Punya privilege di Jogja bukan sekadar punya orang dalam atau punya tanah warisan yang tidak habis dibagi tujuh turunan. Namun, tidak diburu dengan pertanyaan “kapan menikah?” juga merupakan privilege yang tidak semua orang Jogja rasakan.
***
Apri (35) sedang duduk santai di sebuah angkringan di Gamping, Sleman. Tidak ada cincin di jarinya. Tidak ada cerita soal calon pasangan. Tidak ada pula target kapan ia akan menikah. Usia 35 tahun mungkin sudah cukup untuk membuat sebagian orang Jogja mulai bertanya, “Kapan menikah?” Namun, pertanyaan semacam itu justru jarang menghampiri Apri.
Ia tinggal di sebuah desa di Gamping yang menurut ceritanya tidak terlalu sibuk mengurusi keputusan anak muda soal pernikahan. Di sana, Apri bukan satu-satunya orang yang belum menikah. Ada puluhan anak muda lain yang juga belum buru-buru membangun keluarga.
Padahal, secara ekonomi, Apri sebenarnya punya modal yang cukup. Ia sudah mempunyai rumah, pekerjaan yang menurutnya memang bergaji kecil tetapi tetap, serta sawah warisan keluarga. Kalau ukuran kesiapan menikah hanya soal kepemilikan rumah dan pekerjaan, Apri mestinya tidak punya banyak alasan untuk menunda.
Bagi Apri, menikah bukan kewajiban yang harus segera dituntaskan
“Kalau saya menikah hanya untuk punya anak, saya sudah punya banyak keponakan, kecil-kecil dan lucu juga,” kata Apri kepada saya, Jumat (25/09/2026).
Ia tidak sedang mengatakan bahwa dirinya menolak pernikahan. Ia hanya tidak melihat alasan untuk terburu-buru. Bagi Apri, menikah juga bukan tabungan masa depan yang otomatis menjamin seseorang akan mempunyai teman ketika tua.
“Kalau ukuran ‘harus’ menikah adalah biar ada yang merawat ketika masa tua, insya Allah saya bisa sendiri. Jadi, ya saya rasa tidak ada urgensi untuk saya segera menikah,” ujarnya.
Buat sebagian orang, keputusan seperti itu mungkin terdengar egois. Namun, Apri justru melihatnya sebagai keputusan yang masuk akal selama ia mampu bertanggung jawab atas hidupnya sendiri.
Di desa tempatnya tinggal, pilihan itu juga tidak menjadi bahan pembicaraan panjang. Tidak ada tetangga yang terus-menerus menanyakan kapan ia menikah. Tidak ada pula tuntutan agar rumah yang sudah ia miliki segera diisi pasangan dan anak. Di titik inilah Apri merasa beruntung.
Banyak anak muda yang tidak merasa harus cepat-cepat menikah
Di ujung meja yang sama, Dani (26) ikut bercerita. Situasinya sedikit berbeda dari Apri. Dani belum memiliki rumah sendiri. Namun, ia sudah mempunyai pekerjaan tetap meski penghasilannya masih sekitar upah minimum. Kalau memakai ukuran sederhana, Dani juga sudah punya pekerjaan dan penghasilan. Tetapi dua hal itu belum otomatis membuatnya ingin menikah.
“Buat apa cepat-cepat menikah, nanti malah nggak bebas, harus di rumah terus, nggak seru,” ujar Dani.
Kalimat itu terdengar ringan, tetapi menunjukkan satu hal penting: bagi Dani, menikah bukan sekadar perkara sudah cukup umur dan punya penghasilan. Ia masih ingin menjalani hidupnya tanpa terburu-buru menambah tanggung jawab keluarga.
Yang menarik, ia tidak harus berhadapan dengan tekanan sosial yang besar karena keputusan tersebut. Dani dan Apri sama-sama tumbuh dalam lingkungan yang memberi ruang kepada anak muda untuk menentukan sendiri kapan mereka ingin menikah.
