Hobi Berkuda dan Biaya yang Dikeluarkan untuk Ikut Klub di Jogja

Biaya yang Dikeluarkan untuk Memenuhi Keinginan Ikut Klub Berkuda di Jogja

Di Yogyakarta, setidaknya ada 12 klub berkuda equestrian, atau olahraga yang menitikberatkan pada ketangkasan berkuda. Berapa biaya untuk memenuhi keinginan hobi berkuda di kota pelajar ini?

***

Begitu diterima kuliah di UGM, hal yang saya pikirkan pertama adalah menjawab rasa penasaran saya terhadap olahraga berkuda. Itu yang menjadi alasan saya kemudian bergabung di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Unit Berkuda UGM. 

Banyak rasa ingin tahu saya dari olahraga yang terkesan ekslusif ini. Bahkan kemudian saya tahu, di Indonesia, tidak banyak perguruan tinggi yang memiliki klub berkuda. Hanya ada 5 universitas yang memiliki klub berkuda. Di Yogyakarta hanya UGM yang punya. 

Saya menghitung di Yogyakarta ada 12 klub berkuda equestrian. Data dari teman saya yang berkecimpung dalam dunia perkudaan di Yogya, setidaknya ada 35 klub berkuda di Yogyakarta. Jadi dalam dunia berkuda, ada pacuan dan equestrian. Saya akan fokus di equestrian atau olahraga yang menitikberatkan pada ketangkasan berkuda. 

Olahraga berkuda itu katanya mahal

Fajar Kamil (21), seorang mahasiswa Fakultas Hukum UGM ini membisikan biaya yang ia gelontorkan untuk berkuda.

Lelaki bertinggi 180 cm itu sudah menekuni dunia berkuda sejak Sekolah Menengah Pertama. Perjumpaan pertamanya dengan kuda tunggang adalah saat dirinya bersekolah di Australia. Di sana, Fajar remaja beberapa kali menghabiskan akhir pekannya untuk menunggang kuda.

Sekembalinya ke Indonesia, Fajar terus menjalankan hobi berkudanya meski sempat terputus. Petualangan berkudanya kembali berjalan semenjak dirinya kuliah di Jogja tahun 2018. Sejak semester satu, pria berkacama itu telah rajin keluar masuk kandang untuk memuaskan hasrat berkudanya. 

Mahasiswa kelas internasional itu mengaku merogoh Rp 2 juta perbulan. Biaya itu ia keluarkan sebagai biaya member latihan bulanan di sebuah klub berkuda atau stable. Dengan biaya itu, Fajar bisa naik kuda 8 kali dalam sebulan. 

Fajar Kamil saat bertanding di Equine Festival IPB 2019. Dok. Unit Berkuda UGM
                                               Fajar Kamil saat bertanding di Equine Festival IPB 2019. Dok. Unit Berkuda UGM

Sebagai mahasiswa rantau, Fajar mengaku dirinya diberi uang saku perbulan sebanyak Rp 2 juta. Tetapi dirinya tidak perlu lagi pusing memikirkan biaya berkudanya. Sebab orangtuanya telah memberinya jatah tersendiri untuk hobinya itu. “Untuk berkuda, aku ada alokasi dana sendiri dari orangtua. Jadi aku ngga perlu lagi ngeluarin dari duit bulanan,” jelasnya.

Mahasiswa asal Jakarta ini menuturkan biaya yang ia keluarkan berbeda lagi bila ia harus pergi bertanding. Tiap bertanding, Fajar setidaknya harus mengeluarkan Rp 6 juta. Angka tersebut sudah termasuk untuk menyewa kuda, biaya tanding perkelas, dan biaya-biaya printilan lainnya.

Ada uang ada prestasi. Besarnya biaya yang dikeluarkan Fajar setiap bertanding, setidaknya sesuai dengan prestasi yang ia raih dalam olahraga berkuda. Dirinya kerap menyabet juara bergengsi di cabang jumping. Total sebanyak 6 kejuaraan berhasil ia menangkan.

