Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan

Jeritan Petani di Sedayu yang Anak-anaknya Nggak Mau Mengolah Sawah di Jogja

Agung Purwandono oleh Agung Purwandono
13 Oktober 2023
A A
Jeritan Petani di Sedayu yang Anak-anaknya Nggak Mau Mengolah Sawah di Jogja MOJOK.CO

Ilustrasi Jeritan Petani di Sedayu yang Anak-anaknya Nggak Mau Mengolah Sawah di Jogja (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Hampir semua petani di Jogja punya keluhan yang sama tentang anak mereka

Saiman bahkan mengatakan ke anak-anaknya, kalau mengalami kendala dari sisi pengairan, pemupukan, atau kendala lain, ia yang akan turun tangan membiayai. “Itu mereka nggak mau, Mas. Tanahnya dikembalikan, ‘digarap bapak saja’,” kata Saiman geleng kepala. 

Saiman paham, bekerja jadi petani itu memang tidak langsung bisa menerima uang. Selain itu, masalah dalam sistem pertanian di Indonesia begitu banyak. 

Iklan

Ia menegaskan, bukan hanya anak-anaknya saja yang menolak untuk menggarap tanah warisan. Sebagian besar petani yang ia kenal di Jogja juga mengalami hal yang sama. “Saya tahu karena saya aktif di kelompok tani sudah puluhan tahun,” kata Saiman. 

Bagi yang tidak kuat mengolah sawah, maka biasanya akan dijual. Belum tentu juga selanjutnya menjadi tanah pertanian, bisa jadi beralih menjadi permukiman atau hal yang lainnya. “Mereka yang kemarin dapat uang dari lahan yang kena tol kan banyak yang bingung, mau beli tanah, tapi tanahnya mahal,” kata Saiman.

Padahal belum tentu hasil sawah yang diolah bisa menjamin penghidupan seluruh keluarganya. Kecuali jika tanah itu luas.

Saiman dengan latar belakang sawah yang mengering. Biasanya jika irigasi lancar ada air. Namun, tahun ini Selokan Mataram ditutup. Di saat petani lain membiarkan saja lahan pertaniannya nganggur, ia mananam palawija. (Agung P/Mojok.co)

Masalah-masalah yang dihadapi petani

Saiman mengatakan masalah yang petani hadapi selain regenerasi adalah persoalan-persoalan teknis ketika menggarap lahan. “Misalnya saja sekarang ini, harusnya Selokan Mataram kan jangan dikeringkan dulu, karena belum hujan. Nah karena tidak ada pengairan, petani jadi dapat masalah karena nggak ada airi,” kata Saiman. 

Saiman sendiri tidak menyerah dengan kondisi tersebut. Ia menanami lahan garapannya di wilayah Sedayu dengan palawija yang tidak membutuhkan banyak air. “Ini sedang saya tanami lembayung, tiap pagi bisa panen, tambah-tambah uang belanja,” katanya.

Masalah lain yang jadi keluhan petani adalah soal pupuk. Saat ini untuk mendapatkan pupuk bersubsidi, petani harus membawa kartu tani. Ternyata tidak sesederhana itu persoalannya. Untuk mendapatkan kartu itu, syarat administratifnya ribet. 

“Kalau masa kartunya habis, petani harus ngurus ke BRI. Nah, BRI tidak mudah mengeluarkan kartu itu karena harus mengisi data. Sementara kalau membeli pupuk non-subsidi, mahal banget,” kata Saiman. 

Persoalan lain, misalnya soal karakter petani sekarang yang ingin lahannya produktif terus untuk bertanam padi. Padahal sesuai anjuran, pola musim bertanam yang baik, harusnya padi-padi-palawija. “Sekarang hampir semua petani selalu, padi-pantun-pantun (pantun merupakan bahasa Jawa kromo artinya padi),” ujar Saiman.

Yang terjadi, tanah menjadi tidak subur lagi. Bahkan menurut Saiman dari penelitian UGM yang ia dengar, kondisi tanah pertanian di Jogja unsur haranya sedikit banget. Kondisi lahan yang kurang dari sisi kesuburan membuat petani makin banyak menggunakan pupuk kimia. 

“Kalau saya, sampai kapan pun akan bertani, hasilnya mungkin tidak bisa jadi pegangan, tapi bisa untuk hidup ayem. Saya pun nggak akan jual sawah tanah warisan, selama saya masih kuat, akan saya olah sendiri. Nggak tahu nantinya,” kata Saiman.

Surplus beras tapi harganya naik terus

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY, Sugeng Purwanto, menyampaikan, stok beras di pertengahan hingga akhir 2023 di DIY masih aman. Bahkan surplus. 

Dari data per 11 September 2023, ketersediaan beras di DIY mencapai 11.135,98 ton, sedangkan kebutuhan per minggu 5.907,33 ton.

Iklan

“Artinya, neraca mingguan surplus 5.228,65 ton,” katanya Rabu, 13 September 2023. Saat itu, ia juga mengatakan belum mendapat laporan dari kabupaten terkait tanaman padi yang rusak akibat musim kemarau. 

Namun, hari ini 13 Oktober 2023, pedagang-pedagang beras di Pasar Beringharjo menjerit karena harga beras yang terus naik. Penyebabnya karena DIY masuk musim paceklik karena kemarau panjang yang membuat panenan padi berkurang. 

