Tumbuh di Desa dengan Tradisi Keagamaan yang Kental, Saya Justru Menemukan Kedamaian di Muhammadiyah dengan Rasionalitasnya

Lahir di lingkungan NU tapi justru menemukan kedamaian di Muhammadiyah. MOJOK.CO

ilustrasi - menemukan kedamaian di Muhammadiyah. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Lahir dan besar di lingkungan desa yang kental dengan tradisi keagamaan, tidak lantas membuat perjalanan spiritual beberapa pemuda ini berjalan mulus. Berawal dari krisis identitas dan fenomena “Islam KTP”, mereka memilih belajar lebih dalam soal Islam terutama ajaran Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah sebagai organisasi terbesar di Indonesia.

Berat hati pergi ke langgar untuk mengaji

Ibarat sinetron religi “Para Pencari Tuhan”, Ayut (22) melihat sendiri fenomena aneh di keluarganya yang menyandang status “Islam KTP”. Istilah ini muncul bagi orang yang memiliki status agama Islam di KTP tapi tidak rajin menjalankan ibadah dalam kehidupan sehari-hari. 

Bagaimana tidak, Ayut yang terlahir dari keluarga Islam, melihat sendiri bagaimana bapaknya tidak pernah salat di rumah. Begitu pula ibunya, yang salat masih bolong-bolong dan neneknya yang salat tapi belum berjilbab dalam kehidupan sehari-hari.

“Jadi ya nggak bisa dibilang agamis. Nggak bisa juga dibilang anggota NU atau Muhammadiyah walaupun sejak kecil aku banyak menyerap ajaran NU,” tegas Ayut saat dihubungi Mojok, Minggu (2/8/2026).

Masalahnya, Ayut yang sejak kecil belajar di madrasah dituntut untuk melaksanakan salat sebagai tiang agama. Tidak hanya salat lima waktu, dia juga disuruh pergi ke langgar tidak peduli hujan, mati lampu, atau gelap saat malam. 

“Sepulang sekolah aku selalu disuruh ke madrasah yang kental dengan ajaran NU, mulai dari jam 14.00 WIB sampai 17.00 WIB. Aku nggak boleh nonton TV atau main di rumah. Pokoknya harus salat dan mengaji,” ucapnya.

Hilang arah saat remaja hingga mengenal Muhammadiyah

Bukannya semakin taat beribadah, Ayut justru kehilangan arah saat remaja. Bahkan dia ragu dengan ajaran agama Islam yang dia pelajari selama ini. Ayut yang lahir di lingkungan pedesaan dengan tradisi keagamaan yang kuat, terkadang merasa kurang nyaman dengan sentimen warganya terhadap orang yang memiliki cara ibadah berbeda.

Misalnya begini, ada tetangganya yang selesai salat berjamaah di masjid tidak ikut zikir bersama dan langsung pulang. Sontak, tetangganya itu langsung dicap aneh oleh warga desa karena tidak melakukan ibadah seperti mayoritas warga di sana.

Namun, Ayut sendiri tidak tahu pasti tentang status tetangganya itu, apakah dia pengikut NU atau Muhammadiyah. Yang jelas, kata Ayut, dia tidak suka dengan penilaian organisasi tertentu untuk mendiskreditkan organisasi lainnya. 

Tak jarang, Ayut merasa miris saat mendengar berita tentang oknum pemuka agama yang terjerat kasus hukum atau pelanggaran moral, seperti korupsi maupun kasus kekerasan seksual yang terjadi di pesantren. Hal itu membuatnya semakin kritis terhadap institusi agama.

“Dari sanalah aku penasaran untuk mempelajari agamaku lebih dalam, baik itu ajaran NU atau Muhammadiyah,” kata Ayut.

Kagum dengan kontribusi Muhammadiyah

Ayut bukannya menuduh jelek salah satu organisasi Islam tertentu. Namun berdasarkan pengalaman spiritualnya, dia menimbang, ada rasa syukur saat mengenal ajaran Muhammadiyah bahkan ketika orang tuanya sempat menentang.

Di tengah berbagai dinamika umat Islam, Ayut merasa bersyukur menemukan pandangan baru saat mengenal ajaran Muhammadiyah. 

“Mereka concern betul dengan riset dan pendidikan, bahkan yang aku tahu ada Muhammadiyah Australia College (MAC) di Melbourne,” kata Ayut.

Selain itu, sebagai organisasi Islam kedua terbesar di Indonesia setelah NU, Muhammadiyah pernah meraih Zayed Award for Human Fraternity 2024 atas kontribusinya dalam perdamaian dan kemanusiaan global. 

Mereka juga mengelola banyak jaringan rumah sakit, lembaga amil zakat atau Lazismu, hingga Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC). Dari situlah Ayut makin tertarik.

“Aku belum bisa mengklaim diri sebagai anggota Muhammadiyah atau nggak bisa dibilang juga anggota NU karena aku masih betul-betul belajar. Namun, aku nggak bisa memungkiri kalau Muhammadiyah berhasil mengubah mindset aku tentang Islam sebelum aku benar-benar ingin murtad,” tutur Ayut.

Adem ayem ikut pengajian Muhammadiyah

Perjalanan mengenal ajaran NU versus Muhammadiyah di masa remaja tak hanya dialami Ayut, tapi juga Regy (25) yang lahir dan besar di keluarga NU. Regy mengaku baru tertarik dengan Muhammadiyah pada tahun 2024.

“Aku punya teman yang notabenenya Muhammadiyah dan dia ngajak pengajian saat Ahad pagi di salah satu Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM),” kata Regy dikonfirmasi Mojok, Minggu (2/8/2026).

Regy yang mulanya ragu akhirnya mau-mau saja ikut kajian tersebut karena gabut. Toh, dia sebenarnya juga penasaran. Dari pengalaman pertama itu lah, dia mendapatkan kesan yang bagus.

“Pengajiannya adem ayem dan yang paling penting bebas asap rokok,” ujarnya terkekeh, “sejak saat itu saya jadi tertarik sampai mendaftar jadi anggota di tahun 2025 lalu,” kata Regy.

Keputusan itu bukanlah hal yang mudah, sebab sama seperti Ayut, orang tua Regy juga sempat menentang. Namun lambat laun, baik orang tua Ayut maupun Regy akhirnya membolehkan. Toh, keduanya sudah dewasa dan berhak memilih.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Saya Bukan Muhammadiyah atau NU, tapi Pilih Tinggal di Lingkungan Ormas Bercorak Biru agar Terhindar dari Tetangga Toxic atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version