18/10/2026) pagi, rombongan suporter PSS Sleman berangkat menuju Surabaya untuk menyaksikan pertandingan melawan Persebaya Surabaya di Stadion Gelora Bung Tomo (GBT). Mereka menempuh perjalanan menggunakan enam kendaraan Toyota HiAce.

Namun, perjalanan itu berubah menjadi tragedi di Tol Ngawi–Kertosono KM 616, wilayah Kabupaten Madiun, Jawa Timur. Toyota HiAce bernomor polisi AB-7831-E yang membawa rombongan suporter menabrak bagian belakang samping kanan truk tronton bermuatan kelapa.

Dilansir dari Detik Jatim, kecelakaan itu merenggut empat nyawa. Polisi mencatat sembilan penumpang HiAce menjadi korban, dengan empat orang meninggal dunia, empat mengalami luka berat, dan satu lainnya mengalami luka ringan. Polisi juga menyelidiki penyebab kecelakaan tersebut.

Keempat korban berasal dari Sleman. Mereka ialah Novan Dika Dwi (19), Fachri Maulana Al-Zaki (18), Iyam Fathur Ar-Rozaq (15), dan Rio Rahman Sahid (23).

Mereka berangkat untuk mendukung PSS. Namun, perjalanan yang semula menawarkan kesempatan bertemu kawan dan merayakan kecintaan terhadap sepak bola justru meninggalkan kehilangan bagi orang-orang yang menunggu kepulangan mereka.

Duka Suporter PSS Sleman: Mengawal Kebanggaan, Selamanya!
suasana di rumah duka Rio, salah satu suporter PSS Sleman yang menjadi korban meninggal dalam tragedi naas di Tol Madiun tersebut (Doc. Janu Wisnanto/Mojok.co)

Rio Rahman Sahid, suporter yang tak banyak bicara

Saya menghubungi salah seorang kawan dekat Rio untuk mengenal sosoknya lebih jauh. Narasumber tersebut meminta saya merahasiakan identitasnya. Dari kesaksiannya, Rio bukan orang yang gemar banyak bicara. Namun, ia selalu berusaha hadir ketika komunitas membutuhkan bantuan. Kawan-kawannya mengenal Rio sebagai sosok yang ringan tangan dan tidak segan membantu orang lain.

ADVERTISEMENT

“Rio bukan tipe orang yang banyak bicara. Namun, ketika komunitas membutuhkan, ia selalu siap,” ungkap kawan dekatnya.

Bagi narasumber saya, kehadiran Rio punya arti tersendiri. Ia tidak harus menjadi orang paling lantang di antara suporter untuk menunjukkan kepeduliannya. Ia cukup hadir, membantu, dan menjaga hubungan dengan kawan-kawannya.

Cerita itu membuat saya berpikir bahwa kecintaan terhadap klub sepak bola tidak selalu tampil dalam bentuk nyanyian di tribun atau atribut yang melekat di badan. Kadang-kadang, kecintaan itu tumbuh melalui tindakan sederhana yang membuat seseorang berarti bagi lingkungannya.

Rio mencintai PSS Sleman, tetapi kecintaannya tidak berhenti pada pertandingan. Ia juga merawat persaudaraan yang tumbuh di antara orang-orang yang berdiri di sampingnya.

Bagi suporter, PSS bukan sekadar pertandingan

Sepak bola sering membuat orang luar bertanya-tanya mengapa seseorang rela mengeluarkan uang, menempuh perjalanan jauh, bahkan menghabiskan waktu berjam-jam demi menyaksikan pertandingan.

Bagi sebagian suporter, jawabannya tidak sesederhana sebelas pemain yang berlari mengejar bola. Ada pertemanan, kebersamaan, dan identitas yang tumbuh bersama klub. Perjalanan tandang menjadi salah satu cara mereka merawat ikatan tersebut.

Begitu pula dengan Rio. Menurut kawannya, PSS bukan semata-mata tim yang bermain selama sembilan puluh menit. Ada komunitas yang mengisi kehidupan sehari-hari, ada teman-teman yang berbagi perjalanan, dan ada persaudaraan yang membuat setiap keberangkatan terasa berarti.

