Menjadi people pleaser, alias “orang nggak enakan” itu bikin susah diri sendiri. Mereka terus-terusan diperas uang dan energinya oleh teman tak tahu diri. Namun, mereka juga kesulitan buat cut-off cuma karena merasa segan.
***
Baru-baru ini, linimasa media sosial Threads ramai oleh sebuah curhatan yang bikin banyak orang naik darah. Seorang pekerja menceritakan nasib apesnya karena telanjur dikelilingi oleh teman-teman yang tidak tahu diri.
Padahal, mereka belum genap setahun saling kenal, tapi kelakuan teman-temannya sudah seperti tidak punya aturan sama sekali.
Bayangkan saja, teman-temannya sering masuk kamar kos tanpa permisi, meminjam barang tanpa bilang-bilang terlebih dahulu, hingga sangat lancang mencampuri urusan pribadi. Bahkan, urusan asmara yang tak pernah ia mintai saran pun ikut dikomentari seenaknya.
Curhatan itu langsung diserbu ribuan komentar dari netizen yang ikut emosi melihat tidak adanya batasan privasi dalam pertemanan tersebut.
Bagi orang nggak enakan, menolak itu susahnya setengah mati
Bagi kebanyakan orang, menghadapi teman yang bertingkah seperti parasit tadi, solusinya tinggal tegur dengan keras, atau marah sekalian. Namun, siksaan ini akan terasa berkali-kali lipat lebih parah jika korbannya adalah tipe people pleaser atau orang “nggak enakan”.
Nasib buruk inilah yang menjadi makanan sehari-hari Alvin (23). Sebagai mahasiswa tingkat akhir di sebuah kampus swasta di Jogja yang juga menyambi bekerja, ia sering kali merasa terjebak dalam rasa sungkan.
Menurut Alvin, bagi orang biasa, mengucapkan kata “tidak” untuk menolak permintaan orang lain sama mudahnya dengan membalik telapak tangan. Namun, bagi seorang people pleaser sepertinya, menolak itu susahnya setengah mati.
“Di kepalaku itu selalu berputar ribuan pertimbangan. Pikiran-pikiran liar. Kalau aku tolak jangan-jangan bakal begini, jangan-jangan bakal begitu,” ujarnya, Senin (12/10/2026).
Pendeknya, ia terlalu takut menyakiti hati orang lain, takut dinilai sebagai teman yang jahat, hingga cemas akan merusak pertemanan.
People pleaser habis tenaganya untuk memaklumi kelakuan toksik teman-temannya
Apa yang dikeluhkan di Threads tadi, seperti kamar kos dimasuki sembarangan, barang dipakai tanpa izin, dan privasi yang terus diinjak-injak, adalah makanan Alvin sehari-hari.
Kondisinya makin sulit karena di kontrakannya, Alvin adalah penghuni yang usianya paling muda. Ia juga satu-satunya yang masih berstatus mahasiswa, sementara kawan-kawan satu kontrakannya yang lain sudah bekerja kantoran.
Perbedaan umur dan status sosial ini secara tidak langsung menciptakan sebuah relasi kuasa yang membuat nyali Alvin semakin ciut.
“Rasanya kayak ada segan yang susah banget dijelasin. Kalau mau negur mereka pas lagi berisik malam-malam, atau pas mereka asal pakai barang pribadiku, aku malah mikir panjang. Ujung-ujungnya aku yang milih diam dan ngalah aja,” tuturnya.
Menghadapi orang-orang yang tidak paham batasan ini membuat energi batin Alvin terkuras habis. Alih-alih bisa beristirahat dengan tenang setelah seharian pusing mengurus skripsi dan bekerja, ia justru harus terus-terusan memaklumi kelakuan teman-temannya yang bertindak semaunya sendiri.
People pleaser mudah ngasih utang, tapi segan buat nagih
Urusan menguras energi dan privasi yang dilanggar barangkali masih bisa ditahan oleh Alvin. Namun, ia mengaku batas kesabarannya benar-benar diuji sampai di titik paling muak kalau urusannya sudah merembet ke soal pinjam-meminjam uang.
Sifat people pleaser yang ada dalam diri Alvin seolah menjadi kelemahan empuk yang terus-menerus dieksploitasi oleh teman-temannya. Ia sangat kesulitan menolak saat mereka datang meminjam uang.
Sekalipun Alvin sedang butuh uang itu untuk keperluannya sendiri dan punya alasan kuat untuk menolak, teman-temannya selalu punya “jurus” untuk memanipulasi rasa iba.
“Ada aja alasannya biar aku luluh. Bilang buat bantu ekonomi keluarga lah, adiknya harus segera bayar uang sekolah, sampai alasan ada keluarga di kampung yang sakit dan butuh biaya darurat,” ungkap Alvin.
“Kalau udah bawa-bawa keluarga, orang kayak aku mana tega nolak,” akunya pasrah.
Sialnya, belas kasihan yang ia berikan jarang berbalas manis. Setiap kali tiba waktunya menagih utang, Alvin justru harus mengemis seolah-olah ia yang sedang butuh pinjaman.
“Itu pun kalau aku tega nagih.”
Ia bercerita, beberapa temannya selalu menghindar dengan beragam alasan yang berbelit-belit. Bahkan, ada satu temannya yang bahkan sampai pindah kontrakan pun, utangnya belum juga dibayar.
Susah untuk cut-off teman parasit
Menghadapi benalu-benalu ini, solusi paling pas memang membuang mereka jauh-jauh dari hidup kita. Persis seperti ribuan saran dari netizen di kolom balasan Threads:
“Langsung cut-off aja!”
Bahkan, banyak yang menyarankan, “Kalau ada utang, ikhlaskan saja, yang penting bisa lepas dari manusia-manusia beban itu.”
Saran itu memang sangat mudah diketik dan diucapkan. Namun, bagi Alvin dan para people pleaser lainnya, memutus tali pertemanan rasanya sama mustahilnya dengan menagih utang.
Ada belenggu rasa bersalah yang anehnya justru bersarang kuat di kepala pihak yang jelas-jelas dirugikan.
Alvin sangat sadar bahwa kebaikannya selama ini hanya diperalat. Ia juga tahu persis bahwa mempertahankan teman-teman tak tahu diri itu hanya akan terus menggerogoti kewarasan mental dan isi dompetnya perlahan-lahan.
“Pengin banget rasanya berani blokir nomor, negur keras di depan mukanya. Tapi tiap kali mau ngelakuin itu, aku malah kepikiran, ‘Kasihan, nanti kalau dia beneran lagi susah gimana?’ Akhirnya ya aku lagi yang sebel sendirian,” pungkasnya.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Punya Rumah yang Jadi Tongkrongan Pemuda di Desa: Dikira Tak Nyaman karena Berisik, padahal Menikmati Banyak Manfaat atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan