Ara (saya) (23) sudah tinggal di Jogja selama lebih dari empat tahun. Selama itu juga, Ara sudah hilir-mudik menggunakan transportasi kereta api Indonesia (KAI). Namun baginya, Stasiun Tugu Jogja masih akan menjadi pemenangnya soal persinggahan kereta api, dibandingkan Stasiun Lempuyangan.
Lebih suka naik kereta api dari Stasiun Tugu Jogja, fasilitas nyaman dan lokasi strategis
Dalam sebulan, setidaknya Ara akan menggunakan kereta api sebanyak dua kali. Ia hampir selalu memilih Stasiun Tugu Jogja sebagai titik keberangkatannya karena beberapa pertimbangan.
Salah satunya, Ara bilang, dia merasa lebih nyaman menunggu di Stasiun Tugu Jogja.
“Buat nunggu lebih enak Tugu,” katanya kepada Mojok, Jumat (27/3/2026).
Denah Stasiun Tugu dinilai Ara lebih strategis. Lokasi pemberhentian kendaraan tak jauh dari pintu masuk, begitu juga jarak jalan kaki dari pintu masuk sampai dengan ruang tunggu.
Kemudahan ini dilengkapi juga dengan lebih banyak kursi yang berjajar bagi penumpang untuk menunggu kedatangan kereta api, yang bisa dilihat di hadapan mata. Karena alasan pertama itu, perempuan yang berprofesi sebagai pekerja swasta ini mendeklarasikan dirinya sebagai loyalis Stasiun Tugu Jogja alih-alih Stasiun Lempuyangan, sekalipun ada perbedaan harga tiket dari pemilihan stasiun keberangkatan.
Umumnya, harga tiket keberangkatan dari Stasiun Tugu lebih mahal dibandingkan Stasiun Lempuyangan. Misal, harga tiket KA kelas ekonomi dari Stasiun Tugu Jogja ke Jakarta bisa merogoh kocek sekitar Rp300 ribu. Sementara itu, harga tiket untuk kelas dan rute yang sama dari Stasiun Lempuyangan bisa didapatkan dengan kisaran Rp200 ribu.
Akan tetapi, harga tidak jadi persoalan bagi Ara.
“Aku selalu tim Tugu sih,” kata dia.
“Jarang ambil Stasiun Lempuyangan,” kata dia menambahkan.
Soal lokasi juga, dari kediaman Ara yang berada di wilayah Kaliurang, rute menuju pintu timur Stasiun Tugu terasa lebih mudah dan cepat. Ia bisa tiba di stasiun dalam waktu kurang dari 20 menit, kemacetan menuju arah sana juga tidak terlalu parah. Alhasil, Ara bisa menghemat energinya untuk tidak marah-marah sepanjang perjalanan.
“Gampang pisan [perjalanannya],” kata Ara.
Ia mengaku, dalam hal mempersiapkan diri untuk berangkat sama menikmati perjalanan menuju stasiun, lebih santai apabila berangkat dari Stasiun Tugu Jogja.
“Aku selalu santai [berangkat ke stasiun], kecuali Lempuyangan,” kata dia.
Stasiun Lempuyangan penuh keribetan
Ketika ditanya permasalahan yang membuatnya menghindari Stasiun Lempuyangan sebisa mungkin, Ara memberikan sederet alasan. Dimulai dari ketersediaan tempat duduk bagi penumpang untuk menunggu.
“Tempat duduk nggak banyak,” ujarnya.
Selain itu, Ara menambahkan persoalan yang paling tidak disukainya, yakni titik penjemputan yang kerap bermasalah. Ia tidak jarang harus menghadapi serangkaian masalah hanya untuk dapat keluar dari Stasiun Lempuyangan.
“Titik penjemputan kadang juga agak susah. Ojek online harus jalan ke Tugu Lilin pertigaan, atau kalau lebih ekstrem lagi disuruh jalan ke bawah fly over,” ujarnya.
Padahal, Ara mengaku seringnya sudah merasa lelah akibat perjalanan panjang. Berjalan kaki sampai ke titik penjemputan agar bisa keluar dari hiruk-pikuk Stasiun Lempuyangan seakan-akan menambahkan beban tersendiri baginya.
“Males banget,” akunya.
“Mobil aja kadang jemput nggak boleh depan pintu keluar. Ada beberapa ojek online bilang begitu,” tambah dia.
Akibat ketidakteraturan itu, Ara harus menanggung “ribetnya” sendiri dengan menahan lelah dan menyeret koper, serta barang bawaan yang tak ringan menuju lokasi penjemputan. Hasilnya, rasa lelah akibat perjalanan Ara berlipat ganda.
Stasiun Tugu juga macet dan ramai, tapi lebih manusiawi
Meski begitu, bukan berarti Ara akan telah cinta buta kepada Stasiun Tugu. Ia mengaku hanya membela pintu keberangkatan via pintu timur, sedangkan via Jalan Pasar Kembang keluar dari daftar pembelaannya.
Ara bilang, dirinya juga tidak begitu menyukai rute keberangkatan dari Stasiun Tugu via Sarkem—atau bisa disebut juga sebagai Stasiun Besar Jogja.
“Aku malasnya kalau di Tugu, misal lewat Jalan Pasar Kembang itu sih susah dan muter, apalagi sekarang jembatannya udah dibuang kan,” ujar dia.
“Tapi karena aku seringnya jarak jauh, jadi selalu pakai pintu timur,” tambah Ara.
Sebagai pengguna kereta api, yang lebih jarang ketimbang Ara, pintu timur Stasiun Tugu Jogja memang lebih baik untuk keberangkatan. Pengemudi kendaraan online yang saya temui, rata-rata, tidak banyak komplain soal berangkat mepet melalui pintu masuk ini—meski berangkat mepet sendiri sudah patut dirutuki.
Sementara itu, rute keluar Stasiun Tugu yang mau tidak mau mengharuskan penumpang melalui Stasiun Besar Jogja tidak juga menjadi masalah. Ia tidak terlalu mempersoalkan keharusan berputar dari pintu keluar kereta api, melewati terowongan, sampai harus menunggu jemputan bersama keramaian penumpang kereta api di Stasiun Tugu.
Seperti yang dikatakan Ara, ramainya orang-orang yang menunggu di area stasiun sampai pinggir jalan terasa lebih santai.
“Pasti dapat ojek,” adalah prinsipnya.
Diyakinkan dengan ojek online maupun kendaraan online roda empat yang bisa langsung menjemput sesuai dengan titik lokasi.
Penulis: Shofiatunnisa Azizah
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Pintu Timur Stasiun Tugu Jogja Nggak Cocok untuk User Eksekutif Nirempati dan Ojol yang Kesabarannya Setipis Tisu dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