Di Jogja, menikah sering dianggap soal umur dan kesiapan ekonomi
Tekanan untuk menikah memang tidak selalu datang dalam bentuk perintah orang tua. Kadang ia muncul dari pertanyaan tetangga, candaan keluarga, atau komentar sederhana tentang usia.
“Sudah berumur kok nggak segera menikah?”
Atau bagi perempuan, pertanyaan yang lebih menyakitkan seperti kapan menikah sebelum disebut “perawan tua”. Tetapi pengalaman Apri dan Dani menunjukkan bahwa tekanan tersebut tidak selalu muncul dengan intensitas yang sama di setiap kampung. Mereka justru hidup di lingkungan yang membiarkan anak mudanya memilih.
Kondisi itu menarik jika ditempatkan dalam konteks data perkawinan. Badan Pusat Statistik DIY mencatat pada 2025 proporsi perempuan usia 20–24 tahun di DIY yang pernah kawin atau hidup bersama sebelum usia 18 tahun sebesar 0,79 persen. Angka tersebut termasuk rendah dibandingkan banyak provinsi lain.
Angka tersebut tentu tidak bisa digunakan untuk menyimpulkan bahwa semua orang Jogja menunda pernikahan. Namun, pengalaman Apri dan Dani menunjukkan bahwa keputusan menikah semakin bisa dinegosiasikan sebagai pilihan pribadi, setidaknya di lingkungan mereka.
“In this economy”, menunda menikah di Jogja bisa jadi cara bertahan
Percakapan kami akhirnya sampai pada alasan yang lebih praktis: uang. Apri dan Dani sepakat bahwa menikah tanpa persiapan matang justru bisa menciptakan masalah baru.
“In this economy, keputusan tidak menikah terlebih dahulu adalah keputusan yang bijak. Bukan berarti tidak mikir, tapi kami merasa bahwa menikah tanpa persiapan lahir batin juga malah bikin makin suram,” ujar mereka.
Bagi mereka, menikah bukan cuma perkara akad, pesta, kemudian tinggal serumah. Ada biaya rumah tangga, kebutuhan sehari-hari, kesehatan, tempat tinggal, dan berbagai kebutuhan lain yang muncul setelah dua orang memutuskan hidup bersama.
“Daripada nanti habis nikah malah menumpuk hutang karena belum siap, kan ya?” kata mereka sambil tersenyum.
Di tengah biaya hidup yang terus berjalan, keputusan menunda menikah tidak selalu lahir dari ketakutan terhadap komitmen. Kadang keputusan itu justru lahir dari kesadaran bahwa komitmen membutuhkan persiapan.
Privilege terbesar mereka justru bukan rumah atau pekerjaan
Apri punya rumah. Dani punya pekerjaan tetap. Keduanya juga hidup di lingkungan yang relatif aman secara sosial untuk mengambil keputusan sendiri. Namun, dari semua itu, ada satu hal yang mungkin lebih mahal: mereka tidak terus-menerus diburu untuk menikah.
Mereka bisa berusia 35 atau 26 tahun tanpa harus menjelaskan status hubungan kepada satu kampung. Bisa jadi, inilah privilege yang sering luput dibicarakan ketika orang membahas pernikahan di Jogja.
Bukan semua orang tidak ingin menikah. Bukan pula semua orang tidak mampu menikah. Sebagian orang hanya beruntung tinggal di lingkungan yang tidak menjadikan pernikahan sebagai tenggat waktu kehidupan. Dan bagi Apri serta Dani, untuk sementara waktu, hidup tanpa terburu-buru menikah sudah cukup.
Penulis: Janu Wisnanto
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Amplop Sumbangan Pernikahan: Hutang Sosial di Jogja yang Bikin Nelangsa dan Tidak Bisa Disudahi Begitu Saja dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan