Pelarian Laki-laki Burnout usai Dihantam Pekerjaan tapi Dipaksa Kuat karena Tuntutan Kepala Keluarga Ideal

ilustrasi - pekerja (Ega Fansuri/Mojok.co)

ilustrasi - pekerja (Ega Fansuri/Mojok.co)

Peran menjadi kepala keluarga ternyata adalah peran berat yang harus dijalani oleh laki-laki. Sebab, dengan peran tersebut lelaki seolah dipaksa untuk tetap kuat meski sudah lelah dan burnout. Hingga akhirnya menulis sebuah buku untuk meluapkan rasa mumet dan stresnya.

Dihantam realitas, bapak-bapak juga bisa burnout

Menjalani peran sebagai kepala keluarga tak ayal adalah peran melelahkan yang dijalani banyak lelaki di luar sana. Bapak-bapak harus menjalani banyak peran sekaligus. 

Di kantor, menjadi pekerja keras, di rumah menjadi bapak dan suami yang baik. 

Dari peran-peran tersebut, sebagian bapak jarang memiliki ruang ekspresif untuk sekadar menaruh segala lelahnya. Kalau anak muda memiliki kursi indomaret untuk bengong dan menyelami dunianya, sebagian bapak-bapak tidak bisa seperti itu. 

Entah karena gengsi atau memang malu untuk mengakui kalau sebenarnya mereka lelah.

Akumulasi kelelahan itu yang akhirnya menjadikan banyak kepala keluarga menjadi burnout dan stres. Dalam pengertian umumnya, burnout adalah kondisi kelelahan fisik dan mental seseorang hingga berdampak kepada motivasi dan kinerja.

Hal yang sama juga dialami oleh kawan saya yang baru saja menerbitkan sebuah buku reflektif berjudul “Jeda Sebat(ang): Bicara di Balik Asap”. Andry Prasetiyo (37) adalah sosok kepala keluarga yang memiliki beban cukup komplek. Dihantam realitas pekerjaan yang melelahkan dan harus menjalani peran sebagai bapak yang ideal.

Buku sebagai pelarian dan pengakuan kelelahan, capek tapi tetap berkarya 

Jika mungkin laki-laki dan kepala keluarga di luar sana “melarikan diri” dengan memancing, nongkrong, atau sekadar berkeliling tanpa tujuan, Andry menjadikan menulis buku sebagai salah satu pelariannya. 

Menurut Andry, buku yang ia tulis adalah “ruang jujur” untuk menumpahkan kepenatan, keresahan, dan rasa mumet yang ia sembunyikan di balik topeng profesionalisme kerja. Sebab, menjadi profesional juga bisa berarti harus pandai bermain topeng “baik-baik saja”.

“Karena jujur saja saya suka menulis, maka saya tumpahkan mumet, lelah, dan rasa sumpek saya lewat tulisan.” Ujar bapak satu anak tersebut, Kamis (20/08/2026).

Senada dengan apa yang Andry katakan, salah satu penelitian juga menunjukkan bahwa menulis adalah cara yang ampuh dan dilakukan orang-orang untuk tetap menjaga kewarasannya.

Ketika pekerjaan merampas momen yang tidak bisa diambil ulang

Salah satu pengalaman yang membuatnya mengalami burnout justru datang dari benturan antara pekerjaan dan peran sebagai kepala keluarga.

Ia pernah berada dalam situasi ketika tuntutan pekerjaan membuatnya harus meninggalkan momen kelahiran anak.

Momen yang seharusnya menjadi pengalaman personal sebagai seorang ayah harus berhadapan dengan pekerjaan yang mendesak.

Di sisi lain, ia juga harus mendampingi orang tua berobat. Proses tersebut membawanya masuk ke dalam labirin birokrasi kesehatan yang rumit. Pada saat yang sama, pekerjaannya menuntut dirinya untuk selalu siap sedia.

Di titik itu, persoalannya bukan sekadar banyaknya pekerjaan. Ada dua peran yang sama-sama meminta kehadiran: sebagai pekerja dan sebagai kepala keluarga.

Ia harus menjadi anak ketika orang tuanya membutuhkan bantuan. Ia juga harus menjadi ayah ketika anaknya membutuhkan kehadiran. Tetapi dunia kerja seolah tidak mengenal jeda.

Situasi semacam ini memperlihatkan persoalan lain yang kerap luput ketika membicarakan kesehatan mental laki-laki.

Laki-laki sebagai kepala keluarga sering diposisikan sebagai orang yang harus kuat. Ia menjadi tempat keluarga bergantung, tetapi jarang ditanya siapa tempat ia sendiri bersandar.

Di media sosial, percakapan soal laki-laki yang burnout juga banyak bersliweran. Pengalaman tersebut menunjukkan bagaimana tuntutan untuk selalu kuat bisa membuat seseorang kehilangan ruang untuk mengenali dirinya sendiri.

Menulis buku untuk merasa “pulang” sebagai manusia seutuhnya

Dari pengalaman melelahkan menjadi kepala keluarga tersebut, buku yang Andry tulis kemudian berbicara tentang “pulang”.

Pulang yang dimaksud bukan sekadar kembali ke rumah setelah seharian bekerja. Pulang adalah menemukan ruang batin untuk berdamai dengan diri sendiri, keluarga, dan Tuhan setelah seseorang merasa lelah dan kehilangan arah karena ambisi.

Gagasan itu menjadi penting karena kehidupan orang dewasa sering kali dipenuhi target. Mengejar karir, memenuhi kebutuhan keluarga, menjadi anak yang bertanggung jawab, menjadi pasangan yang baik, dan menjadi orang tua yang hadir.

Buku itu kemudian diharapkan menjadi teman bagi siapa saja yang sedang berada di “lorong gelap” kegelisahan. Bukan sebagai jawaban tunggal, melainkan sebagai ruang untuk mengakui bahwa patah hati, kegagalan, kelelahan, dan kebingungan juga bagian dari kehidupan.

Terutama bagi para bapak dan laki-laki yang selama ini merasa harus selalu kuat.

Sebab mengakui lelah bukan berarti gagal menjadi laki-laki. Meminta ruang untuk bernapas juga bukan berarti meninggalkan tanggung jawab.

Justru, mungkin seseorang perlu berhenti sebentar agar bisa kembali menjalani hidup tanpa terus-menerus berpura-pura baik-baik saja.

Pada akhirnya, Andry hanya ingin bukunya menjadi pengingat bahwa manusia tidak harus selalu berlari.

“Sebab pada akhirnya, kita semua hanyalah musafir yang sedang mencari jalan kembali ke titik paling hakiki. Sebuah ruang suci di dalam batin, tempat di mana kita diterima apa adanya, tanpa syarat oleh Pemilik semesta.” salah satu kutipan di bukunya.

Mungkin, bagi sebagian kepala keluarga, “pulang” memang bukan sekadar kembali ke rumah. Pulang adalah ketika untuk pertama kalinya mereka berani jujur kepada diri sendiri bahwa mereka mumet dan stres hingga burnout.

Penulis: Janu Wisnanto

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Mencintai Pekerjaan Tanpa Harus Menyukai Orang-orang di Dalamnya atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version