Kecelakaan di Tol Madiun mengingatkan kita bahwa di balik perjalanan suporter, ada manusia yang memiliki keluarga, pekerjaan, pertemanan, dan kehidupan di luar stadion.

Mereka bukan sekadar kerumunan yang memenuhi tribun. Mereka adalah anak, saudara, dan kawan yang kepulangannya selalu dinantikan.

Mengantar Novan ke pemakaman, menyaksikan duka dari dekat

Pada Senin (19/10/2026), saya menghadiri pemakaman Novan Dika Dwi. Rumahnya berdekatan dengan kampung saya di Gamping. Saya mengikuti prosesi hingga ke pemakaman, menyaksikan bagaimana kehilangan itu membawa suasana duka ke lingkungan yang sehari-hari terasa akrab.

Saya tidak tega mengajukan banyak pertanyaan kepada keluarga Novan. Di tengah kehilangan yang begitu dekat, saya merasa tidak semua hal perlu ditanyakan hanya demi melengkapi tulisan.

Saya memilih berbincang dengan beberapa kawan dari Brigata Curva Sud yang datang melayat ke rumah duka. Kehadiran mereka memperlihatkan bagaimana kabar kecelakaan itu tidak hanya menyentuh keluarga korban, tetapi juga komunitas suporter yang selama ini tumbuh bersama.

Saya tidak ingin mengubah pemakaman menjadi tempat untuk memburu cerita sedih. Ada batas yang perlu dijaga seorang reporter ketika berhadapan dengan keluarga yang sedang berduka. Tidak semua kesedihan membutuhkan penjelasan panjang agar orang lain bisa memahami beratnya kehilangan.

Di pemakaman itu, saya melihat satu hal sederhana: ketika seorang suporter pergi, yang kehilangan bukan hanya keluarga di rumah. Kawan-kawan yang biasa berbagi perjalanan dengannya juga harus menerima kenyataan bahwa satu orang dari lingkaran mereka tidak akan kembali.

Mereka berangkat mengawal kebanggaan, kawan-kawannya pulang membawa duka

Sebagai bentuk penghormatan, panitia pertandingan Persebaya melawan PSS Sleman menyiapkan mengheningkan cipta selama satu menit. Kedua tim juga mengenakan pita hitam untuk mengenang empat suporter yang meninggal dunia.

Penghormatan itu menjadi pengingat bahwa rivalitas di lapangan tidak menghapus kemanusiaan. Di balik perbedaan warna dan dukungan, ada kehilangan yang seharusnya membuat siapa pun berhenti sejenak.

Bagi kawan-kawan Rio, Novan, Fachri, dan Iyam, duka ini tidak selesai ketika pertandingan berakhir atau ketika rombongan ambulans tiba di Sleman. Mereka harus melanjutkan hari-hari dengan kenangan tentang orang-orang yang sebelumnya menjadi bagian dari perjalanan bersama.

Rio mungkin tidak banyak bicara. Namun, menurut kawannya, ia selalu berusaha hadir ketika komunitas membutuhkan. Kini, kawan-kawannya mengenang kehadiran itu setelah kecelakaan merenggut nyawanya.

Mereka berangkat untuk mengawal kebanggaan. Mereka ingin menyaksikan PSS berjuang di lapangan. Namun, empat keluarga justru harus mengantar orang-orang terkasih ke pemakaman.

Sepak bola akan terus menghadirkan pertandingan berikutnya. Tribun akan kembali ramai, nyanyian suporter akan kembali terdengar, dan perjalanan tandang akan kembali berlangsung. Namun, bagi mereka yang ditinggalkan, empat kursi dalam perjalanan itu akan selalu mengingatkan bahwa ada kawan yang tak lagi bisa pulang bersama.

Penulis: Janu Wisnanto

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Bonek for Karhutla: Aksi Suporter Persebaya Tunjukkan Sepak Bola Semestinya Peduli Kemanusiaan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 19 Oktober 2026 oleh .

Janu Wisnanto

Pemuda asli Gamping, Sleman. Menulis isu sosial, pendidikan, dan kehidupan urban.