Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Histori

Stadion Tambaksari Surabaya Saksi Banyak Peristiwa Sejak 1920 tapi Terpaksa Ditinggalkan, Mau Nostalgia pun Tak Bisa karena “Terhalang” GBT

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
22 Juli 2024
A A
Stadion Tambaksari Gelora 10 November Surabaya venue AFF U-19 Penuh Kenangan Bonek dan Persebaya MOJOK.CO

Ilustrasi - Stadion Tambaksari alias Gelora 10 November Surabaya venue AFF U-19 penuh kenangan Bonek dan Persebaya. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Stadion Tambaksari Gelora 10 November hanya tinggal kenangan

Sebelumnya, saya pernah ngobrol dengan Bonek angkatan lama dari Kampung Lemah Putro, Surabaya. Antara lain Sudarsono (51) dan Aris Susanti (49). Mereka kini hanya bisa menikmati pertandingan Persebaya lewat TV, karena tak bisa menjangkau GBT.

“Saya dulu sering nonton langsung ke stadion pas Persebaya masih main di Gelora 10 November. Tapi kalau ke GBT, jauh, jadi nonton di TV,” jelas Sudarsono.

Iklan
Stadion Tambaksari Gelora 10 November Surabaya, venue AFF U-19 yang Penuh Kenangan MOJOK.CO
Stadion Gelora 10 November Surabaya Tampak Depan. (Dok. Pemkot Surabaya)

Stadion Tambaksari merekam betapa loyalnya Sudarsono sebagai seorang Bonek. Dulu tiap Persebaya main, ia rela tak jualan (nasi goreng) demi nribun. Tradisi yang ternyata masih ia bawa sampai sekarang. Bedanya, kalau sekarang ia meninggalkan jualan dengan hanya bisa menikmati laga Bajul Ijo lewat TV.

Sementara bagi Aris Susanti, Stadion GBT menyimpan kenangan momen saat ia bersama anak dan suaminya yang Bonek sejati nribun untuk nonton Persebaya. Hal itu menjadi momen yang sering terjadi saat Persebaya main di Stadion Tambaksari.

Kenangan yang kini hanya tinggal kenangan, karena Stadion Tambaksari sudah tak lagi jadi kendang bagi Persebaya.

“Pertimbangan nggak nonton langsung di GBT karena jauh. Jadi waswas. Karena lokasinya sepi dan jauh dari pemukiman. Gelap juga. Takut jadi korban kriminal,” tutur Aris Susanti.

Dulu lapangan untuk main orang Belanda

Stadion Tambaksari konon sudah ada sejak awal abad 20, masuk bagian dari proyek pembangunan Kota Surabaya 1907-1923. Waktu itu masih bernama Lapangan Tambaksari.

Melansir dari berbagai sumber, lapangan tersebut dibangun Pemerintah Hindia Belanda sebagai tempat aktivitas olahraga orang-orang Belanda, yang kemudian jadi markas untuk klub Soerabaiasche Voetbalbond (SVB).

Pada 1949, Lapangan Tambaksari diambilalih oleh Persebaya. Lalu pada 1954 direnovasi oleh arsitek Tionghoa bernama Ir. Tan Giok Tjiauw untuk kemudian diresmikan dengan nama Stadion Tambaksari.

Menjelang Pekan Olahraga Nasional (PON) VII 1969, renovasi kembali dilakukan. Selain itu juga terjadi pergantian nama dari Stadion Tambaksari menjadi Gelora 10 November.

Stadion tersebut lantas menjadi markas bagi Persebaya hingga 2017, sebelum akhirnya pindah ke GBT.  Stadion ini juga telah ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya pada 1996.

Stadion dengan deretan pepohonan di tengah tribun

Stadion ini memiliki sisi unik yang masih terus dipertahankan hingga sekarang, yakni keberadaan pohon angsana di sela-sela tribun yang berfungsi sebagai atap alami.

Jelang AFF U-19 2024, sebenarnya ada wacana untuk memotong pohon tersebut jika AFF menghendaki demikian. Tapi ternyata tidak ada permintaan, sehingga pohon tersebut masih ada hingga AFF U-19 bergulir.

“Seninya (dari Stadion Gelora 10 November) kan di situ (ada pohon di dalam stadion). Jadi lebih adem,” kata Cak Eri awal Juli 2024 lalu saat ditanya awak media.