Kondisi ini makin menggambarkan ancaman krisis pangan di DIY. Selain karena musim kemarau panjang, susutnya lahan persawahan di DIY kemungkinan besar ikut menyumbang sedikitnya panenan.

Tanda-tanda krisis pangan di DIY makin dekat

Mengutip Kompas.com, tahun 2013, Biwara Yuswantana yang saat itu menjabat Kepala Bidang Perekonomian Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah Provinsi DIY menyatakan, DIY terancam krisis pangan di 2039. 

Hal tersebut Biwara sampaikan 10 tahun lalu dalam sarasehan “Membangun Yogyakarta yang Berkecukupan, Sejahtera, Mandiri, Lestari”, (18/4/2013). Saat itu, ancaman krisis pangan 2039 didasarkan pada pertambahan penduduk dan permukiman.

Dengan adanya pembangunan jalan tol dan pariwisata yang kian masif, lahan pertanian semakin cepat berkurang. 

Harian Jogja edisi cetak pada 25 September 2017 bahkan mengangkat liputan khusus, dengan judul headline halaman pertama, 2025, DIY Krisis Pangan. 

Ancaman krisis pangan pada 2039 bisa makin cepat melihat kondisi alih fungsi lahan pertanian dan persawahan di DIY. Hal ini karena setiap tahun rata-rata 250 hektare lahan persawahan di Yogyakarta beralih fungsi. Padahal luas lahan sawah di DIY sekitar 76 ribu hektare. 

Hal itu disampaikan Kepala Bidang Ketahanan Pangan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) DIY, Bambang Dwi Wicaksono, seperti dikutip dari Kumparan.com, 2 Februari 2023. 

Berkurangnya lahan sawah ini menurutnya karena alih fungsi lahan menjadi permukiman penduduk, jalan, dan tempat usaha seperti restoran dan kafe. 

Penulis: Agung Purwandono
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Jalan Kaliurang: Ketika Petani Tua Enggan Menukar Tanah Warisan dengan Uang Receh 3,5 Miliar

Cek berita dan artikel Mojok lainnya di Google News

 

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 13 Oktober 2023 oleh

Tags: petanipetani di jogjasawah
Agung Purwandono

Agung Purwandono

Jurnalis dengan pengalaman lebih dari dua dekade yang menekuni penulisan feature dan jurnalisme naratif. Punya ketertarikan pada kisah-kisah manusia yang jarang mendapat sorotan.

Artikel Terkait

Beralih dari profesi dokter ke petani di Klaten dan dirikan KOMSAH. MOJOK.CO
Sosok

Resah Jadi Dokter: Tangani Pasien Petani dengan Keluhan Sama, Pilih Turun ke Sawah demi “Menyembuhkan” Tanah

13 Juli 2026
Menjadikan Tengkulak Sebagai Musuh Petani adalah Gagasan Konyol yang Nggak Akan Sejahterakan Petani MOJOK.CO
Esai

Menjadikan Tengkulak Sebagai Musuh adalah Gagasan Konyol yang Nggak Akan Sejahterakan Petani

2 Maret 2026
Pupuk Organik Buatan Sendiri Jadi Andalan di Tengah Krisis Bertani
Video

Pupuk Organik Buatan Sendiri Jadi Andalan di Tengah Krisis Bertani

15 Juli 2025
Beras Bulog capai 4 juta ton. MOJOK.CO
Ragam

Stok Beras Bulog Capai 4 Juta Ton, Lalu Gunanya untuk Rakyat Apa kalau Harganya Masih Anomali?

2 Juni 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Saat cerita/sambat ke teman berujung adu nasib dengan kalimat maut "Kamu masih mending". Meresponsnya dengan pura-pura tolol ternyata menyenangkan MOJOK.CO

Niat Cerita ke Teman Berujung Adu Nasib: Pura-pura Tolol saat Teman Bilang “Kamu Masih Mending” Ternyata Menyenangkan

6 Agustus 2026
belanja di MR DIY. MOJOK.CO

Celingak-celinguk di MR DIY sambil Dengarkan Jingle yang Candu, Rasanya Damai Sekalipun Tidak Beli Apa-apa

5 Agustus 2026
77 persen lulusan sekolah vokasi (sarjana terapan) tembus dunia kerja. Lebih dari dari lulusan S1 MOJOK.CO

Lulusan Sekolah Vokasi (Sarjana Terapan) Lebih Laris di Dunia Kerja dari S1, Industri Butuh yang Berketerampilan

7 Agustus 2026
Mahasiswa KKN di desa

Suasana KKN Tak Seindah Konten di TikTok: Banyak Drama Sesama Mahasiswa, hingga Tangis Palsu Saat Perpisahan dengan Warga Desa

5 Agustus 2026
Ngenesnya Jadi Dosen di Rezim Formalistik: Ikut Menyusun Regulasi Negara, Malah Dianggap Tak Bekerja MOJOK.CO

Ngenesnya Jadi Dosen di Rezim Formalistik: Ikut Menyusun Regulasi Negara, Malah Dianggap Tak Bekerja

5 Agustus 2026
Kemiskinan DIY menurun. MOJOK.CO

Jumlah Orang Miskin di Yogyakarta Berkurang, Penurunannya Jadi yang Tertinggi di Jawa pada Maret 2026

6 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.