Biaya memelihara kuda dan peralatannya

Untuk menjadi penghobi berkuda, seseorang tidak perlu memiliki kuda. Cukup menjadi seorang member di sebuah stable atau klub berkuda.  Di setiap stable umumnya memiliki kuda yang disediakan khusus untuk latihan para membernya.

Sebagai seorang atlet berkuda, Fajar sempat memiliki kudanya sendiri. Di tahun 2019, Fajar membeli seekor kuda jantan belia. Memiliki kuda sendiri berarti Fajar harus mengeluarkan uang lebih. 

Ia masih ingat list biaya yang harus dikeluarkan selama memelihara kuda. Biaya stabling atau sewa kandang kuda sebesar Rp 400 ribu, biaya groomer atau orang yang merawat kudanya Rp 1 juta. Pakan Rp 900 ribu, tapel atau sepatu kuda beserta jasa pemasangannya Rp 500 ribu, rumput Rp 300 ribu, training kuda dan rider Rp 1,5 juta. Obat-obatan dan vitamin sekitar Rp 400 ribu. “Banyak sih list biayanya, sebulan sekitar Rp 4,5-5 jutaan,” katanya. 

Berbeda dengan biaya yang dikeluarkan perempuan ini. Sebut saja Stepi (22). Wanita mungil ini hanya mengeluarkan Rp 150 ribu perlatihan. Ia berlatih sebanyak 4 kali dalam sebulan. Artinya ia menghabiskan 600 ribu dalam satu bulan.

Saking sukanya dengan kuda, mahasiswa sekaligus pedagang ini sempat membeli kudanya sendiri. Tetapi hanya sebentar. Memiliki kuda sendiri ternyata cukup boros dan justru membuang-buang uang. Ditambah lagi kuda betina yang ia beli suka mengigit. Selain itu, kuda yang ia beli merupakan kuda muda, sehingga memerlukan latihan agar bisa menjadi kuda tunggang, dan biaya Latihan kuda juga mahal menurutnya.

“Bagiku, memiliki kuda sendiri untuk ku tunggangi tidak menghasilkan uang. Perawatan kuda memerlukan uang yang sangat banyak,” katanya. Menurutnya untung punya kuda itu bukan dalam jangka pendek tetapi jangka panjang. Kalau tanding dan menang biasanya dapat medali, sertifikat rider dan kuda. Kalaupun dapat uang ya tidak seberapa. 

“Kuda memang bisa terkenal dan memiliki harga jual tinggi kalau sering menang tanding, tetapi itu juga harus dijaga. Untuk mencapai pada titik itu, kuda harus sering latihan, menjaga pola makan dan vitamin, itu juga keluar uang banyak lagi. Kalau aku sebagai rider, lebih enak pakai kuda dari stable. Cuma bayar biaya naik bulanan ga perlu repot lagi mikirin keperluan kuda,” tutur perempuan yang memenuhi hobi berkudanya dari pendapatan berdagang. 

Bila ingin menekuni olahraga berkuda, maka memakai beberapa atribut untuk kenyamanan dan keamanan adalah keharusan. Umumnya, tiap stable sudah menyediakan peralatan yang dibutuhkan oleh seorang rider. Tetapi bila tidak ingin berganti-gantian dengan member lain, maka membeli sendiri adalah pilihan. Stepi sendiri mengaku tidak merogoh terlalu banyak kocek untuk peralatan rider.

“Aku ga begitu boros sih, barang-barang yang aku beli juga perlengkapan standar dan kualitasnya juga yang biasa aja, bukan yang terbaik. Boots (sepatu) aku beli harganya Rp 750 ribu, helm Rp 600 ribu, cambuk Rp 180 ribu, spur Rp 350 ribu, sarung tangan Rp 200 ribu, celana tunggang Rp 500 ribu. Total Rp 2,5 jutaan, tapi itu kan bisa dipake berkali-kali jadi ya gapapa,” kata Stepi.

