“Wong kok ora tau srawung, mengko nek mati kuburanmu keduk dewe (Orang kok nggak pernah srawung, nanti kalau mati kuburanmu gali sendiri).” Entah dengan nada bercanda atau serius, ungkapan yang akrab terdengar di desa itu dulu terdengar menakutkan.
Bagi Nasihin (25), pemuda asal Pati, Jawa Tengah, ungkapan tersebut membuatnya tidak pernah punya keberanian untuk menolak kumpul-kumpul dengan teman-teman desanya. Meski sebenarnya ia dalam kondisi sangat lelah atau ingin berdiam diri di rumah.
“Misalnya, kalau aku pulang ke Pati terus kelihatan sama teman-teman pemuda desa, kan pasti diajak kumpul tuh. Nah, kalau aku bilang nggak bisa, pasti langsung kena ulti begitu. Akhirnya terpaksa kumpul-kumpul, dengan setengah hati,” ungkap pemuda yang menghabiskan masa kuliah hingga kerjanya di Jogja itu, Kamis (3/9/2026).
“Sombong sekarang nggak mau kumpul orang desa.”
“Seluas-luasnya laut, masih luas alasanmu (buat nggak ikut kumpul).”
“Iya nggak mau srawung, nanti kalau mati mandi-mandi sendiri ya, pakai kafan sendiri, gali-gali sendiri kuburanmu.” Begitu ungkapan-ungkapan yang sontak membuat Nasihin putar balik.
Menakutkan karena bayangan kematian ideal
Kenapa ungkapan-ungkapan semacam itu terkesan menakutkan bagi Nasihin?
Begini, Nasihin mengaku selalu terenyuh ketika melihat kematian seseorang yang diantar banyak orang dan terutama teman-teman dekat, entah tokoh publik maupun orang di desanya sendiri. Mereka yang datang tidak hanya untuk berkabung, tapi benar-benar gotong royong dalam proses memulasara jenazah orang tersebut.
“Kenapa sampai sebegitunya? Karena orang yang meninggal itu dikenal dekat dengan teman-temannya. Gampang srawung, dan punya tabungan relasi sosial yang baik,” kata Nasihin.
Nasihin jelas takut menyongsong kematian (perihal apa yang bakal terjadi setelah jenazah dikebumikan). Namun, ia mengaku lebih takut kelak meninggal dalam kondisi “diasingkan”: teman-temannya tidak berbondong-bondong mengantarkannya dengan penuh ketulusan, hanya karena ia kerap menolak ajakan kumpul-kumpul di desa.
Sialnya, srawung di desa malah kena crab mentality
Bukan tanpa alasan kenapa Nasihin terkesan ogah srawung dengan teman-teman desanya di Pati. Sebelum itu, ia menggarisbawahi bahwa apa yang ia rasakan bisa jadi keliru atau berseberangan dengan apa yang terjadi di desa-desa lain.
Meninggalkan kampung halaman untuk kuliah hingga kini bekerja, Nasihin mengaku kerap berhadapan dengan crab mentality dari sejumlah temannya, yang memang menghabiskan sebagian besar hidupnya di Pati alias tidak ke mana-mana.
“Misalnya, dulu waktu mau kuliah, omongan-omongan mereka: Memangnya mau jadi apa sih kuliah segala? Ah kuliah bukannya cuma habiskan uang. Jauh-jauh ke Jogja buat kuliah, mau jadi menteri kamu?” Beber Nasihin.
Semasa kuliah pun crab mentality semacam itu masih kerap Nasihin terima, dan berlanjut sampai ia bekerja.
Karena nyaman di Jogja, Nasihin memang jarang pulang. Sekali pulang—dan ketahuan oleh teman-temannya di desa—ia pasti menyempatkan srawung barang sebentar. Masalahnya, selalu saja ada tendensi teman-teman desanya seolah tidak suka kalau ia melangkah lebih jauh.
“Kerja jauh-jauh di sana mau cari apa sih? Wong rezeki sudah diatur sama Gusti Allah kok. Kami yang di desa nyatanya tetap bisa makan,” begitu salah satu ungkapan crab mentality yang Nasihin terima, yang membuatnya semakin tidak nyaman untuk srawung.
Srawung di desa buang-buang waktu dan tulari habit negatif
Belum lagi, bagi Nasihin, srawung dengan teman-temannya di desa menjadi toksik karena habit negatif.
Sebenarnya jika berbincang ngalor-ngidul tanpa arah bisa Nasihin maklumi. Karena serunya kumpul-kumpul dengan sebaya kan memang di situ. Hanya saja, ada bagian-bagian menyebalkan yang tidak sejalan dengan nurani Nasihin.
“Ya seperti rasan-rasan soal perempuan cantik di desa, terus berfantasi aneh-aneh soal si perempuan. Kalau sesekali mereka minum (miras) ya udah lah bukan soal. Tapi aku nggak bisa toleransi kalau udah hp miring. Maksudnya ngasih makan naga, judi slot,” ungkap Nasihin.
Sejumlah pemuda desa, termasuk di lingkaran pertemanan Nasihin, saat ini memang sudah terpapar judi slot. Tiada hari tanpa memberi makan naga, bertaruh atas nama Dewa Zeus.
Kecanduan mereka sudah di tahap sangat akut. Sebab, Nasihin sudah beberapa kali menasihati. Apalagi memang sudah terbukti ada satu teman yang hidupnya berantakan karena kecanduan mainan haram tersebut. Bukannya berhenti, mereka malah beralasan, “Sekali dapat jackpot, nggak usah capek-capek kerja.”
Gali kubur sendiri kini bukan ungkapan menakutkan lagi
Semakin ke sini Nasihin mengaku lebih nothing to lose dengan omongan teman-temannya di desa. Setiap pulang ke Pati, Nasihin kini lebih berani terbuka menolak ajakan kumpul-kumpul jika memang ia sedang tidak ingin kumpul.
“Kadang butuh me time di rumah, kadang juga butuh quality time sama keluarga. Karena kan memang pulang buat recharge energi setelah kesumpekan-kesumpekan pekerjaan di perantauan. Jadi udah nggak begitu peduli dengan omongan atau kesan teman di desa kepadaku,” beber Nasihin.
Ia juga tidak lagi takut membayangkan jika meninggal dalam situasi tidak diantar oleh teman-temannya, yang selama ini ia bayangkan hal itu menunjukkan kesan kalau ia hidup tanpa punya teman. Toh ia masih punya keluarga yang pasti akan memulasara.
“Ya masa nggak ada yang memulasara. Kalau obrolan dengan teman-teman di Jogja: Loh, memulasara jenazah itu kan fardu kifayah. Artinya, dalam satu desa, minimal ada yang menjalankan. Kalau nggak ada sama sekali, seluruh penduduk desa yang berdosa, hahaha,” ujar Nasihin.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Orang Miskin di Desa Nekat Utang buat Gaya Hidup: Gara-gara Putus Asa dan Muak Diinjak-injak Mulut Tetangga atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
