Memanen Air Hujan Seperti Orang Desa Dianggap Budaya Jorok dan Terbelakang, padahal Bisa Menjadi Penyelamat Saat Kekeringan 

Cuaca ekstrem, memanen air hujan.MOJOK.CO

Ilustrasi cuaca ekstrem. (Mojok.co)

Kegiatan memanen air hujan masih dijumpai di perdesaan, seperti sebagian wilayah Gunungkidul, Wonogiri, hingga Bojonegoro. Sayangnya, budaya ini dianggap jorok dan terbelakang. Padahal, ia bisa menyelamatkan kita dari krisis kekeringan ekstrem akibat El Nino.

***

Fenomena El Nino dengan intensitas curah hujan di bawah normal tengah memanggang sebagian besar wilayah Indonesia. Dari Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, hingga selatan Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua, krisis air kini menjadi ancaman nyata. 

Dampak berantai pun tak terhindarkan. Mulai dari produksi pertanian terancam gagal panen, risiko kebakaran hutan melonjak tajam, hingga merebaknya ragam penyakit seperti Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

Merespons krisis yang berulang ini, Pakar Hidrologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Agus Maryono, melontarkan sebuah autokritik. Menurutnya, krisis air di musim kemarau saat ini sejatinya adalah konsekuensi langsung dari kelalaian kita sendiri saat musim hujan tiba.

“Kekeringan itu adalah dampak dari kelalaian kita melakukan sesuatu di musim hujan. Akibatnya, pada musim kering kita kebingungan mencari air,” tegas Agus dalam lokakarya bertajuk “Metode dan Teknologi Mitigasi Kekeringan” di UGM, Jumat (14/8/2026) kemarin.

Agus menekankan bahwa masyarakat sering kali melihat musim hujan dan musim kemarau sebagai dua fenomena yang terputus. Paradigma lama sistem drainase kita selalu berfokus pada bagaimana membuang air hujan secepat mungkin ke laut agar tidak banjir. 

Padahal, pemikiran itulah yang menjadi akar masalah.

Kualitas air hujan lebih bagus dari sumber air di darat

Di saat banyak pihak meremehkan air hujan, Agus justru membeberkan fakta sebaliknya. Kualitas air hujan sejatinya sangat luar biasa, bahkan melampaui kualitas air sungai maupun sumber air permukaan lainnya di darat.

Secara ilmiah, air hujan memiliki struktur molekul yang lebih kecil karena belum terkontaminasi atau tertempel berbagai mineral dari tanah. Hal ini membuatnya jauh lebih cepat diserap dalam proses metabolisme makhluk hidup. 

“Kalau kita minum air hujan, rasanya akan lebih cepat segar dibandingkan meminum air biasa,” jelasnya.

Sayangnya, praktik memanen air hujan sering disalahpahami sebagai tradisi tertinggal. Padahal, negara maju seperti Australia telah lama menjadikan sistem panen air hujan sebagai tulang punggung pasokan air bersih mereka, baik di kawasan perkotaan maupun pedesaan. 

Di Indonesia, praktik adaptif serupa sebenarnya sudah mulai dilakukan di daerah kering seperti Bojonegoro dan sebagian besar wilayah di Gunungkidul.

Harus “memanen” secara masif karena manfaatnya sangat besar

Lantas, bagaimana cara kita membayar kelalaian tersebut? Menurut Agus, solusinya adalah memanen hujan secara masif. 

Di kawasan perkotaan, warga bisa menyulap sumur-sumur tua yang tak lagi terpakai menjadi sumur resapan. Air yang jatuh dari genting rumah ditampung terlebih dahulu dalam bak, disaring, lalu sisa kelebihannya diinjeksi atau dimasukkan kembali ke dalam tanah.

Gerakan kolektif semacam ini, jika dilakukan bersama-sama, tidak hanya akan menghentikan penurunan muka air tanah yang makin kritis, tetapi juga ampuh meredam banjir. Upaya ini pun harus diikuti oleh sektor-sektor raksasa peminum air tanah, seperti industri, perhotelan, dan perkantoran. Mereka wajib ikut menampung dan meresapkan air hujan sebagai bentuk timbal balik kepada alam.

Sementara itu, untuk sektor pertanian dan wilayah perdesaan, Agus mendorong kebangkitan kembali tradisi kolam tampung atau embung desa. Setiap desa wajib menahan air hujan agar tidak langsung lenyap meninggalkan permukiman.

Manfaatnya pun berlipat ganda. Di Bantul, masyarakat telah membuktikan bahwa air hujan yang ditampung tidak hanya menyelamatkan tanaman saat kemarau, tetapi juga sangat baik digunakan untuk budi daya perikanan, seperti memelihara ikan lele dan mujair.

Menghadapi sisa musim kemarau saat ini, Agus menyarankan masyarakat untuk lebih aktif dan mandiri mencari sumber air alternatif yang bersembunyi di bawah permukaan, seperti di sekitar aliran sungai, danau, rawa, hingga merawat kembali mata air yang terbengkalai.

“Orang harus mulai berpikir bahwa hujan dan kemarau itu adalah satu kesatuan sistem. Kalau tidak ingin bermasalah dan menderita di musim kemarau, maka pada musim hujannya kita harus banyak menampung air,” pungkasnya memberikan peringatan keras.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Hadapi Krisis Iklim, Ilmu Fisiologi Pohon Jadi Kunci Selamatkan 12 Juta Hektare Lahan Kritis atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version