Jelas, memiliki kuda dan biaya perawatannya tidak akan cukup bagi yang orang-orang yang bergaji UMR Jogja. Bahkan bagi yang ingin memenuhi hobinya dengan hanya menjadi member di klub berkuda seperti Fajar, UMR Jogja belum cukup. Kalau cuma sekali dua kali latihan seperti yang dilakukan Stepi, mungkin cukup. Nah berbeda dengan biaya yang dikeluarkan oleh mahasiswa yang ikut UKM Berkuda UGM. 

Hobi berkuda di kalangan anak muda

Meski terbilang sebagai olahraga mahal. Tetapi olahraga yang satu ini masih mungkin dilakukan bagi mahasiswa. Astri Arusya Cahyaningrum (20), mahasiswi Hubungan Internasional UGM itu hanya mengeluarkan Rp 150 ribu untuk sebulan latihan. Lantaran dirinya tergabung di Unit Berkuda (UB) UGM. Iuran Rp 150 ribu tersebut merupakan iuran yang wajib dikeluarkan oleh para anggotanya. Cukup dengan membayar 150 ribu perbulan, mahasiswa yang jadi anggota dapat berlatih seminggu sekali.

“Aku biasanya latihan seminggu sekali, tetapi kalo slotnya lagi kosong, aku suka isi. Jadi seminggu bisa naik kuda dua kali,” tutur perempuan asal Indramayu itu.

                                               Hobi berkuda, Astri Arusya Cahyaningrum rutin berlatih. Dok. Unit Berkuda UGM

Astri, begitu sapaannya, menuturkan asal muasal dirinya bergabung di UKM UB UGM. Ia menuturkan bahwa mulanya ia tertarik dengan olahraga berkuda lantaran stereotypenya yang kental. “Awalnya aku bingung mau ikut UKM apa, terus temenku kasih saran antara panahan dan berkuda. Setelah dicocokin sama jadwalku, ternyata lebih bisa mengikuti berkuda. Terus juga berkuda tu kesannya keren gitu haha,” jelasnya.

Meski mulanya bergabung bukan karena minat yang tinggi, Astri kemudian dibuat jatuh cinta dengan olahraga yang satu ini. Ia bahkan sempat terpikir untuk minta dibelikan kuda ke orangtuanya. “Sempet minta sama Bunda, pengen gitu kan punya kuda sendiri, biar kalo latihan bebas bisa kapan aja. Tapi kata Bunda kalo belinya sih bisa, tapi ngerawatnya yang ga bisa” jelasnya.

Lebih lanjut perempuan Aries tersebut menuturkan bahwa kuda merupakan binatang yang membutuhkan perawatan ekstra. Segala sesuatunya harus diperhatikan, mulai dari kandang, asupan makanan, gizi, hingga kesehatan. Semua aspek tersebut juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Belum lagi bila si kuda sakit dan memerlukan perawatan tambahan.

Astri menurutkan bahwa untuk melakukan hobinya itu, ia sering sekali bolos kuliah. Lantaran slot latihan tersedia sering ketika dirinya ada kelas. “Kalo di Unit Berkuda UGM itu kan sistemnya ngisi slot gitu. Terus kan pada rebutan ngisi slot, nah seringnya tuh pas ada slot kosong, aku malah ada kelas. Jadinya sering banget bolos kuliah, ha..haha..,” jelasnya melalui sambungan telepon.

Ia menuturkan bahwa bergabung di UKM Berkuda UGM benar-benar membantu para mahasiswa dengan budget ngepas untuk melakukan hobi yang identik mahal itu. Astri hanya mengeluarkan sangat sedikit uang, dibanding bila berlatih di luar Unit Berkuda. 

“Aku Cuma keluar Rp 150 ribu per bulan untuk iuran, terus sempet beli celana tunggang yang harganya Rp  200 ribu dan Rp 400 ribu, beli sarung tangan seharga Rp 250 ribu, udah. Segitu doang, boots aku ngga beli karena dikasih kado, terus helm aku pake helm nya stable. Jadi ya segitu doang. Aku selalu latihan di UB UGM, karena aku ga kuat kalo latihan sendiri di stable gitu, mahal banget”.

