Sejatinya Manusia Hidup untuk Mengakali Kematian

Ilustrasi Lika-Liku Kehidupan Manusia (Mojok.co/Ega Fansuri)

Manusia memiliki kesadaran bahwa mereka tak akan hidup selamanya. Makanya, sepanjang hidup, mereka selalu mencari cara untuk “mengakali” kematian.

***

Beberapa hari lalu, saya mampir ke sebuah lapak loak dan membeli buku sastra bekas. Saat membuka kovernya, di sudut kanan atas halaman pertama yang sudah menguning, ada sebuah nama dan tahun yang ditulis dengan tinta pulpen yang mulai memudar: Milik Haryono, 1984.

Saya tidak tahu siapa Haryono. Mengingat tahun yang tertera, besar kemungkinan hari ini ia sudah meninggal dunia, atau setidaknya sudah menjadi kakek renta. 

Namun, coretan huruf tegak bersambung itu membuat saya berpikir sejenak. Kata “milik” di situ rasanya bukan cuma soal tanda kepemilikan barang. Secara tidak sadar, tulisan sederhana itu adalah cara Haryono melawan waktu dan memprotes takdir. 

Dengan menuliskan namanya di sana, ia sebenarnya sedang menitipkan bukti bahwa ia pernah hidup di bumi ini. Ia berharap, tinta itu akan bertahan lebih lama dari detak jantungnya sendiri.

Manusia sadar tak akan hidup selamanya

Melihat buku itu, saya menoleh ke arah seekor kucing kafe yang sedang tidur di karpet. Kucing itu hidup tenang karena ia punya satu keistimewaan yang tidak dimiliki manusia: ia tidak tahu bahwa suatu hari nanti ia pasti akan mati.

Saat ia lapar, ya tinggal makan. Ia takut, tinggal lari saja. Pendeknya, kucing hidup tanpa terbebani bayangan akan masa depan yang gelap.

Sebaliknya, kita sebagai manusia memikul beban otak yang terlalu cerdas. Kita sadar sejak awal bahwa sehebat apa pun kita bertarung hari ini, ujung perjalanan kita hanyalah menjadi gundukan tanah.

Penderitaan batin ini disinggung oleh psikolog Ernest Becker dalam buku tebalnya, The Denial of Death (1973). Becker mencetuskan sebuah teori bernama terror management theory (TMT) atau cara memanajemen teror.

Singkatnya begini: kesadaran bahwa kita akan mati dan membusuk itu menciptakan rasa teror di alam bawah sadar kita. Jika kita terus-terusan memikirkan hal itu, kita bisa gila dan tidak punya tenaga untuk menjalani hidup sehari-hari.

“Dunia nyata sesungguhnya terlalu mengerikan untuk diterima; ia menyadarkan manusia bahwa dirinya hanyalah seekor hewan kecil yang gemetar, yang kelak akan membusuk dan mati,” tulis Becker dalam bukunya itu.

Cara manusia bisa hidup selamanya

Lalu, bagaimana cara manusia agar tetap waras?

Becker menyebutkan bahwa manusia mau tidak mau harus berbohong pada dirinya sendiri. Kita meredam ketakutan itu dengan menciptakan sebuah sistem bernama keabadian simbolik”. Kita sadar tubuh fisik kita akan hancur, jadi kita berusaha memindahkan nyawa kita ke dalam “simbol” yang kebal terhadap kematian.

“Apa yang paling ditakuti oleh manusia sebenarnya bukanlah sekadar kepunahan, tetapi kepunahan tanpa makna (extinction with insignificance),” jelas Becker.

Alhasil, demi menolak “kematian tanpa makna” itulah, manusia berlomba-lomba menciptakan panggung keabadiannya sendiri. Ribuan tahun lalu, Firaun di Mesir membangun piramida raksasa agar namanya abadi. Hari ini, kita bisa saja menertawakan firaun karena dianggap “kuno dan berlebihan”. Padahal, jika mau jujur, kita melakukan kepanikan yang sama kok. 

hidup.MOJOK.CO
Manusia sadar tubuh fisiknya akan hancur, tak hidup selamanya, sehingga mereka berusaha memindahkan nyawa kita ke dalam “simbol” yang kebal terhadap kematian. (Kredit foto: Greg Rakozy/Unsplash)

Kita memang tidak membangun piramida batu, tapi kita menjadi gila kerja untuk membesarkan perusahaan agar nama kita terus diingat orang. Kita panik, lantas membeli produk perawatan kulit mahal untuk melawan keriput. Kita terobsesi punya anak untuk memastikan DNA dan nama keluarga kita tidak putus.

Bahkan di level yang paling sepele, kita rajin mengunggah foto estetik ke Instagram atau TikTok demi mendapat likes. Lewat unggahan itu, kita sebenarnya sedang menjerit pelan kepada dunia, meminta orang-orang mengingat kalau kita pernah ada.

Mencapai keabadian lewat seni

Di titik inilah, seni mengambil peran yang jauh lebih besar dari sekadar hiburan waktu luang. Menciptakan seni, mulai dari melukis, menulis puisi, hingga meracik lagu, bukanlah hobi yang santai. Seni adalah sistem untuk mengawetkan jiwa.