Iklan
Stadion Tambaksari Gelora 10 November Surabaya, venue AFF U-19 yang Penuh Kenangan MOJOK.CO
Deretan pepohonan di dalam Stadion Gelora 10 November Surabaya. (Dok. Surabaya Tourism)

Melihat deretan pohon-pohon tersebut, kapten Australia U-19 Marcus James Younis bahkan mengaku kagum.

“Ini pertama kalinya bagiku (melihat ada pohon di dalam stadion). Itu keren. Rumputnya juga bagus dan ini stadion yang baik,” ungkap Marcus, Kamis (18/7/2024) kepada Antara.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh sang pelatih, Trevor Morgan, yang mengaku baru pertama kali ini melihat ada pohon yang dibiarkan tumbuh di dalam stadion.

Itulah kenapa dalam wawancara bersama Historia, dosen Unesa sekaligus peneliti sejarah olahraga Rojil Nugroho Bayu Aji berani menyebutnya: mungkin menjadi satu-satunya stadion di dunia yang di dalamnya terdapat deretan pepohonan.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Hammam Izzuddin

BACA JUGA: Stadion GBT Punya 1 Cela yang Bikin Surabaya Jadi Sorotan Minor Media Asing, 14 Tahun Jadi Rasan-rasan tapi Belum Ada Solusi Jangka Panjang?

Ikuti berita dan artikel Mojok lainnya di Google News.

 

 

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 23 Juli 2024 oleh

Tags: aff u-19bonekGBTpersebayasejarah stadion gelora 10 novemberstadion gelora 10 novemberstadion surabayastadion tambaksariSurabaya
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Kedai Kopi Dinasty di Surabaya milik alumnus Unesa. MOJOK.CO
Sosok

Bukan Sekadar Cari Cuan, Alumnus Unesa Ini Sukses Bikin Kedai Kopi Murah Sekaligus Berdayakan Ibu-ibu untuk Jual Kopi Keliling

30 Juni 2026
Kudus, Magis Kaki Kanan yang Mengirim Tangis bagi Srikandi Kota Pahlawan.MOJOK.CO
Eksplor

Magis Kaki Kanan yang Mengirim Tangis bagi Srikandi Kota Pahlawan 

27 Juni 2026
Dhia Hana Putri Saraswati mahasiswa Umsura dan Unair. MOJOK.CO
Sekolahan

Kena Mental Kuliah di Umsura dan Unair Sekaligus, Puluhan Kali Ingin Menyerah tapi Kuat karena Ajaran Muhammadiyah

5 Juni 2026
Usai lulus SMA jadi fotografer di Kota Lama Surabaya. MOJOK.CO
Urban

Jadi Fotografer Lepas di Kota Lama Surabaya usai Lulus SMA, Gaji Tak Seberapa asal Bisa Menabung untuk Masa Depan yang Lebih Cerah

4 Juni 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

TikTok Bukan Psikolog atau Psikiater, tetapi Gen Z Mencari Diagnosis Kesehatan Mental di Sana MOJOK.CO

TikTok Bukan Psikolog atau Psikiater, tetapi Gen Z Mencari Diagnosis Kesehatan Mental di Sana

17 Juli 2026
Lulus SMA nekat kerja ke Jakarta untuk jadi cleaning service. MOJOK.CO

Modal Ijazah SMA Kerja Jadi Cleaning Service di Jakarta demi Lulus Sarjana, Kini Pilih Resign untuk Keliling Indonesia

22 Juli 2026
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi tuan rumah “1st Asian Gym for Life Challenge 2026” 1. MOJOK.CO

Jogja Jadi Tuan Rumah Lomba Gym se-Asia usai Thailand Mundur, Semua Kalangan Bebas Ikut Tanpa Beban Menang-Kalah

20 Juli 2026
sarjana, ijazah s1, pekerja, gen z, kerja, PNS di desa lebih menyenangkan. MOJOK.CO

Seporsi Kekalahan Sarjana di Sleman: Susah Payah Dapat Ijazah S1, Ujung-ujungnya Kerja Setara Lulusan SMA karena Tak Punya Pilihan

20 Juli 2026
Kita Membeli Sabun karena Wanginya, Bukan karena Tahu Kandungannya MOJOK.CO

Kita Membeli Sabun karena Wanginya, Bukan karena Tahu Kandungannya

18 Juli 2026
orang kota slow living di desa, jakarta, norak.MOJOK.CO

Standard Ganda: Orang Kota Sok Lebih Berkelas, Padahal di Mata Orang Desa Sama Noraknya

21 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.