Perjuangan serupa juga dituturkan oleh Muhammad Sulchan Fathoni (20). Lelaki yang satu ini kerap kali menghabiskan malam di kandang. Ia bahkan pernah belajar dan mengerjakan Ujian Akhir Semester di kandang.

 “Waktu itu kadang lagi kosong, groomer lagi pada libur. Jadi mau ga mau aku yang harus jagain kuda-kuda sambil belajar buat UAS,” tutur mahasiswa Departemen Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan UGM Angkatan 2018 ini. 

Sulchan, begitu sapaanya, menceritakan bahwa dirinya sudah tertarik dengan olahraga berkuda sejak kecil. Ia dulu suka baca komik koboi. Menurutnya koboi itu keren banget. “Gambaran seorang koboi yang keren tuh selalu ada di benakku. Punya bonding yang kuat dengan kuda. Terus bisa angon sapi pake kuda. Itu kan keren banget. Sepertinya dari situ ketertarikanku dengan kuda muncul. Aku semacam pengen jadi kayak koboi karena keren ha..ha..,” tutur Sulchan ringan.

Ia semakin ingin menunggang kuda saat melihat kegiatan di riding school dekat rumahnya. Saat pertama melihat, ia langsung tertarik dengan kegiatan itu. Ia lantas datang dan menanyakan program yang tersedia.

“Setelah lihat brosurnya kok mahal banget, ga sampe di kantong. Jadi ya dari SD cuma bisa lihat orang naik aja sambil kepengin. Naiknya cuma fun riding di tempat wisata gitu kayak di Parangtritis atau Bromo. Baru beneran ikut olahraga berkuda itu ya di Unit Berkuda UGM,” tuturnya.

                                                                     Penulis saat mengikuti latihan di UB UGM. Dok. Unit Berkuda UGM

Menurutnya, bergabung di Unit Berkuda UGM membuatnya sanggup mengikuti olahraga berkuda yang terkesan mahal. Iuran yang murah sangat memudahkan mahasiswa ngepas seperti dirinya. Meskipun begitu, ia masih perlu menabung untuk membeli peralatan rider yang tidak murah.

Untuk membeli boots seharga Rp 600 ribu dan celana tunggang senilai Rp 600 ribu. Sulchan perlu puasa selama satu bulan. Selain itu, dirinya juga perlu bekerja part-time sebagai barista. 

“Waktu butuh celana dan boots itu aku alokasiin dari uang saku, aku puasa selama sebulan. Terus buat kehidupan seperti jajan, nongkrong dan uang bensin, ya hal-hal operasional latihan itu dari part time. Aku ga minta ke orang tua kalo untuk berkuda, kecuali memang ada hal-hal khusus. Olahraga berkuda memang cukup menguras buat mahasiwa pas-pasan kayak aku gini. Tapi ya gimana lagi namanya juga suka,” jelasnya.

Sulchan mengaku, dalam olahraga berkuda, dirinya termasuk orang yang beruntung. Banyak pihak yang mendukung dirinya. Salah satunya adalah Stable Rumah Berkuda Yogyakarta (Ruby). Setelah latihan di UB UGM, Sulchan kini rajin berlatih di Ruby. Ruby saat itu merupakan salah satu stable yang bekerja sama dengan UB UGM. 

Sulchan juga salah satu anggota yang rajin latihan. Setelah latihan pun ia biasanya suka bantu-bantu di kandang. Baik itu bantu membersihkan kandang, dan memberi makan malam kuda hingga pukul 9 malam. Ketika libur semester tiba, Sulchan lebih suka menghabiskan waktu di kandang. Kesungguhannya dilihat oleh pemilik Ruby, drh Yahya yang mempersilahkan Sulchan untuk berlatih rutin. 

Sejak berdinamika di sana, Sulchan belajar banyak hal, mulai dari latihan yang baik dan benar, manajemen kandang, hingga kesehatan kuda. Semua aspek kadang ia pelajari di sana. Ia bahkan juga pernah menjadi asisten pelatih untuk bantu melatih para pemula yang ingin belajar berkuda. Karier asistensi nya ini pernah ia dalami di Mojokerto, Jawa Timur selama satu bulan.