Gagasan ini dijabarkan oleh pakar psikoanalis Otto Rank, tokoh yang juga menginspirasi pemikiran Ernest Becker. Dalam bukunya, Art and Artist: Creative Urge and Personality Development (1932), Rank mencetuskan bahwa creative urge (dorongan manusia untuk mencipta karya) sebenarnya bukan sepenuhnya untuk mencari keindahan. 

Dorongan itu, sejatinya, adalah usaha putus asa manusia untuk mencapai keabadian. Sang seniman “memindahkan” jiwanya ke dalam benda mati, seperti kanvas, teks, atau nada musik, karena benda-benda itu jauh lebih kuat ketimbang daging dan tulangnya yang rapuh.

Kita tidak perlu jauh-jauh membahas sastrawan seperti Chairil Anwar atau Pramoedya Ananta Toer untuk membuktikan kebenaran teori Otto Rank ini. Coba buka aplikasi streaming musik di ponsel kamu hari ini. Lihatlah fenomena musisi-musisi kesayangan publik yang sudah wafat, seperti Glenn Fredly atau Didi Kempot.

Manusia memiliki creative urge, yakni dorongan untuk mencipta karya. Sebenarnya bukan murni untuk mencari keindahan, tapi untuk dikenang, bisa “hidup selamanya”. (Kredit foto: Joana Pires/Unsplash)

Jasad mereka memang sudah berkalang tanah, tetapi karya seni menyelamatkan mereka dari “kematian-yang-mutlak”. Setiap malam, suara mereka masih beresonansi di jutaan telinga pendengar. Tubuh mereka telah hancur, tetapi suara mereka berhasil diawetkan secara abadi dalam wujud kode digital dan algoritma.

Lebih dari itu, lihatlah kolom komentar di video musik mereka yang kini berubah fungsi menjadi semacam “makam digital”. Orang-orang yang masih hidup terus berdatangan untuk berziarah, meninggalkan komentar berisi curhatan, kenangan, atau doa, seolah-olah sang musisi masih hidup dan mendengarkan mereka.

Lewat lagu yang mereka ciptakan di masa lalu, para seniman ini sukses mengakali malaikat maut.

Dorongan mengawetkan diri ini juga menular pada kita yang bukan artis besar. Alasan anak-anak muda hari ini mati-matian merangkai playlist musik di profil media sosial, atau menyusun video pendek dengan sangat rapi, pada dasarnya adalah dorongan mencipta versi mini. 

Mereka sedang menitipkan “keabadian digital”. Mereka berharap, kelak jika mereka sudah tiada, jejak digital itu bisa menjadi museum kecil yang terus dikunjungi oleh teman-teman yang ditinggalkan.

Takjub pada karya seni bisa “memperpanjang” usia

Namun, pertanyaan selanjutnya muncul: bagaimana dengan kita yang hanya bertindak sebagai penikmat? Jika menciptakan seni adalah cara seniman mengawetkan jiwanya, mengapa kita–yang hanya sekadar mendengar musik atau melihat lukisan–bisa merasa tenang, damai, dan seolah terlepas dari penuaan?

Jawabannya bisa ditemukan pada teori the psychology of awe yang diteliti oleh psikolog asal Amerika, Dacher Keltner. Dalam risetnya, Keltner menemukan bahwa ketika manusia merasa benar-benar takjub melihat atau mendengar sebuah mahakarya yang indah, bagian otak yang mengurus “ego” (rasa keakuan) mendadak mati sementara.

Ini adalah fakta yang sangat melegakan. Selama ini, sumber segala rasa takut kita tentang kematian adalah ego kita sendiri. Kita terlalu cemas memikirkan hidup kita, karir kita, dan nasib tubuh kita. Namun, ketika kita hanyut mendengarkan melodi yang indah atau membaca kalimat novel yang menyentuh, ego itu berhenti bekerja. Kita lupa pada diri sendiri.

Saat ego kita mati, otomatis ketakutan kita pada maut ikut menguap. Dengan menikmati karya seni, kita sedang menumpang dan meminjam sementara “keabadian” yang diciptakan sang seniman. Seni mematikan ketakutan kita.

Malam ini, setelah menutup buku bekas bersampul pudar milik Haryono, saya duduk di depan laptop dan mulai mengetik tulisan ini. Sambil menatap layar, saya akhirnya harus mengakui satu kebenaran tentang diri saya sendiri.

Jika ada yang bertanya mengapa saya repot-repot membedah buku Ernest Becker, menerjemahkan teori Otto Rank, kemudian menyusun kalimat demi kalimat untuk kalian baca, jujur saja alasannya tak semoralis untuk membagikan ilmu. 

Di sudut terdalam hati saya, saya dikendalikan oleh kepanikan eksistensial yang persis sama dengan Haryono di tahun 1984, sama dengan Firaun di Mesir kuno, dan sama dengan anak muda pembuat konten di media sosial.

Saya menulis ini karena saya diam-diam takut suatu hari nanti, saya hanya akan menjadi usang yang tidak lagi diingat siapa-siapa. Tulisan ini adalah cara murahan saya untuk menitipkan nyawa pada deretan teks, dengan harapan ia akan dibaca lebih lama dari sisa umur saya sendiri.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Pocong Itu Cuma Hantu Kemarin Sore di Jagad Demit Indonesia, tapi Mengapa Ia Paling Menyeramkan? atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version