Masyarakat pedesaan Jawa memang punya khazanah luas untuk menerjemahkan “gotong royong” dalam kehidupan sehari-sehari. Jika di kelompok perempuan ada tradisi “rewang”, di kalangan laki-laki ada istilah “sambatan” sebagai bentuk solidaritas, srawung, dan totalitas dalam bertetangga/bermasyarakat.
Bahkan, lebih dari itu, dalam pengalaman narasumber Mojok di sebuah desa di Rembang, Jawa Tengah, tradisi sambatan juga menjadi simbol “laki-laki berguna”.
Tradisi menyumbang tenaga simbol totalitas bertetangga
Selepas Magrib, ketika Padil (27) baru saja menuntaskan makan malam dan menghisap tembakau di teras rumah, seorang tetangga datang. Ia pikir memberi undangan tahlilan, ternyata sedang nyambat agar besok Padil turut serta menyumbang dalam bedol kandang sapi milik si tetangga.
Permintaan semacam itu cukup sering Padil terima. Terlebih, ia dan bapaknya dikenal sebagai tukang kayu dan roso (kuat). Begitulah kiranya cara mudah memahami tradisi sambatan di desa: menyumbang tenaga.
“Kalau tetangga sudah datang ke rumah nyambati, mau tidak mau besok harinya harus datang. Karena itu bentuk gotong royong totalitas dalam bertetangga dan bermasyarakat,” ujar Padil.
“Karena laki-laki di desaku rerata petani dan pekerja serabutan, mereka bisa meninggalkan urusan ladang atau pekerjaan sendiri buat datang sambatan,” imbuhnya.
Tradisi sambatan membuat pekerjaan berat jadi ringan dan jadi ruang gayeng
Sambatan sendiri diambil dari istilah bahasa Jawa yang berarti “mengeluh” atau “meminta pertolongan”. Di desa Padil di Rembang, sambatan sering kali ditujukan untuk pekerjaan-pekerjaan berat yang membutuhkan tenaga banyak orang dan harus tuntas dalam waktu sehari.
Misalnya, bedol kandang. Lima/lebih laki-laki desa (baik muda maupun dewasa) akan bareng-bareng membongkar kandang sapi milik tetangga yang sudah reyot. Lalu di hari itu juga akan langsung mendirikan yang baru.
Contoh lain, tetangga baru saja beli genteng baru untuk mengganti genteng lama di rumah, bentuk sambatannya adalah: para laki-laki yang disambati akan gotong royong membantu menurunkan genteng lama dari atap, lalu ikut membantu memasang genteng baru.
“Jadi sifatnya lebih ke pekerjaan-pekerjaan “mudah” dan ringkas. Kalau pertukangan, renovasi rumah, ngecat, itu kan tetap harus bayar tukang atau kuli. Kalau sekadar bedol kandang, pakai sistem sambatan saja,” jelas Padil.
“Contoh lain, pas tetangga punya hajatan kan, dia nyembelih kambing misalnya. Pasti ngundang tetangga—para laki-laki—buat bantu-bantu proses penyembelihan sampai pemotongan daging,” sambungnya.
Itulah kenapa sambatan lebih identik dengan laki-laki. Karena jenis pekerjaan yang dikerjakan adalah pekerjaan yang membutuhkan tenaga besar.
Padil, sebagai orang yang kerap terlibat dalam sambatan mengaku menikmati tradisi tersebut. Karena sering kali ketika para laki-laki, (terutama bapak-bapak) berkumpul itu, terbangun suasana yang gayeng karena bekerja sembari saling gojlok satu sama lain. Jelas lah, karena dalam sambatan tidak ada mandor yang mengawasi dan memaki-maki.
Upahnya cukup sarapan, rokok, dan kopi
Namanya juga sambatan (minta sumbangan tenaga), jadi memang tidak ada upah harian sebagaimana tukang atau kuli bangunan. Tapi bukan berarti “garingan” sama sekali. Standar di desa Padil, tuan rumah seminimal-minimalnya memberi suguhan sarapan, rokok, dan kopi.
“Sebelum tenaga dipakai, paling nggak dikasih amunisi dulu lah. Jadi umumnya tiga hal itu yang disuguhkan,” jelas Padil.
“Kadang ada yang juga ngasih makan siang, tapi ada pula yang buat siangnya cuma dikasih camilan seperti pisang goreng atau jajanan pasar,” sambungnya.
Tidak perlu sarapan mewah. Sering kali hanya nasi hangat, telur dadar, tempe goreng, dan urap-urapan, sudah cukup tanpa membuat para laki-laki yang ikut sambatan protes. Rokoknya pun bukan berarti satu orang satu bungkus, karena jumlahnya bisa lebih dari lima orang. Tapi beberapa bungkus rokok buat join bersama-sama.
Karena memang orang-orang di desa Padil sudah terpatri bahwa sambatan adalah bentuk solidaritas dan totalitas dalam bertetangga, sehingga mereka tetap riang-riang saja melakukan pekerjaan—misalnya bedok kandang—meski hanya dengan “upah” sarapan nasi telur+urap-urapan.
Sebab, kata Padil, para warga sudah saling menyadari: saat ini mungkin tetangga lah yang nyambat. Namun, tidak menutup kemungkinan di lain waktu kita bakal nyambat juga.
Tradisi sambatan di desa jadi simbol laki-laki berguna
Jika Padil punya skill dasar soal “kerja kasar”, maka beda kasusnya dengan Ozan (25)—juga pemuda asal Rembang, sehingga punya cerita yang berbeda perihal tradisi gotong royong khusus laki-laki di desa ini.
Ozan tidak terbiasa dengan pekerjaan kasar. Namun, bukan berarti ia akan dilewati begitu saja kalau ada undangan sambatan. Sebab, konsep sambatan adalah: pokoknya kamu laki-laki dan ada di rumah, mau tidak mau harus terlibat.
“Sambatan jadi seperti pembuktian, kita ini jadi laki-laki berguna nggak,” ungkap Ozan.
Masalahnya, definisi laki-laki berguna dalam perspektif masyarakat desa adalah harus bisa pekerjaan kasar yang menuntut kekuatan fisik ekstra. Inilah hal yang tidak dimiliki Ozan sebagai pekerja dalam ruangan.
Alhasil, Ozan kerap gelagapan tiap ada tetangga yang datang nyambat. Tapi karena tidak bisa menolak, ia pun hanya bisa menjawab “nggeh-nggeh” saja.
“Kalau sekadar angkat-angkat ya bisa lah. Tapi aku pernah diminta memalu paku gitu. Karena aku nggak pernah, kan nggak presisi. Terus keluar lah celetukan dan ceng-cengan, ‘Masa laki-laki malu aja nggak bisa’, itu membuatku merasa nggak berguna gitu jadi laki-laki,” cerita Ozan.
Apalagi saat sambatan bareng dengan teman sebaya yang cenderung serba bisa seperti Padil. Celetukan ala medsos pasti keluar, seperti “Diam tolah-toleh, bergerak salah kabeh”, membuat Ozan semakin merasa malu bahkan overthinking sepulang dari sambatan: takut jadi rasan-rasan.
Sehingga, berbeda dengan Padil yang selalu tanggap dan tidak ogah-ogahan untuk ikut sambatan, Ozan justru selalu dibuat overthinking ketika harus mengikutinya, berangkat dengan bayang-bayang: hal memalukan seperti apa lagi yang akan menimpa dirinya.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Pernikahan Terutama di Desa Memberi Beban Lebih Berat ke Perempuan, Jadi Dasar Gen Z Tak Menikah karena Tak Sanggup Membayangkan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