Punya ikatan batin dengan kuda

Selama dua tahun menggeluti olahraga yang satu ini, Sulchan mengaku sudah 9 kali jatuh dari kuda. Tiap jatuh memiliki momennya masing-masing. Salah satu momen jatuhnya membuatnya kini memiliki sakit di punggung. “Waktu itu awal belajar canter, sudah gapake tali juga. Terus tiba-tiba kudanya kaget karena ada motor gede lewat. Jadi dia lari kabur gallop kenceng banget. Aku jatuh terlentang. Awalnya ga kerasa sakit, setelah seminggu baru terasa. Aku bawa ke rumah sakit untuk rongten ternyata hasilnya baik. Tidak ada cidera apa-apa. Kata dokter kemungkinan trauma otot. Sejak saat itu aku rutin ikhtiar fisioterapi. Tapi sampai sekarang belum ada hasilnya,” jelasnya.

Canter adalah gaya berjalan kuda dengan tiga ketukan dan gerakan goyang. Pada momen ini, kuda bergerak dengan cepat. Teknik canter juga kerap kali digunakan untuk jumping.

Ada lagi momen jatuh paling epik yang Sulchan ceritakan. Saat itu UB UGM memiliki agenda Coaching Clinic dengan mendatangkan atlet nasional Raymond Kaunang dan Mario Juventus Paat di akhir 2019. “Aku telat berangkat. Dari rumah naik motor ngebut di jalan, eh ternyata jatuh sampe sepatu rusak, dengkul berdarah dan badan pegel-pegel semua. Terus aku dijemput sama anak-anak. Tapi waktu sampe di kandang, aku tetep naik dan dipinjemin sepatu tunggangnya Kak Mario. Siang istirahat terus sorenya naik lagi. Waktu itu juga sedang belajar jumping, dan waktu latihan sore aku jatuh lagi. Cukup banyak sih ceritanya,” ujarnya sembari tertawa.

Lelaki berkulit sawo matang itu menuturkan betapa dirinya jatuh cinta dengan olahraga berkuda. Menurutnya berkuda merupakan salah satu moodboosternya. Terlebih adanya ikatan dengan si kuda pun memberikan efek menakjubkan. 

“Aku melihat kuda itu unik, dia berbeda dengan sapi atau kerbau. Kalau sapi dan kerbau itu seperti hewan kerja biasa. Tetapi berbeda dengan kuda. Kuda itu bisa memiliki hubungan emosional dengan manusia. Dan Ketika hubungan itu sudah kita miliki rasanya tuh puas banget. Misalnya, di dalam hati, aku nyuruh kudanya untuk canter, aku belum kasih aba-aba ke kuda, tetapi dia bisa tahu dan canter sendiri. Itu adalah salah satu hal paling menakjubkan buatku,” tuturnya ceria.

Selama menekuni hobi berkuda sejak akhir 2018 lalu, Sulchan berhasil menyabet 3 juara di berbagai ajang perlombaan. Mulai dari Juara 1 Walk Trot Junior Internal Unit Berkuda, Juara 5 Show Jumping 30-50 Porsenigama UGM, hingga Juara 2 Dressage Preliminary Try In Pordasi.

Meski umurnya terbilang cukup muda, ia kini sudah menjabat sebagai Wakil Sekretaris Umum di Persatuan Olahraga Berkuda Indonesia (Pordasi) Kota Yogyakarta. Ketika ditanya harapan apa yang ia miliki untuk olahraga berkuda, ia menjawab bahwa dirinya ingin dapat berkontribusi untuk memasyarakatkan olahraga berkuda. Ia ingin memperjuangkan olahraga berkuda agar terus mendapat dukungan dari pemerintah daerah yang lebih serius agar tidak kalah dengan daerah lain yang lebih maju.

BACA JUGA Tentang Anggit, Bagaimana Ia Beternak Burung dan Ayam Mahal dan liputan menarik lainnya di Mojok.

Exit mobile version