Karnaval Klaten 2026: Belajar Jejak Sejarah Mataram Kuno dan Keistimewaan Tiap Wilayah

Kontingen dari kecamatan Karanganom mengikuti Kirab Budaya Klaten 2026. (sumber: humas Klaten)

Sejumlah 4.500 orang dari 60 kontingen di Kabupaten Klaten bakal memeriahkan Kirab Budaya dan Karnaval Pembangunan Klaten Tahun 2026. Masyarakat dapat menikmati rangkaian acara tersebut selama dua hari, yakni Selasa (18/8/2026) dan Rabu (19/8/2026) di sepanjang Jalan Pemuda sejak pukul 13.00 WIB.

Kali ini, acara tersebut akan mengangkat tema “Klaten Mandala Peradaban—Saka Sandyakala, Tumuju Cahya”. Di sana, masyarakat dapat belajar mengenai jejak sejarah Mataram Kuno yang masih tertinggal di sekitar wilayah Klaten, hingga membentuk wajah Klaten seperti sekarang.

Belajar sejarah Mataram Kuno di karnaval Klaten 2026 

Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo mengatakan, konsep Kirab Budaya dan Karnaval Pembangunan Klaten Tahun 2026 akan berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. 

“Tema Mataram Kuno ini akan memperlihatkan perspektif Kabupaten Klaten pada masa lampau zaman mataram kuno, sehingga sangat menarik untuk diikuti,” ucap Hamenang dikutip dari keterangan resmi, Kamis (13/8/2026).

Hamenang berharap 26 kecamatan yang menjadi pembawa cerita utama nanti dapat memperlihatkan karakter wilayah masing-masing, mulai dari sejarah, geografis, tradisi, kerajinan, potensi alam, kesenian, hingga aktivitas masyarakat.

Misalnya, wilayah Pedan yang hadir dengan kekayaan luriknya, Bayat dengan kerajinan gerabah dan batiknya, Juwiring dengan kreasi payung tradisionalnya, hingga Ceper dengan keahlian pengolahan logamnya.

Tiap wilayah juga bisa menonjolkan cerita rakyatnya. Misal, Prambanan dengan kisah Roro Jonggrang dan kemegahan candinya, Polanharjo dan Tulung dengan cerita airnya sebagai sumber kehidupan, atau kisah kehidupan masyarakat Kemalang di Lereng Gunung Merapi, hingga Delanggu sebagai tempat peradaban agraris.

Berbagai cerita tersebut kemudian bisa dirangkum dalam enam rumpun besar, yakni Gapura Peradaban, Sabda Merapi, Tirta Kahuripan, Asta Kriya, Lumbung Mataram, dan Nadi Kutha.

Dengan demikian, 26 kontingen utama dari kecamatan tidak hadir dengan cerita yang seragam. Masing-masing membawa identitas wilayah untuk kemudian disatukan bersama puluhan kontingen lainnya menjadi gambaran besar mengenai Kabupaten Klaten.

Kendaraan hias di karnaval Klaten 2026

Flyer Publikasi Kirab Budaya Klaten 2026. MOJOK.CO
ilustrasi – agenda kirab budaya Klaten 2026. (sumber: humas Klaten)

Perjalanan cerita berlanjut pada Karnaval Pembangunan yang berlangsung pada Rabu (19/8/2026). Agenda yang dimulai pukul 13.00 WIB hingga menjelang magrib tersebut mengusung babak “Mahakarya Kiwari” atau mahakarya zaman sekarang.

Salah satu konsep utama yang digunakan adalah “Relief Hidup”. Gagasan tersebut mengambil inspirasi dari relief candi yang pada masa lalu merekam kehidupan, aktivitas, dan pencapaian sebuah peradaban.

Pada Karnaval Klaten kali ini, gagasan tersebut diterjemahkan melalui kendaraan hias yang bergerak. Setiap perangkat daerah akan membawa capaian kerja, program unggulan, keterkaitan dengan prioritas pembangunan, serta elemen Mataram Kuno.

Masyarakat juga dapat dilibatkan secara langsung. Petani, pelajar, tenaga kesehatan, pelaku UMKM, dan penerima manfaat berbagai program dapat menjadi bagian dari cerita yang dibawa kendaraan hias.

Merangkum perjalanan peradaban selama 2 hari

Meski digelar dalam dua hari, Karnaval Budaya dan Karnaval Pembangunan Klaten merupakan satu rangkaian cerita yang saling terhubung. Hari pertama dapat diartikan sebagai “Purwaka Mataram”, yakni babak yang membawa masyarakat melihat akar dan fondasi peradaban. 

Sedangkan, hari kedua sebagai “Mahakarya Kiwari” atau babak yang menunjukkan bagaimana semangat peradaban tersebut diteruskan melalui pembangunan masa kini. Kesinambungan kedua babak tersebut disimbolkan melalui pasrah obor peradaban.

Pada akhir Karnaval Budaya Klaten, obor yang merepresentasikan era Mataram itu diserahkan kepada pembawa cahaya pembangunan. Simbol tersebut kemudian diteruskan pada hari berikutnya melalui Karnaval Pembangunan Klaten.

Konsep tersebut menjadi bagian dari filosofi “Saka Sandyakala, Tumuju Cahya” atau perjalanan dari senja menuju cahaya. Senja tidak ditempatkan sebagai simbol berakhirnya sebuah zaman tapi ruang transisi menuju cahaya berikutnya.

Demikian pula sejarah Klaten, dia tidak diposisikan sebagai masa lalu yang harus ditinggalkan. Jejak Mataram Kuno justru ditempatkan sebagai fondasi untuk membaca kekuatan daerah dan menentukan arah masa depan.

Karnaval Klaten 2026 sebagai identitas daerah

Lewat konsep yang matang, Concept Director Karnaval Budaya dan Pembangunan Kabupaten Klaten 2026 Joe Adma berharap acara tersebut tidak berhenti pada keramaian semata, tapi bisa “mengena” di benak masyarakat, bahkan setelah acara selesai. 

“Karena sebuah event yang baik seharusnya tidak hanya menghasilkan tontonan, tetapi meninggalkan pengetahuan, pengalaman, kebanggaan dan identitas bagi masyarakat,” tegasnya.

“Lewat konsep ini, kami tidak sedang mengajak Klaten berjalan mundur ke masa lalu tapi justru sebaliknya. Kami mengambil kekuatan dari masa lalu untuk berjalan lebih percaya diri menuju masa depan,” ucapnya.

Baginya, history adalah fondasi, tradisi adalah karakter, dan pembangunan adalah cara masyarakat meneruskan peradaban. 

Dengan melibatkan lebih dari 60 kontingen, Karnaval Budaya dan Pembangunan Kabupaten Klaten 2026 menjadi salah satu ruang besar untuk mempertemukan sejarah, budaya, masyarakat, pembangunan, dunia usaha, dan kreativitas dalam satu rangkaian pertunjukan.

Sumber: Humas Kabupaten Klaten

BACA JUGA: Apem Ya Qowiyyu: Kue Khas Jatinom Klaten Berusia 400 Tahun, Bukan Semata Warisan Kuliner tapi Kesalehan Sosial atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version